Berdasarkan pendataan BRIN, sekitar 3.028 desa terdampak banjir bandang di Aceh, 552 desa di Sumatera Utara, dan 162 desa di Sumatera Barat. Dalam pemantauan kondisi pasca-bencana, BRIN menggunakan lebih dari 300 citra resolusi tinggi yang terus diperbarui.
Data tersebut telah dibagikan ke berbagai kementerian dan lembaga, termasuk BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana), Badan Geologi, Kementerian Pertanian, dan Badan Pertanahan Nasional (BPN) untuk mendukung analisis kerusakan bangunan, lahan pertanian, maupun perencanaan rehabilitasi serta rekonstruksi.
BRIN juga menyiapkan 228 peta layout estimasi rekonstruksi bangunan, jalan, dan jembatan yang disusun sejak fase tanggap darurat agar bisa dimanfaatkan pemerintah pusat dan daerah.
Baca juga: Kemenhut Bersihkan 1.272 Meter Gelondongan Kayu Pasca Banjir Sumatera
Para peneliti turut memetakan area mana saja yang kemungkinan perlu direlokasi untuk memitigasi banjir susulan.
Di wilayah Aceh Tamiang, misalnya, dinilai sangat berisiko mengalami banjir karena lokasi permukiman yang berdekatan dengan DAS. Joko mengusulkan adanya pembangunan infrastuktur yang bisa mencegah luapan air ke rumah warga.
"Karena di Aceh Tamiang sangat memprihatinkan, banyak bangunan rumah yang tinggal lantai dan fondasi dan bersih tersapu banjir, tidak ada bekas dinding, tidak ada atap, isinya rumah juga tidak tahu ke mana dan sangat banyak area yang mengalami seperti itu. Di area itu sekarang banyak dibangun tenda BNPB untuk pengungsian," jelas Joko.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya