KOMPAS.com - Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) menyampaikan, meningkatnya kelaparan dan pengungsian tidak hanya keadaan darurat kemanusiaan, tapi juga ancaman yang semakin besar terhadap stabilitas ekonomi global.
Program Pangan Dunia PBB (UN World Food Programme atau WFP) melaporkan bahwa diperkirakan 318 juta orang di dunia saat ini menghadapi tingkat kelaparan pada level krisis atau lebih buruk, dengan ratusan ribu orang di antaranya sudah mengalami kondisi yang menyerupai kelaparan besar.
Baca juga:
Organisasi tersebut memperingatkan bahwa kekurangan dana yang sangat besar bisa memaksa mereka untuk memotong jatah makanan, dan bahkan mengurangi bantuan pada saat kebutuhan masyarakat justru sedang melonjak tajam.
Dilansir dari laman resmi United Nations, Senin (19/1/2026) pendanaan WFP saat ini hanya di bawah setengah dari anggaran 13 miliar dollar Amerika Serikat (sekitar Rp 220,4 triliun) yang dibutuhkan untuk tahun 2026.
Lembaga ini pun hanya mampu menjangkau sekitar 110 juta orang yaitu sepertiga dari total mereka yang membutuhkan.
PBB menilai kelaparan bukan sekadar krisis kemanusiaan. Sebanyak 318 juta orang terancam lapar dan bisa mengguncang stabilitas ekonomi.Kelaparan berdampak pada banyak hal, tapi mengatasinya bisa membuahkan hasil.
Rania Dagash-Kamara, Asisten Direktur Eksekutif WFP untuk Kemitraan dan Inovasi mengungkapkan, kelaparan mendorong pengungsian, konflik, dan ketidakstabilan.
Hal tersebut tidak hanya mengancam nyawa, tetapi juga mengganggu pasar yang sangat bergantung pada bisnis.
“Dunia tidak dapat membangun pasar yang stabil di atas fondasi 318 juta orang yang kelaparan,” katanya.
Dagash-Kamara menambahkan, sektor swasta memiliki kepentingan langsung dalam mengatasi kerawanan pangan, menyerukan perusahaan untuk berinvestasi dalam rantai pasokan, teknologi, dan inovasi yang dapat membantu menstabilkan pasar yang rapuh dan melindungi tenaga kerja.
WFP mendesak pemimpin perekonomian tetap menjadikan kelaparan dan ketahanan sebagai prioritas utama mereka, berinvestasi dalam sistem rantai pasokan yang memperkuat pasar yang rapuh, dan mendukung teknologi terkait pangan yang meningkatkan efisiensi dan ketahanan.
Baca juga:
PBB menilai kelaparan bukan sekadar krisis kemanusiaan. Sebanyak 318 juta orang terancam lapar dan bisa mengguncang stabilitas ekonomi.
Sementara itu, Organisasi Internasional untuk Migrasi PBB (UN International Organization for Migration atau IOM) juga mengungkapkan para pemimpin politik dan bisnis untuk memikirkan kembali migrasi sebagai pendorong pertumbuhan dibanding beban.
“Migrasi adalah salah satu pendorong pembangunan yang paling kuat jika dikelola secara bertanggung jawab,” kata Direktur Jenderal IOM, Amy Pope.
“Mobilitas dapat membuka potensi ekonomi, membantu masyarakat berkembang secara mandiri, dan memberikan solusi berkelanjutan untuk pengungsi, sambil tetap menghormati kedaulatan nasional dan hak asasi manusia,” paparnya.
IOM mengatakan bahwa kemitraan dengan perusahaan swasta dan yayasan telah membantu mewujudkan pendekatan tersebut.
Hal itu termasuk penggunaan AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan) untuk meningkatkan pemeriksaan kesehatan dan kebijakan pasar tenaga kerja, serta program yang mendukung pelatihan kejuruan, kewirausahaan, dan solusi berkelanjutan bagi pengungsi.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya