Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kerusakan Laut akibat Emisi Karbon Bikin Ekonomi Global Rugi Hampir 2 Kali Lipat

Kompas.com, 17 Januari 2026, 19:17 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kerugian ekonomi secara global yang disebabkan emisi gas rumah kaca (GRK) naik hampir dua kali lipat akibat kerusakan laut yang dipicu krisis iklim.

Studi terbaru dari Scripps Institution of Oceanography di Universitas California San Diego, Amerika Serikat, menghitung kerugian ekonomi dari kerusakan laut sebagai penyimpan karbon untuk pertama kalinya.

Baca juga:

Hingga saat ini, laut kerap diabaikan dalam perhitungan standar biaya sosia karbon. Padahal degradasi ekosistem terumbu karang, kerugian akibat dampak sektor perikanan, serta kerusakan infrastruktur pesisir, sudah terdokumentasi dengan baik.

“Jika kita tidak memberikan harga pada kerusakan yang disebabkan oleh perubahan iklim terhadap lautan, hal itu akan tidak terlihat oleh para pengambil keputusan utama,” kata ekonom lingkungan Bernardo Bastien-Olvera, yang memimpin studi tersebut selama masa post-doctoral fellowship di Scripps Oceanography, dilansir dari laman Today UCSD, Sabtu (17/1/2026).

Ia menambahkan, studi yang terbit di Nature Climate Change ini merupakan yang pertama menetapkan nilai setara moneter untuk dampak lautan yang selama ini diabaikan.

Kerugian ekonomi akibat kerusakan laut naik hampi

Studi terbaru mengungkap emisi GRK membuat kerugian ekonomi global melonjak tajam akibat rusaknya laut sebagai penyimpan karbon.Dok. Wikimedia Commons/Frédéric Ducarme Studi terbaru mengungkap emisi GRK membuat kerugian ekonomi global melonjak tajam akibat rusaknya laut sebagai penyimpan karbon.

Emisi GRK yang dihasilkan manusia menyebabkan kerusakan dengan menghangatkan suhu laut, mengubah kimia laut, dan mengurangi kemampuan laut untuk menyimpan oksigen yang diperlukan untuk kelangsungan hidup spesies.

Di sisi lain, emisi GRK dapat meningkatkan keparahan krisis iklim. Sebab, kenaikan suhu memberikan lebih banyak energi untuk memicu cuaca dan ekstrem.

Imbasnya, infrastruktur pelabuhan rusak dan distribusi spesies berubah. Ekosistem seperti terumbu karang, hutan bakau, padang lamun, serta padang rumput laut juga terdampak. 

Studi tersebut mengembangkan perhitungan yang mempertimbangkan nilai guna pasar yang langsung tampak. Misalnya, penurunan pendapatan perikanan atau berkurangnya perdagangan.

Studi tersebut juga memperhitungkan nilai non-pasar, seperti dampak kesehatan akibat berkurangnya ketersediaan nutrisi dari sektor perikanan dan peluang rekreasi di laut.

Bahkan, studi tersebut mempertimbangkan hal-hal yang tidak berwujud. Di antaranya, nilai intrinsik yang diperoleh manusia dari menikmati ekosistem dan keanekaragaman hayati.

Para peneliti memasukkan perkiraan itu ke dalam model ekonomi yang dikalibrasi untuk berbagai lintasan emisi GRK.

Baca juga:

Studi terbaru mengungkap emisi GRK membuat kerugian ekonomi global melonjak tajam akibat rusaknya laut sebagai penyimpan karbon.Unsplash Studi terbaru mengungkap emisi GRK membuat kerugian ekonomi global melonjak tajam akibat rusaknya laut sebagai penyimpan karbon.

Tanpa memasukkan dampak terhadap laut, biaya sosial karbon sebesar 51 dollar Amerika Serikat (AS, sekitar Rp 862.364) per ton karbon dioksida (CO2) yang dilepaskan ke atmosfer.

Ketika model dijalankan dengan dampak terhadap laut, peneliti menghitung tambahan 46,2 dollar AS (sekitar Rp 781.200) per ton CO2 atau mencapai total 97,2 dollar AS (sekitar Rp 1,64 juta) per ton CO2, dengan peningkatan sebesar 91 persen.

Untuk memberikan gambaran skalanya, pada tahun 2024, emisi karbon dioksida global diperkirakan mencapai 41.6 miliar ton CO2 berdasarkan analisis Global Carbon Budget.

Hal itu menyiratkan hampir dua triliun dollar AS (sekitar Rp 33.818,1 triliun) kerusakan laut terkait dengan emisi GRK global selama satu tahun yang saat ini tidak termasuk dalam perkiraan biaya iklim standar.

Secara keseluruhan, kerugian pasar diproyeksikan menjadi biaya terbesar bagi masyarakat, dengan total kerugian tahunan global sebesar 1,66 triliun dollar AS (sekitar Rp 28.069,1 triliun) tahun 2100.

Kerugian dalam nilai intrinsik yang diperoleh dari menikmati ekosistem laut, mencapai 224 miliar dollar AS (sekitar Rp 3.787,6 triliun) dan nilai non-guna pasar, termasuk penurunan nutrisi dari perikanan yang terdampak, menambah kerugian tahunan sebesar 182 miliar dollar AS (sekitar Rp 3.077,4 triliun).

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Penurunan Tanah di Demak, Tanggul dan Mangrove Disebut Bukan Solusi
Penurunan Tanah di Demak, Tanggul dan Mangrove Disebut Bukan Solusi
LSM/Figur
UNIDO Sebut Kawasan Industri Jadi Kunci Hilirisasi dan Transisi Hijau Indonesia
UNIDO Sebut Kawasan Industri Jadi Kunci Hilirisasi dan Transisi Hijau Indonesia
Pemerintah
Ratusan Sinkhole Muncul di Turkiye, Apa Penyebabnya?
Ratusan Sinkhole Muncul di Turkiye, Apa Penyebabnya?
Pemerintah
Waspada Sinkhole di Indonesia, Pentingnya Pemetaan di Wilayah Batu Gamping
Waspada Sinkhole di Indonesia, Pentingnya Pemetaan di Wilayah Batu Gamping
Pemerintah
Kerusakan Laut akibat Emisi Karbon Bikin Ekonomi Global Rugi Hampir 2 Kali Lipat
Kerusakan Laut akibat Emisi Karbon Bikin Ekonomi Global Rugi Hampir 2 Kali Lipat
LSM/Figur
Jangan Tertipu Air Sinkhole yang Jernih, BRIN Ingatkan Bahaya Bakteri
Jangan Tertipu Air Sinkhole yang Jernih, BRIN Ingatkan Bahaya Bakteri
Pemerintah
Emisi Karbon Lamun di Jawa dan Sumatera Paling Besar, Ini Temuan BRIN
Emisi Karbon Lamun di Jawa dan Sumatera Paling Besar, Ini Temuan BRIN
Pemerintah
PLN Gunakan VR untuk Jelajah Perkembangan EBT di Jawa Timur
PLN Gunakan VR untuk Jelajah Perkembangan EBT di Jawa Timur
Pemerintah
Fenomena Sinkhole di Indonesia dan Cuaca Ekstrem
Fenomena Sinkhole di Indonesia dan Cuaca Ekstrem
Pemerintah
Google Beli 1,17 GW Energi Bebas Karbon demi Pusat Data Rendah Emisi
Google Beli 1,17 GW Energi Bebas Karbon demi Pusat Data Rendah Emisi
Swasta
Ilmuwan Simpan Es Gletser Kuno di Antartika, Jadi Arsip Es Pertama di Dunia
Ilmuwan Simpan Es Gletser Kuno di Antartika, Jadi Arsip Es Pertama di Dunia
LSM/Figur
Siap-siap Produksi Baterai EV, IWIP Bangun Pabrik di Weda Bay
Siap-siap Produksi Baterai EV, IWIP Bangun Pabrik di Weda Bay
Swasta
Pakar Jelaskan Pengaruh MJO dan Topografi pada Pola Hujan Indonesia
Pakar Jelaskan Pengaruh MJO dan Topografi pada Pola Hujan Indonesia
LSM/Figur
Pemanasan Global Terjadi Lebih Cepat, Bisa Jadi Ancaman Ekonomi Dunia
Pemanasan Global Terjadi Lebih Cepat, Bisa Jadi Ancaman Ekonomi Dunia
LSM/Figur
Perjanjian Laut Lepas PBB Mulai Berlaku, Upaya Besar Lindungi Samudera
Perjanjian Laut Lepas PBB Mulai Berlaku, Upaya Besar Lindungi Samudera
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau