Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Fenomena Sinkhole di Indonesia dan Cuaca Ekstrem

Kompas.com, 17 Januari 2026, 15:43 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Fenomena sinkhole di Limapuluh Kota, Sumatera Barat, yang muncul pada awal Januari 2026 bukanlah yang pertama di Indonesia. Sebelumnya lubang raksasa ini juga muncul di Tulungagung, Jawa Timur, dan Kabupaten Agam, Sumatera Barat. 

Menurut Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Adrin Tohari, cuaca ekstrem yang dipicu krisis iklim turut berkontribusi terhadap terbentuknya sinkhole.

Baca juga:

"Iya, cuaca ekstrem itu kan berarti memperbanyak volume air yang masuk ke dalam tanah ya. Masalahnya, air hujan itu asam atau tidak, itu yang tidak bisa saya jawab. Kenapa air hujan itu bersifat asam ya sehingga melarutkan kalsit sehingga terbentuknya rongga," kata Adrin kepada Kompas.com, Sabtu (17/1/2026). 

Ia menambahkan, rongganya semakin besar, yang mana terbentuklah lubang besar di bawah permukaan tanah. 

"Nah, ketika hujan sangat lebat, tanah penutupnya semakin berat, akhirnya runtuh, makanya terlihat sekarang sinkhole-nya," tambah dia. 

Baca juga:

Cuaca ekstrem dan fenomena sinkhole di Indonesia

Sinkhole terjadi akibat runtuhnya lapisan batu gamping bawah tanah

Warga yang penasaran melihat dari dekat lubang sinkhole yang terbentuk di tengah ruas jalan raya jalan selingkar Wilis, Tulungagung, Jawa Timur, Kamis(27/2/2025).Dok. ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko Warga yang penasaran melihat dari dekat lubang sinkhole yang terbentuk di tengah ruas jalan raya jalan selingkar Wilis, Tulungagung, Jawa Timur, Kamis(27/2/2025).

Sinkhole terjadi akibat runtuhnya lapisan batu gamping atau kapur di bawah permukaan tanah. Prosesnya berlangsung dalam waktu lama, serta dipicu air yang bersifat asam.

Kualitas air dari permukaan tanah berpengaruh dalam melarutkan unsur kimia, mineral kalsit, yang terkandung dalam batuan gamping.

Imbasnya, terbentuklah rekahan dan rongga di bawah permukaan tanah.

Air yang bersifat asam mengalir secara terus-menerus melalui celah rekahan tersebut, menyebabkan rongga dalam bebatuan gamping semakin membesar dan melemahkan lapisan penyangga di atasnya.

"Kalau airnya enggak bersifat asam, enggak akan melarutkan kalsit yang ada di batu gamping itu," tambah dia. 

Seiring berjalannya waktu, rongga-rongga dalam lapisan bebatuan gamping menjadi saling terhubung satu sama lainnya, yang pada gilirannya membentuk air sungai di bawah permukaan tanah.

Di sisi lain, lapisan penyangga yang telah rapuh diguyur hujan yang justru semakin lebat.

Ketika beban dari air hujan sudah tidak mampu lagi ditahan lapisan penyangga, permukaan tanah akhirnya runtuh, yang disebut sinkhole.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau