Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

ISSB Usulkan Pelaporan Emisi Metana Scope 1 untuk Perusahaan Energi

Kompas.com, 4 Desember 2025, 15:45 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber knowesg

KOMPAS.com - International Sustainability Standards Board (ISSB) mengusulkan amandemen pada standar SASB.

Amandemen ini dimaksudkan untuk mendorong perusahaan minyak dan gas lebih transparan mengenai jumlah metana yang mereka lepaskan ke atmosfer, yang merupakan gas pendorong perubahan iklim.

Standar SASB sendiri merupakan standar yang dikembangkan oleh Sustainability Accounting Standards Board yang memandu perusahaan dalam mengungkapkan informasi keberlanjutan yang relevan secara finansial.

Secara tradisional, metana dikelompokkan di bawah label umum setara CO2, yang seringkali menutupi dampak langsungnya.

Perubahan yang diusulkan akan mewajibkan pelaporan metana scope 1, sehingga memberikan investor dan pasar akses ke data lingkungan dan operasional yang lebih akurat.

Pemisahan pengungkapan metana dari pelaporan karbon umum ini, menurut para analis, dapat memengaruhi keputusan investasi dan membentuk kembali persepsi risiko keuangan di sektor energi.

Baca juga: Emisi Metana Terus Meningkat, Tapi PBB Prediksi Penurunan Segera

Melansir Know ESG, Rabu (3/12/2025) potensi pemanasan metana kira-kira 80 kali lebih kuat daripada CO2, dan keberadaannya di atmosfer selama 7–12 tahun dapat memengaruhi iklim dan keuangan perusahaan.

Perusahaan yang gagal mengelola emisi metana berisiko tidak hanya mengalami konsekuensi lingkungan, tetapi juga kehilangan pendapatan, karena kebocoran gas menunjukkan kerugian ekonomi.

Contohnya adalah produsen LNG Australia, Santos, yang sahamnya anjlok setelah kebocoran metana yang berkelanjutan.

Hal ini menunjukkan bahwa saat ini, investor menyadari bahwa inefisiensi operasional dalam pengelolaan metana dapat menyebabkan kerugian finansial.

Lebih lanjut, pembuatan pelaporan metana scope 1 yang terpisah ini akan memungkinkan investor menilai dengan lebih akurat perusahaan mana yang berjalan efisien dan perusahaan mana yang memiliki kinerja lingkungan yang lebih baik.

Organisasi-organisasi, termasuk Environmental Defence Fund (EDF) dan Climate Bonds Initiative (CBI) mengatakan pula memasukkan data metana ke dalam standar sektor dapat mempercepat perhatian regulasi dan tekanan pasar untuk penanganan emisi yang lebih baik.

Tak hanya itu saja, transparansi data metana menciptakan konsekuensi finansial langsung.

Baca juga: Emisi Metana: Yang Penting Bukan Datanya, Tapi Menghentikannya

Contohnya saja, investor dapat memasukkan penalti ke dalam valuasi perusahaan, misalnya dengan menjual saham yang menurunkan harga saham. Penalti tersebut akan membuat perusahaan pada akhirnya termotivasi untuk mengurangi emisi metana agar valuasi saham mereka tak turun.

Investor terkemuka merespons positif langkah pengungkapan metana ISSB.

Seperti misalnya Norges Bank Investment Management, yang mengelola 1,9 triliun dolar AS, menyambut baik langkah tersebut, dengan menyatakan bahwa emisi scope 1 yang terpisah dapat mengungkapkan paparan regulasi langsung, dampak penetapan harga karbon, dan inefisiensi operasional.

Selain itu, Kelompok Kerja Pendanaan Metana, yang mencakup PIMCO, CalSTRS, dan PGIM, mengharapkan pelaporan baru ini dapat menginformasikan instrumen keuangan yang dirancang untuk pengurangan metana, menyalurkan modal untuk proyek-proyek yang mengurangi emisi dan memengaruhi model valuasi perusahaan minyak dan gas.

Dengan mengidentifikasi emisi metana sebagai faktor material, sektor energi menghadapi pengawasan yang lebih ketat dari investor, pasar, dan regulator.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Elang Jawa Terancam Punah, Pakar Ungkap Risiko Rusaknya Ekosistem
Elang Jawa Terancam Punah, Pakar Ungkap Risiko Rusaknya Ekosistem
LSM/Figur
Presiden Prabowo Cabut Izin 28 Perusahaan Terkait Pemanfaatan Hutan
Presiden Prabowo Cabut Izin 28 Perusahaan Terkait Pemanfaatan Hutan
Pemerintah
Australia Tunda Penutupan Pembangkit Listrik Batu Bara Terbesar hingga 2029
Australia Tunda Penutupan Pembangkit Listrik Batu Bara Terbesar hingga 2029
Pemerintah
Kisah Zaiwan, Kepala Desa yang Lindungi Hutan hingga Berhasil Ekspor Madu
Kisah Zaiwan, Kepala Desa yang Lindungi Hutan hingga Berhasil Ekspor Madu
BUMN
Bakal Selundupkan Satwa Langka ke Thailand, Pemuda di Sumut Terancam 15 Tahun Penjara
Bakal Selundupkan Satwa Langka ke Thailand, Pemuda di Sumut Terancam 15 Tahun Penjara
Pemerintah
Musim Kawin Penguin di Antartika Maju dari Biasanya, Dampak Krisis Iklim?
Musim Kawin Penguin di Antartika Maju dari Biasanya, Dampak Krisis Iklim?
LSM/Figur
Perusahaan Tambang Nikel Ini Rehabilitasi 743 Hektare Hutan di Konawe
Perusahaan Tambang Nikel Ini Rehabilitasi 743 Hektare Hutan di Konawe
Swasta
Daftar Lokasi Olimpiade Musim Dingin Bisa Berkurang akibat Perubahan Iklim
Daftar Lokasi Olimpiade Musim Dingin Bisa Berkurang akibat Perubahan Iklim
Pemerintah
Krisis Iklim Bisa Pangkas Pendapatan Industri Olahraga
Krisis Iklim Bisa Pangkas Pendapatan Industri Olahraga
LSM/Figur
PBB Ingatkan 318 Juta Orang Kelaparan, Ancaman untuk Stabilitas Ekonomi Dunia
PBB Ingatkan 318 Juta Orang Kelaparan, Ancaman untuk Stabilitas Ekonomi Dunia
Pemerintah
Bumi Pernah Alami Panas Ekstrem 56 Juta Tahun Lalu, Picu Kebakaran dan Erosi
Bumi Pernah Alami Panas Ekstrem 56 Juta Tahun Lalu, Picu Kebakaran dan Erosi
LSM/Figur
Celios: WEF Jadi Momentum Strategis Tarik Investasi Hijau ke RI
Celios: WEF Jadi Momentum Strategis Tarik Investasi Hijau ke RI
LSM/Figur
Banjir Rob Jakarta Bisa Makin Parah akibat Perubahan Iklim
Banjir Rob Jakarta Bisa Makin Parah akibat Perubahan Iklim
Pemerintah
Great Barrier Reef Australia Makin Parah Saat Laut Tenang, Ini Penjelasannya
Great Barrier Reef Australia Makin Parah Saat Laut Tenang, Ini Penjelasannya
LSM/Figur
Banjir Jakarta Berulang, BRIN Sebut Urbanisasi hingga Tanah Turun Jadi Penyebab
Banjir Jakarta Berulang, BRIN Sebut Urbanisasi hingga Tanah Turun Jadi Penyebab
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau