KOMPAS.com - Fenomena sinkhole di Limapuluh Kota, Sumatera Barat, yang muncul pada awal Januari 2026 bukanlah yang pertama di Indonesia. Sebelumnya lubang raksasa ini juga muncul di Tulungagung, Jawa Timur, dan Kabupaten Agam, Sumatera Barat.
Menurut Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Adrin Tohari, cuaca ekstrem yang dipicu krisis iklim turut berkontribusi terhadap terbentuknya sinkhole.
Baca juga:
"Iya, cuaca ekstrem itu kan berarti memperbanyak volume air yang masuk ke dalam tanah ya. Masalahnya, air hujan itu asam atau tidak, itu yang tidak bisa saya jawab. Kenapa air hujan itu bersifat asam ya sehingga melarutkan kalsit sehingga terbentuknya rongga," kata Adrin kepada Kompas.com, Sabtu (17/1/2026).
Ia menambahkan, rongganya semakin besar, yang mana terbentuklah lubang besar di bawah permukaan tanah.
"Nah, ketika hujan sangat lebat, tanah penutupnya semakin berat, akhirnya runtuh, makanya terlihat sekarang sinkhole-nya," tambah dia.
Baca juga:
Warga yang penasaran melihat dari dekat lubang sinkhole yang terbentuk di tengah ruas jalan raya jalan selingkar Wilis, Tulungagung, Jawa Timur, Kamis(27/2/2025).Sinkhole terjadi akibat runtuhnya lapisan batu gamping atau kapur di bawah permukaan tanah. Prosesnya berlangsung dalam waktu lama, serta dipicu air yang bersifat asam.
Kualitas air dari permukaan tanah berpengaruh dalam melarutkan unsur kimia, mineral kalsit, yang terkandung dalam batuan gamping.
Imbasnya, terbentuklah rekahan dan rongga di bawah permukaan tanah.
Air yang bersifat asam mengalir secara terus-menerus melalui celah rekahan tersebut, menyebabkan rongga dalam bebatuan gamping semakin membesar dan melemahkan lapisan penyangga di atasnya.
"Kalau airnya enggak bersifat asam, enggak akan melarutkan kalsit yang ada di batu gamping itu," tambah dia.
Seiring berjalannya waktu, rongga-rongga dalam lapisan bebatuan gamping menjadi saling terhubung satu sama lainnya, yang pada gilirannya membentuk air sungai di bawah permukaan tanah.
Di sisi lain, lapisan penyangga yang telah rapuh diguyur hujan yang justru semakin lebat.
Ketika beban dari air hujan sudah tidak mampu lagi ditahan lapisan penyangga, permukaan tanah akhirnya runtuh, yang disebut sinkhole.
Fenomena sinkhole atau tanah berlubang mengejutkan warga Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat, pada Minggu (4/1/2026). Air jernih dari sinkhole di Limapuluh Kota yang sempat diambil warga dipastikan mengandung bakteri E. coli berdasarkan hasil pemeriksaan pemerintah.Menurut Adrin, fenomena sinkhole tidak akan berdampak terhadap krisis air bersih masa depan.
"Enggak, kalau masalah air bersih atau tidak itu kan memang kualitas air di lapisan batu gamping itu kemungkinan dia bersifat asam. Itu bisa saja karena kan dengan sifat asam itu kemudian terbentuk lubang-lubang di lapisan batu gamping," jelas dia.
Ia melanjutkan, sinkhole relatif sering terjadi di Indonesia. Khususnya, di wilayah bentang alam batu gamping.
Daerah-daerah yang secara geologi mempunyai lapisan batu gamping cukup tebal di bawah permukaan tanah, seperti Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta; Pacitan, Jawa Timur; dan Maros, Sulawesi Selatan; rawan terjadi sinkhole.
Baca juga:
Sebelumnya, sinkhole terjadi di sawah Jorong Tepi, Nagar Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat.
Dosen Teknik Geologi Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, Salahuddin Husein mengatakan, secara alami, proses pelarutan batu gamping oleh air tanah berjalan sangat lambat.
"Di kawasan tropis seperti Indonesia, kecepatan pelarutan batu gamping tersebut hanya berkisar antara 0,05 hingga 0,1 mm (milimeter) per tahun. Artinya, untuk mengikis batu gamping sedalam satu meter, alam membutuhkan waktu sekitar 10.000 hingga 20.000 tahun," tutur Salahuddin kepada Kompas.com, Sabtu (10/1/2026).
Proses pelarutan batu gamping yang menyebabkan rongga atau lubang dan kejadian runtuhan tanah atau sinkhole berbeda.
Pelarutan batu gamping berjalan sangat lambat, sedangkan terjadinya sinkhole sangat cepat atau skala detik hingga jam saja.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya