Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
INKLUSIVITAS

Belajar Mendengar Tanpa Telinga dari Segelas Kopi

Kompas.com, 11 Januari 2026, 09:03 WIB
Yakob Arfin T Sasongko,
Agung Dwi E

Tim Redaksi

Dampak itu terasa oleh Dila, teman Tuli anggota Gerkatin. Ia tidak kesulitan untuk datang ke Starbucks Signing Store Tata Puri. 

Selain itu, saat kali pertama datang ke Signing Store, ia melihat banyak barista teman Tuli bekerja dalam satu ruang. Pengalaman itu memberinya rasa nyaman dan aman yang jarang ia temui di ruang publik lain.

“Rasanya campur aduk. Senang, karena akhirnya ada ruang kerja yang aman dan inklusif (buat teman Tuli),” ujarnya.

Bagi Dila, Signing Store bukan sekadar tempat minum kopi. Gerai ini menjadi ruang berkumpul dan berinteraksi tanpa harus terus-menerus menyesuaikan diri.

Hal serupa dirasakan Faris, anggota Gerkatin lain yang datang dari luar Jakarta.

“Yang paling terasa, kesempatan kerja untuk teman Tuli di sini nyata. Bukan satu atau dua orang,” kata Faris.

Menurutnya, di Signing Store, pertemuan antara teman Tuli dan orang dengar tidak berhenti pada kehadiran fisik.

Bahasa Isyarat Indonesia pun bisa menjadi bagian dari pengalaman bersama. Orang dengar jadi bisa belajar menyesuaikan diri. Teman Tuli pun dapat bekerja dengan percaya diri.

Baca juga: Starbucks Indonesia Buka Gerai Ramah Teman Tuli di Jakarta Pusat

Ke depan, ia berharap, Starbucks menghadirkan signing store baru di kota-kota lain Indonesia. Ia juga mengharapkan, ruang inklusif ini juga terasa di gerai regular Starbucks.

“Misalnya dengan membekali barista di gerai regular dengan Bisindo atau menempatkan satu atau dua barista teman Tuli di sana,” tutur Faris.

(Kiri-Kanan) Ketua Pusat Bahasa Isyarat Indonesia (Pusbisindo) periode 2020?2025, Laura Lesmana Wijaya, dan Ketua Pusbisindo periode 2025?2030, Kusumo Perwira atau Momi. KOMPAS.com/AGUNG DWI E (Kiri-Kanan) Ketua Pusat Bahasa Isyarat Indonesia (Pusbisindo) periode 2020?2025, Laura Lesmana Wijaya, dan Ketua Pusbisindo periode 2025?2030, Kusumo Perwira atau Momi.

Senada, Ketua Pusbisindo periode 2025–2030, Kusumo Perwira atau Momi, menilai Signing Store sebagai ruang kolaborasi yang membuka akses lebih luas.

Gerai ini membuat teman-teman barista Tuli bisa berkembang lewat pelatihan yang secara khusus didesain untuk mereka.

Dampak secara luas, lanjut Momi, anak-anak Tuli memiliki inspirasi dari barista Tuli yang bekerja di Starbucks.

“Mereka bisa melihat bahwa Tuli bisa bekerja, bahkan naik jenjang karier. Ini memberi rasa aman bagi orangtua mereka,” imbuh Momi.

Selain lapangan kerja dan ruang nyaman buat teman Tuli, gerai ini dapat mengenalkan budaya Tuli dan Bisindo kepada masyarakat secara luas.

Baca juga: Kisah Restianto, Teman Tuli yang Bekerja 27 Tahun di McDonalds

Laura menambahkan, Starbucks Signing Store Tata Puri memberi dukungan, menyediakan ruang, dan menyebarkan Bisindo. Saat pelanggan datang, mereka secara tidak langsung belajar budaya Tuli. Pada akhirnya, bahasa isyarat tidak lagi distigma sebagai hal aneh.

“Dampaknya berkelanjutan. Pelanggan datang dan pulang, tetapi pembelajaran (budaya Tuli) terus terjadi (tiap hari),” imbuhnya.

Ia pun menekankan bahwa komunitas Tuli bukan penyandang disabilitas. 

“Mereka manusia seperti kita. Hanya berbeda bahasa komunikasi. Belajar bahasa isyarat tidak merugikan, justru memperkaya empati,” tuturnya lagi.

Momi menimpali, Starbucks sudah membuktikan bahwa ketika bahasa isyarat digunakan, komunikasi antara teman Tuli dan orang dengan menjadi lancar.

Salah satu sudut di Starbucks Signing Store Tata Puri. KOMPAS.com/AGUNG DWI E Salah satu sudut di Starbucks Signing Store Tata Puri.

“Harapan kami, signing store bisa menjadi model untuk kota lain. Tidak hanya Jakarta, tapi juga kota-kota lain di Indonesia. Kami juga berharap ada penguatan kebijakan, bahkan undang-undang bahasa isyarat,” imbuh Momi.

Baca juga: Mengenal Bahasa Isyarat untuk Komunikasi dengan Teman Tuli di Indonesia

Starbucks Signing Store Tata Puri menjadi ruang perjumpaan budaya. Bisindo tidak lagi hadir sebagai “alat bantu”, melainkan sebagai bahasa yang hidup dan digunakan sehari-hari.

Di ruang ini, orang dengar mulai menyadari bahwa budaya tuli memiliki struktur, ekspresi, dan tata krama sendiri. Cara menyapa, menarik perhatian, hingga berbagi ruang dilakukan dengan prinsip saling melihat dan saling menghormati.

Kembali ke balik bar, Asri dan barista teman Tuli lain melayani pesanan berikutnya. Tangannya bergerak cepat, senyumnya muncul setiap kali pelanggan mencoba memesan dengan bahasa isyarat. Tanpa suara, percakapan tetap terjadi.

Di Starbucks Signing Store Tata Puri, inklusivitas bukan konsep besar yang rumit. Inklusivitas hadir dalam rutinitas harian: dalam secangkir kopi, gerak tangan, dan kesempatan yang akhirnya terbuka setara.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Swasta
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
LSM/Figur
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Pemerintah
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
BUMN
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Pemerintah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Pemerintah
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
BrandzView
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
Pemerintah
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Swasta
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
BUMN
Perkuat Reputasi Internasional, Proyek Elektrifikasi Kereta Cepat Malaysia Rampung Lebih Awal di Tangan Teknisi PLN
Perkuat Reputasi Internasional, Proyek Elektrifikasi Kereta Cepat Malaysia Rampung Lebih Awal di Tangan Teknisi PLN
Pemerintah
5 Tips Membuat Resume Lamaran Kerja pada Era AI
5 Tips Membuat Resume Lamaran Kerja pada Era AI
LSM/Figur
Longsor Bantargebang Tewaskan Empat Orang, KLH Bakal Tempuh Jalur Hukum
Longsor Bantargebang Tewaskan Empat Orang, KLH Bakal Tempuh Jalur Hukum
Pemerintah
Di Hulu Rantai Nilai, Ini Cerita Petani Indonesia Hadapi Tantangan Akses Pasar
Di Hulu Rantai Nilai, Ini Cerita Petani Indonesia Hadapi Tantangan Akses Pasar
BrandzView
KLH Tuang 10.000 Liter Ecoenzym ke Sungai Cisadane, Netralkan Cemaran Pestisida
KLH Tuang 10.000 Liter Ecoenzym ke Sungai Cisadane, Netralkan Cemaran Pestisida
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau