Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Delta Sungai di Dunia Tenggelam Lebih Cepat, Jutaan Orang Terancam Banjir

Kompas.com, 15 Januari 2026, 20:35 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Beberapa delta sungai disebut tenggelam lebih cepat dibanding kenaikan permukaan laut global sehingga membuat jutaan orang berisiko mengalami banjir, menurut studi yang terbit di Nature

Padahal area yang terbentuk di muara sungai ini berperan penting secara ekonomi dan lingkungan.

Baca juga:

"Di banyak tempat, penurunan tanah merupakan faktor utama yang lebih besar dalam kenaikan permukaan laut relatif daripada lautan itu sendiri," kata Manoochehr Shirzaei dari Virginia Tech di Virginia, Amerika Serikat, dilansir dari NewScientist, Kamis (15/1/2026).

Hingga setengah miliar manusia tinggal di delta sungai, termasuk beberapa populasi termiskin di bumi. Sebanyak 10 kota besar dengan populasi lebih dari 10 juta orang juga terletak di delta sungai.

Delta sungai tenggelam lebih cepat, bikin rentan banjir

Penurunan permukaan tanah akibat aktivitas manusia jadi penyebab

Ilustrasi Sungai Nil, sungat terbesar di dunia. Studi mengungkap delta sungai di dunia tenggelam lebih cepat dari kenaikan permukaan laut global akibat penurunan permukaan tanah.iStockphoto/Phototreat Ilustrasi Sungai Nil, sungat terbesar di dunia. Studi mengungkap delta sungai di dunia tenggelam lebih cepat dari kenaikan permukaan laut global akibat penurunan permukaan tanah.

Peneliti menemukan bahwa penurunan permukaan tanah menjadi pendorong utama yang merusak delta.

Tidak hanya itu, menurut studi tersebut, pengambilan air tanah menjadi penyebab terbesar penurunan permukaan tanah di delta secara global, dengan perluasan perkotaan dan penurunan muatan sedimen sungai berkontribusi pada tren penurunan secara keseluruhan.

Temuan tersebut disimpulkan setelah Shirzaei dan rekan-rekannya mencoba menentukan laju penurunan permukaan tanah di 40 delta sungai di seluruh dunia, termasuk Mekong, Mississippi, Amazon, Zambezi, Yangtze, dan Nil.

Baca juga:

Kondisi delta paling rentan ada di Asia Tenggara

Menurut Shirzaei, penurunan permukaan tanah menyebabkan dampak ganda berupa banjir. Sebab, pada saat yang sama delta-delta tersebut tenggelam, permukaan laut global naik sekitar empat milimeter per tahun.

Para peneliti menggunakan data dari tahun 2014 hingga 2023 yang diperoleh dari radar satelit Sentinel 1 milik Badan Antariksa Eropa, yang dapat mengukur perubahan jarak antara satelit dan tanah dengan akurasi hingga 0,5 milimeter.

Di semua 40 delta, lebih dari sepertiga dari setiap area mengalami penurunan. Sementara itu, di 38 dari 40 delta, lebih dari setengah area mengalami penurunan.

"Rata-rata penurunan permukaan tanah melebihi kenaikan permukaan laut di 18 dari 40 delta, dan dominasinya bahkan lebih kuat di daerah dataran rendah, kurang dari satu meter di atas permukaan laut," ucap Shirzaei.

Delta Chao Phraya di Thailand, misalnya, mengalami kondisi terburuk di antara 40 delta lainnya dalam hal laju penurunan permukaan tanah dan luas wilayah yang terdampak.

Rata-rata laju penurunan permukaan tanahnya mencapai delapan milimeter per tahun, dua kali lipat kenaikan permukaan laut rata-rata global saat ini.

Sementara itu, 94 persen wilayah deltanya mengalami penurunan lebih cepat dari lima milimeter per tahun.

Alexandria di Mesir, Jakarta, serta Surabaya juga menghadapi penurunan permukaan tanah yang cepat.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau