KOMPAS.com - International Sustainability Standards Board (ISSB) mengusulkan amandemen pada standar SASB.
Amandemen ini dimaksudkan untuk mendorong perusahaan minyak dan gas lebih transparan mengenai jumlah metana yang mereka lepaskan ke atmosfer, yang merupakan gas pendorong perubahan iklim.
Standar SASB sendiri merupakan standar yang dikembangkan oleh Sustainability Accounting Standards Board yang memandu perusahaan dalam mengungkapkan informasi keberlanjutan yang relevan secara finansial.
Secara tradisional, metana dikelompokkan di bawah label umum setara CO2, yang seringkali menutupi dampak langsungnya.
Perubahan yang diusulkan akan mewajibkan pelaporan metana scope 1, sehingga memberikan investor dan pasar akses ke data lingkungan dan operasional yang lebih akurat.
Pemisahan pengungkapan metana dari pelaporan karbon umum ini, menurut para analis, dapat memengaruhi keputusan investasi dan membentuk kembali persepsi risiko keuangan di sektor energi.
Baca juga: Emisi Metana Terus Meningkat, Tapi PBB Prediksi Penurunan Segera
Melansir Know ESG, Rabu (3/12/2025) potensi pemanasan metana kira-kira 80 kali lebih kuat daripada CO2, dan keberadaannya di atmosfer selama 7–12 tahun dapat memengaruhi iklim dan keuangan perusahaan.
Perusahaan yang gagal mengelola emisi metana berisiko tidak hanya mengalami konsekuensi lingkungan, tetapi juga kehilangan pendapatan, karena kebocoran gas menunjukkan kerugian ekonomi.
Contohnya adalah produsen LNG Australia, Santos, yang sahamnya anjlok setelah kebocoran metana yang berkelanjutan.
Hal ini menunjukkan bahwa saat ini, investor menyadari bahwa inefisiensi operasional dalam pengelolaan metana dapat menyebabkan kerugian finansial.
Lebih lanjut, pembuatan pelaporan metana scope 1 yang terpisah ini akan memungkinkan investor menilai dengan lebih akurat perusahaan mana yang berjalan efisien dan perusahaan mana yang memiliki kinerja lingkungan yang lebih baik.
Organisasi-organisasi, termasuk Environmental Defence Fund (EDF) dan Climate Bonds Initiative (CBI) mengatakan pula memasukkan data metana ke dalam standar sektor dapat mempercepat perhatian regulasi dan tekanan pasar untuk penanganan emisi yang lebih baik.
Tak hanya itu saja, transparansi data metana menciptakan konsekuensi finansial langsung.
Baca juga: Emisi Metana: Yang Penting Bukan Datanya, Tapi Menghentikannya
Contohnya saja, investor dapat memasukkan penalti ke dalam valuasi perusahaan, misalnya dengan menjual saham yang menurunkan harga saham. Penalti tersebut akan membuat perusahaan pada akhirnya termotivasi untuk mengurangi emisi metana agar valuasi saham mereka tak turun.
Investor terkemuka merespons positif langkah pengungkapan metana ISSB.
Seperti misalnya Norges Bank Investment Management, yang mengelola 1,9 triliun dolar AS, menyambut baik langkah tersebut, dengan menyatakan bahwa emisi scope 1 yang terpisah dapat mengungkapkan paparan regulasi langsung, dampak penetapan harga karbon, dan inefisiensi operasional.
Selain itu, Kelompok Kerja Pendanaan Metana, yang mencakup PIMCO, CalSTRS, dan PGIM, mengharapkan pelaporan baru ini dapat menginformasikan instrumen keuangan yang dirancang untuk pengurangan metana, menyalurkan modal untuk proyek-proyek yang mengurangi emisi dan memengaruhi model valuasi perusahaan minyak dan gas.
Dengan mengidentifikasi emisi metana sebagai faktor material, sektor energi menghadapi pengawasan yang lebih ketat dari investor, pasar, dan regulator.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya