Studi tersebut mengungkapkan, distribusi dampak kerusakan laut sangat tidak merata di seluruh dunia, dengan pulau-pulau dan usaha berskala kecil terdampak paling parah.
Sebab, pulau-pulau dan usaha berskala kecil bergantung terhadap makanan laut untuk nutrisi sehingga berpotensi mengalami peningkatan dampak kesehatan pada populasi mereka.
Studi ini juga memperhitungkan bagaimana pemanasan laut mengurangi ketersediaan nutrisi penting dalam makanan laut, termasuk kalsium, asam lemak omega-3, protein, dan zat besi.
Hilangnya nutrisi ini bisa dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit dan kematian tambahan.
Baca juga:
Dalam studi ini, kerusakan laut akibat krisis iklim disebut sebagai biaya sosial karbon "biru", alat yang digunakan dalam analisis biaya-manfaat.
Analisis biaya-manfaat dipakai oleh lembaga pemerintah untuk perancangan kebijakan dan oleh anggota sektor swasta untuk analisis manajemen risiko dan perencanaan keuangan.
"Melindungi lingkungan dapat memiliki biaya awal yang tinggi, jadi kita membutuhkan metode untuk memikirkan pertimbangan yang kita buat sebagai masyarakat. Ada hal-hal yang dihargai dan bermanfaat bagi masyarakat yang tidak mudah dimonetisasi, dan lautan sangat sulit untuk diberi nilai moneter," ucap salah satu penulis studi sekaligus ilmuwan iklim dan profesor madya di Scripps Oceanography dan School of Global Policy and Strategy, Kate Ricke.
"Biaya sosial karbon biru adalah kerangka kerja baru untuk mengenali nilai-nilai ini," tambah dia.
Sementara itu, Bastien-Olvera mengatakan, biaya sosial karbon dapat membantu memahami konteks kerugian akibat krisis iklim.
“Ketika suatu industri mengeluarkan satu ton karbon dioksida ke atmosfer, sebagai masyarakat kita menanggung biayanya. Sebuah perusahaan dapat menggunakan angka ini untuk menginformasikan analisis biaya-manfaat, apa kerusakan yang akan mereka timbulkan pada masyarakat melalui peningkatan emisi mereka?," kata Bastien-Olvera.
Ia berharap para pembuat kebijakan dan industri akan menggunakan studi yang melibatkan para ilmuwan lintas disiplin ini untuk mendukung pengambilan keputusan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya