Menurut Adrin, fenomena sinkhole tidak akan berdampak terhadap krisis air bersih masa depan.
"Enggak, kalau masalah air bersih atau tidak itu kan memang kualitas air di lapisan batu gamping itu kemungkinan dia bersifat asam. Itu bisa saja karena kan dengan sifat asam itu kemudian terbentuk lubang-lubang di lapisan batu gamping," jelas dia.
Ia melanjutkan, sinkhole relatif sering terjadi di Indonesia. Khususnya, di wilayah bentang alam batu gamping.
Daerah-daerah yang secara geologi mempunyai lapisan batu gamping cukup tebal di bawah permukaan tanah, seperti Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta; Pacitan, Jawa Timur; dan Maros, Sulawesi Selatan; rawan terjadi sinkhole.
Baca juga:
Sebelumnya, sinkhole terjadi di sawah Jorong Tepi, Nagar Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat.
Dosen Teknik Geologi Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, Salahuddin Husein mengatakan, secara alami, proses pelarutan batu gamping oleh air tanah berjalan sangat lambat.
"Di kawasan tropis seperti Indonesia, kecepatan pelarutan batu gamping tersebut hanya berkisar antara 0,05 hingga 0,1 mm (milimeter) per tahun. Artinya, untuk mengikis batu gamping sedalam satu meter, alam membutuhkan waktu sekitar 10.000 hingga 20.000 tahun," tutur Salahuddin kepada Kompas.com, Sabtu (10/1/2026).
Proses pelarutan batu gamping yang menyebabkan rongga atau lubang dan kejadian runtuhan tanah atau sinkhole berbeda.
Pelarutan batu gamping berjalan sangat lambat, sedangkan terjadinya sinkhole sangat cepat atau skala detik hingga jam saja.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya