Tim peneliti juga meneliti data mengenai tiga tekanan utama yang disebabkan manusia terkait penurunan permukaan delta sungai
Ketiganya adalah pengambilan air tanah, perubahan sedimen, dan perluasan kota, untuk menentukan mana yang memiliki dampak terbesar pada penurunan tanah di delta.
Bendungan, tanggul, dan rekayasa sungai di hulu dapat mengurangi pengiriman sedimen yang seharusnya membantu delta membangun atau mempertahankan ketinggiannya.
Sementara itu, perluasan kota memberikan beban lebih besar pada permukaan delta dan sering kali meningkatkan permintaan air, yang mana secara tidak langsung dapat meningkatkan pengurasan air tanah.
Baca juga:
Di antara faktor-faktor tersebut, pengambilan air tanah memiliki pengaruh keseluruhan yang paling kuat, tetapi beberapa delta lebih dipengaruhi oleh perubahan sedimen dan perluasan perkotaan, demikian temuan para peneliti.
Pusat data, yang menggunakan sejumlah besar air untuk pendinginan, dapat berkontribusi pada masalah ini.
"Studi kami menunjukkan bahwa pengambilan air tanah adalah pendorong utama penurunan permukaan tanah yang cepat di banyak delta sungai, dan fasilitas yang intensif air seperti pusat data dapat memperburuk risiko ini jika mereka bergantung pada pasokan air lokal," kata Shirzaei.
Di wilayah yang sudah rentan seperti delta Mekong, peningkatan permintaan air dapat mempercepat penurunan permukaan tanah, melemahkan sistem drainase dan perlindungan banjir, serta memperpendek umur infrastruktur penting.
"Tidak seperti kenaikan permukaan laut global, penurunan permukaan tanah yang disebabkan oleh manusia dapat diatasi secara lokal melalui pengaturan air tanah, pengisian ulang akuifer yang terkelola, dan pengelolaan sedimen," tutur Shirzaei.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya