Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Banjir Rob Jakarta Bisa Makin Parah akibat Perubahan Iklim

Kompas.com, 20 Januari 2026, 13:47 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - M Fakhrudin mengungkapkan, banjir rob akan terus menghantui pesisir Jakarta, menurut peneliti Limnologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), M Fakhrudin. Kondisi tersebut diperparah perubahahan iklim yang malanda dunia.

"Kalau ini karena pengaruh perubahan iklim, itu makin lama makin meningkat robnya," kata Fakhrudin saat dihubungi Kompas.com, Selasa (20/1/2026).

Baca juga: 

Banjir rob Jakarta, bagaimana menanganinya?

Tanggul saja tak cukup

Pembangunan tanggul laut, lanjut Fakhrudin, dapat menjadi solusi mitigasi banjir rob di Jakarta Utara selayaknya wacana pemerintah. Namun, tanggul bukan satu-satunya langkah pengendalian banjir rob.

Fakhrudin menilai, penanaman serta rehabilitasi mangrove dapat membantu meredam gelombang sekaligus menahan intrusi air laut.

"Itu memang harus terintegrasi, kita enggak bisa melihat tanggul laut saja.
Apakah di situ misalkan mangrove-nya, ditingkatkan penanaman mangrove seharusnya dikombinasi," tutur dia.

Pembangunan infrastruktur pesisir juga tidak boleh mengganggu aliran sungai dari hulu ke hilir. Apabila aliran terganggu, risiko banjir di daratan bakal meningkat.

Baca juga:

Banjir Jakarta terjadi berulang

Sejumlah pengendara motor yang terjebak banjir memilih untuk mendorong kendaraan mereka di  Jalan Boulevard Timur, Pegangsaan Dua, Kecamatan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Minggu (18/1/2026).(KOMPAS.com/NURPINI AULIA RAPIKA). Sejumlah pengendara motor yang terjebak banjir memilih untuk mendorong kendaraan mereka di Jalan Boulevard Timur, Pegangsaan Dua, Kecamatan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Minggu (18/1/2026).

Selain banjir rob, Jakarta menghadapi permasalahan lain yakni banjir tahunan kala hujan ekstrem melanda.

Perubahan tata guna lahan di kawasan hulu, tingginya urbanisasi, hingga penurunan muka tanah memperberat risiko banjir dari tahun ke tahun di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek).

"Urbanisasi ini sebenarnya perumpamaannya kalau sebelum ada perumahan, air banyak meresap ke tanah plus juga tertahan di permukaan. Ada tanaman sehingga agak lama ke hilirnya," kata Fakhrudin.

"Begitu ada perumahan, infiltrasi peresapan ke dalam tanah berkurang, dan yang kedua sisanya infiltrasi mengalirnya ke hilir pelan-pelan sehingga di hilir bebannya makin tinggi," imbuh dia.

Baca juga:

Kota dengan tingkat urbanisasi tinggi ini memiliki topografi datar dan mengalami penurunan muka tanah. Alhasil menyebabkan aliran air menuju laut menjadi makin lambat.

Menurut Fakhrudin, hal itu diperparah fenomena pasang air laut yang kerap terjadi, memicu aliran air dari darat tertahan dan meningkatkan potensi banjir.

Sistem drainase yang tak mumpuni menambah sederet pekerjaan rumah untuk menangani banjir di Jakarta.

"Drainase di Jakarta memang didesain pada hujan-hujan tertentu. Harusnya desain drainase harus disesuaikan dengan intensitas hujan yang semakin meningkat, periode ulangnya semakin pendek," jelas dia.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
PBB Ingatkan 318 Juta Orang Kelaparan, Ancaman untuk Stabilitas Ekonomi Dunia
PBB Ingatkan 318 Juta Orang Kelaparan, Ancaman untuk Stabilitas Ekonomi Dunia
Pemerintah
Bumi Pernah Alami Panas Ekstrem 56 Juta Tahun Lalu, Picu Kebakaran dan Erosi
Bumi Pernah Alami Panas Ekstrem 56 Juta Tahun Lalu, Picu Kebakaran dan Erosi
LSM/Figur
Celios: WEF Jadi Momentum Strategis Tarik Investasi Hijau ke RI
Celios: WEF Jadi Momentum Strategis Tarik Investasi Hijau ke RI
LSM/Figur
Banjir Rob Jakarta Bisa Makin Parah akibat Perubahan Iklim
Banjir Rob Jakarta Bisa Makin Parah akibat Perubahan Iklim
Pemerintah
Great Barrier Reef Australia Makin Parah Saat Laut Tenang, Ini Penjelasannya
Great Barrier Reef Australia Makin Parah Saat Laut Tenang, Ini Penjelasannya
LSM/Figur
Banjir Jakarta Berulang, BRIN Sebut Urbanisasi hingga Tanah Turun Jadi Penyebab
Banjir Jakarta Berulang, BRIN Sebut Urbanisasi hingga Tanah Turun Jadi Penyebab
Pemerintah
Mikroplastik Ditemukan di Satu-satunya Serangga di Antartika
Mikroplastik Ditemukan di Satu-satunya Serangga di Antartika
LSM/Figur
TN Way Kambas Pulihkan 1.286 Hektar Ekosistem, Kurangi Konflik Gajah dan Manusia
TN Way Kambas Pulihkan 1.286 Hektar Ekosistem, Kurangi Konflik Gajah dan Manusia
Pemerintah
Kenaikan Suhu 1,5 Derajat Celsius Tak Terelakkan, PBB Ingatkan Risiko Global
Kenaikan Suhu 1,5 Derajat Celsius Tak Terelakkan, PBB Ingatkan Risiko Global
Pemerintah
Permintaan Bahan Bakar Fosil Diprediksi Melambat pada 2026, Energi Surya dan Angin Naik
Permintaan Bahan Bakar Fosil Diprediksi Melambat pada 2026, Energi Surya dan Angin Naik
LSM/Figur
7 KPI untuk Manufaktur Berkelanjutan, Olah Limbah hingga Polusi Udara
7 KPI untuk Manufaktur Berkelanjutan, Olah Limbah hingga Polusi Udara
Swasta
3 Sponsor Olimpiade Musim Dingin 2026 Diprotes, Emisi Karbon Bisa Tembus 1,3 Juta Ton
3 Sponsor Olimpiade Musim Dingin 2026 Diprotes, Emisi Karbon Bisa Tembus 1,3 Juta Ton
LSM/Figur
AS dan Venezuela, Ekstraksi Minyak Ekstensif Tingkatkan Emisi Metana
AS dan Venezuela, Ekstraksi Minyak Ekstensif Tingkatkan Emisi Metana
LSM/Figur
Degradasi Padang Lamun Berpotensi Lepaskan Karbon ke Atmosfer
Degradasi Padang Lamun Berpotensi Lepaskan Karbon ke Atmosfer
Pemerintah
Bumi di Ambang Krisis Lingkungan, Ini 5 Langkah yang Harus Dilakukan Dunia
Bumi di Ambang Krisis Lingkungan, Ini 5 Langkah yang Harus Dilakukan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau