KOMPAS.com - Kota-kota di seluruh dunia menanam lebih banyak pohon dan menciptakan taman baru untuk memerangi kenaikan suhu. Tetapi sebuah studi selama satu dekade di kota-kota Taiwan Utara mengungkapkan paradoks yang mengkhawatirkan.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal jurnal Sustainable Cities and Society mencatat lebih banyak ruang hijau tidak selalu berarti risiko panas yang lebih rendah. Selain itu, manfaat adaptasi panas dari penghijauan perkotaan tidak menjangkau semua orang secara merata.
Melansir Phys, Rabu (14/1/2026) studi yang menganalisis data suhu bersamaan dengan ruang hijau dan pola sosial ekonomi di enam wilayah perkotaan dari tahun 2009–2012 dan 2019–2022, menemukan bahwa beberapa wilayah mengalami pemanasan yang lebih besar meskipun ruang hijau meningkat.
Baca juga: Ruang Terbuka Hijau untuk Lindungi Kesehatan Mental Seluruh Dunia
Ini menunjukkan bahwa upaya penghijauan tidak dapat mengimbangi intensitas pemanasan perkotaan, terutama ketika area alami menjadi terfragmentasi oleh pembangunan di sekitarnya.
Penelitian ini juga menemukan bahwa taman dan ruang hijau yang terdistribusi lebih merata di seluruh wilayah perkotaan, justru menyediakan ruang bagi populasi rentan untuk berinteraksi sosial.
Dalam hal ini, perencanaan kota Taiwan tampaknya telah membantu. Namun, di sisi lain manfaat pendinginan dari ruang hijau tersebut sering berkurang karena adanya pertukaran antara fungsi pendinginan dan sosial.
Studi juga mengkhawatirkan area pinggiran kota, di mana pembangunan yang pesat memecah-belah ruang hijau dan meningkatkan paparan panas. Area tersebut seringkali terlihat lebih hijau daripada pusat kota, sehingga menutupi risiko panas yang berdampak pada masyarakat.
Baca juga: Ruang Hijau Tidak Cukup, Kota-kota Kita Perlu Diliarkan Kembali
Temuan ini pun menyoroti bahwa begitu area alami diubah menjadi bangunan, fungsi pengatur suhunya tidak mungkin kembali, dengan konsekuensi pemanasan yang meluas ke area sekitarnya. Perlindungan dini terhadap ruang hijau dari ekspansi kota sangatlah penting.
"Ketimpangan risiko panas tidaklah statis tapi berkembang seiring dengan urbanisasi dan bagaimana keputusan pembangunan membentuk ulang ruang hijau serta komposisi sosio-ekonomi lingkungan," kata Prof. Wan-Yu Shih, penulis pertama dan penulis korespondensi dari studi.
"Mengatasi hal ini memerlukan pemikiran jangka panjang tentang konsekuensi perencanaan, bukan sekadar menambahkan lebih banyak tanaman hijau setelah pembangunan selesai," tambahnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya