Dampak itu terasa oleh Dila, teman Tuli anggota Gerkatin. Ia tidak kesulitan untuk datang ke Starbucks Signing Store Tata Puri.
Selain itu, saat kali pertama datang ke Signing Store, ia melihat banyak barista teman Tuli bekerja dalam satu ruang. Pengalaman itu memberinya rasa nyaman dan aman yang jarang ia temui di ruang publik lain.
“Rasanya campur aduk. Senang, karena akhirnya ada ruang kerja yang aman dan inklusif (buat teman Tuli),” ujarnya.
Bagi Dila, Signing Store bukan sekadar tempat minum kopi. Gerai ini menjadi ruang berkumpul dan berinteraksi tanpa harus terus-menerus menyesuaikan diri.
Hal serupa dirasakan Faris, anggota Gerkatin lain yang datang dari luar Jakarta.
“Yang paling terasa, kesempatan kerja untuk teman Tuli di sini nyata. Bukan satu atau dua orang,” kata Faris.
Menurutnya, di Signing Store, pertemuan antara teman Tuli dan orang dengar tidak berhenti pada kehadiran fisik.
Bahasa Isyarat Indonesia pun bisa menjadi bagian dari pengalaman bersama. Orang dengar jadi bisa belajar menyesuaikan diri. Teman Tuli pun dapat bekerja dengan percaya diri.
Baca juga: Starbucks Indonesia Buka Gerai Ramah Teman Tuli di Jakarta Pusat
Ke depan, ia berharap, Starbucks menghadirkan signing store baru di kota-kota lain Indonesia. Ia juga mengharapkan, ruang inklusif ini juga terasa di gerai regular Starbucks.
“Misalnya dengan membekali barista di gerai regular dengan Bisindo atau menempatkan satu atau dua barista teman Tuli di sana,” tutur Faris.
(Kiri-Kanan) Ketua Pusat Bahasa Isyarat Indonesia (Pusbisindo) periode 2020?2025, Laura Lesmana Wijaya, dan Ketua Pusbisindo periode 2025?2030, Kusumo Perwira atau Momi. Senada, Ketua Pusbisindo periode 2025–2030, Kusumo Perwira atau Momi, menilai Signing Store sebagai ruang kolaborasi yang membuka akses lebih luas.
Gerai ini membuat teman-teman barista Tuli bisa berkembang lewat pelatihan yang secara khusus didesain untuk mereka.
Dampak secara luas, lanjut Momi, anak-anak Tuli memiliki inspirasi dari barista Tuli yang bekerja di Starbucks.
“Mereka bisa melihat bahwa Tuli bisa bekerja, bahkan naik jenjang karier. Ini memberi rasa aman bagi orangtua mereka,” imbuh Momi.
Selain lapangan kerja dan ruang nyaman buat teman Tuli, gerai ini dapat mengenalkan budaya Tuli dan Bisindo kepada masyarakat secara luas.
Baca juga: Kisah Restianto, Teman Tuli yang Bekerja 27 Tahun di McDonalds
Laura menambahkan, Starbucks Signing Store Tata Puri memberi dukungan, menyediakan ruang, dan menyebarkan Bisindo. Saat pelanggan datang, mereka secara tidak langsung belajar budaya Tuli. Pada akhirnya, bahasa isyarat tidak lagi distigma sebagai hal aneh.
“Dampaknya berkelanjutan. Pelanggan datang dan pulang, tetapi pembelajaran (budaya Tuli) terus terjadi (tiap hari),” imbuhnya.
Ia pun menekankan bahwa komunitas Tuli bukan penyandang disabilitas.
“Mereka manusia seperti kita. Hanya berbeda bahasa komunikasi. Belajar bahasa isyarat tidak merugikan, justru memperkaya empati,” tuturnya lagi.
Momi menimpali, Starbucks sudah membuktikan bahwa ketika bahasa isyarat digunakan, komunikasi antara teman Tuli dan orang dengan menjadi lancar.
Salah satu sudut di Starbucks Signing Store Tata Puri. “Harapan kami, signing store bisa menjadi model untuk kota lain. Tidak hanya Jakarta, tapi juga kota-kota lain di Indonesia. Kami juga berharap ada penguatan kebijakan, bahkan undang-undang bahasa isyarat,” imbuh Momi.
Baca juga: Mengenal Bahasa Isyarat untuk Komunikasi dengan Teman Tuli di Indonesia
Starbucks Signing Store Tata Puri menjadi ruang perjumpaan budaya. Bisindo tidak lagi hadir sebagai “alat bantu”, melainkan sebagai bahasa yang hidup dan digunakan sehari-hari.
Di ruang ini, orang dengar mulai menyadari bahwa budaya tuli memiliki struktur, ekspresi, dan tata krama sendiri. Cara menyapa, menarik perhatian, hingga berbagi ruang dilakukan dengan prinsip saling melihat dan saling menghormati.
Kembali ke balik bar, Asri dan barista teman Tuli lain melayani pesanan berikutnya. Tangannya bergerak cepat, senyumnya muncul setiap kali pelanggan mencoba memesan dengan bahasa isyarat. Tanpa suara, percakapan tetap terjadi.
Di Starbucks Signing Store Tata Puri, inklusivitas bukan konsep besar yang rumit. Inklusivitas hadir dalam rutinitas harian: dalam secangkir kopi, gerak tangan, dan kesempatan yang akhirnya terbuka setara.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya