Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PBB Ingatkan 318 Juta Orang Kelaparan, Ancaman untuk Stabilitas Ekonomi Dunia

Kompas.com, 20 Januari 2026, 16:35 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) menyampaikan, meningkatnya kelaparan dan pengungsian tidak hanya keadaan darurat kemanusiaan, tapi juga ancaman yang semakin besar terhadap stabilitas ekonomi global.

Program Pangan Dunia PBB (UN World Food Programme atau WFP) melaporkan bahwa diperkirakan 318 juta orang di dunia saat ini menghadapi tingkat kelaparan pada level krisis atau lebih buruk, dengan ratusan ribu orang di antaranya sudah mengalami kondisi yang menyerupai kelaparan besar.

Baca juga: 

PBB ingatkan kelaparan dan pengungsian yang meningkat

Kelaparan bisa mendorong konflik dan ketidakstabilan

Organisasi tersebut memperingatkan bahwa kekurangan dana yang sangat besar bisa memaksa mereka untuk memotong jatah makanan, dan bahkan mengurangi bantuan pada saat kebutuhan masyarakat justru sedang melonjak tajam.

Dilansir dari laman resmi United Nations, Senin (19/1/2026) pendanaan WFP saat ini hanya di bawah setengah dari anggaran 13 miliar dollar Amerika Serikat (sekitar Rp 220,4 triliun) yang dibutuhkan untuk tahun 2026.

Lembaga ini pun hanya mampu menjangkau sekitar 110 juta orang yaitu sepertiga dari total mereka yang membutuhkan.

PBB menilai kelaparan bukan sekadar krisis kemanusiaan. Sebanyak 318 juta orang terancam lapar dan bisa mengguncang stabilitas ekonomi.Unsplash/Siegfried Poepperl PBB menilai kelaparan bukan sekadar krisis kemanusiaan. Sebanyak 318 juta orang terancam lapar dan bisa mengguncang stabilitas ekonomi.

Kelaparan berdampak pada banyak hal, tapi mengatasinya bisa membuahkan hasil.

Rania Dagash-Kamara, Asisten Direktur Eksekutif WFP untuk Kemitraan dan Inovasi mengungkapkan, kelaparan mendorong pengungsian, konflik, dan ketidakstabilan.

Hal tersebut tidak hanya mengancam nyawa, tetapi juga mengganggu pasar yang sangat bergantung pada bisnis.

“Dunia tidak dapat membangun pasar yang stabil di atas fondasi 318 juta orang yang kelaparan,” katanya.

Dagash-Kamara menambahkan, sektor swasta memiliki kepentingan langsung dalam mengatasi kerawanan pangan, menyerukan perusahaan untuk berinvestasi dalam rantai pasokan, teknologi, dan inovasi yang dapat membantu menstabilkan pasar yang rapuh dan melindungi tenaga kerja.

WFP mendesak pemimpin perekonomian tetap menjadikan kelaparan dan ketahanan sebagai prioritas utama mereka, berinvestasi dalam sistem rantai pasokan yang memperkuat pasar yang rapuh, dan mendukung teknologi terkait pangan yang meningkatkan efisiensi dan ketahanan.

Baca juga: 

PBB menilai kelaparan bukan sekadar krisis kemanusiaan. Sebanyak 318 juta orang terancam lapar dan bisa mengguncang stabilitas ekonomi.Shutterstock PBB menilai kelaparan bukan sekadar krisis kemanusiaan. Sebanyak 318 juta orang terancam lapar dan bisa mengguncang stabilitas ekonomi.

Sementara itu, Organisasi Internasional untuk Migrasi PBB (UN International Organization for Migration atau IOM) juga mengungkapkan para pemimpin politik dan bisnis untuk memikirkan kembali migrasi sebagai pendorong pertumbuhan dibanding beban.

“Migrasi adalah salah satu pendorong pembangunan yang paling kuat jika dikelola secara bertanggung jawab,” kata Direktur Jenderal IOM, Amy Pope.

“Mobilitas dapat membuka potensi ekonomi, membantu masyarakat berkembang secara mandiri, dan memberikan solusi berkelanjutan untuk pengungsi, sambil tetap menghormati kedaulatan nasional dan hak asasi manusia,” paparnya.

IOM mengatakan bahwa kemitraan dengan perusahaan swasta dan yayasan telah membantu mewujudkan pendekatan tersebut.

Hal itu termasuk penggunaan AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan) untuk meningkatkan pemeriksaan kesehatan dan kebijakan pasar tenaga kerja, serta program yang mendukung pelatihan kejuruan, kewirausahaan, dan solusi berkelanjutan bagi pengungsi.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Krisis Iklim Bisa Pangkas Pendapatan Industri Olahraga
Krisis Iklim Bisa Pangkas Pendapatan Industri Olahraga
LSM/Figur
PBB Ingatkan 318 Juta Orang Kelaparan, Ancaman untuk Stabilitas Ekonomi Dunia
PBB Ingatkan 318 Juta Orang Kelaparan, Ancaman untuk Stabilitas Ekonomi Dunia
Pemerintah
Bumi Pernah Alami Panas Ekstrem 56 Juta Tahun Lalu, Picu Kebakaran dan Erosi
Bumi Pernah Alami Panas Ekstrem 56 Juta Tahun Lalu, Picu Kebakaran dan Erosi
LSM/Figur
Celios: WEF Jadi Momentum Strategis Tarik Investasi Hijau ke RI
Celios: WEF Jadi Momentum Strategis Tarik Investasi Hijau ke RI
LSM/Figur
Banjir Rob Jakarta Bisa Makin Parah akibat Perubahan Iklim
Banjir Rob Jakarta Bisa Makin Parah akibat Perubahan Iklim
Pemerintah
Great Barrier Reef Australia Makin Parah Saat Laut Tenang, Ini Penjelasannya
Great Barrier Reef Australia Makin Parah Saat Laut Tenang, Ini Penjelasannya
LSM/Figur
Banjir Jakarta Berulang, BRIN Sebut Urbanisasi hingga Tanah Turun Jadi Penyebab
Banjir Jakarta Berulang, BRIN Sebut Urbanisasi hingga Tanah Turun Jadi Penyebab
Pemerintah
Mikroplastik Ditemukan di Satu-satunya Serangga di Antartika
Mikroplastik Ditemukan di Satu-satunya Serangga di Antartika
LSM/Figur
TN Way Kambas Pulihkan 1.286 Hektar Ekosistem, Kurangi Konflik Gajah dan Manusia
TN Way Kambas Pulihkan 1.286 Hektar Ekosistem, Kurangi Konflik Gajah dan Manusia
Pemerintah
Kenaikan Suhu 1,5 Derajat Celsius Tak Terelakkan, PBB Ingatkan Risiko Global
Kenaikan Suhu 1,5 Derajat Celsius Tak Terelakkan, PBB Ingatkan Risiko Global
Pemerintah
Permintaan Bahan Bakar Fosil Diprediksi Melambat pada 2026, Energi Surya dan Angin Naik
Permintaan Bahan Bakar Fosil Diprediksi Melambat pada 2026, Energi Surya dan Angin Naik
LSM/Figur
7 KPI untuk Manufaktur Berkelanjutan, Olah Limbah hingga Polusi Udara
7 KPI untuk Manufaktur Berkelanjutan, Olah Limbah hingga Polusi Udara
Swasta
3 Sponsor Olimpiade Musim Dingin 2026 Diprotes, Emisi Karbon Bisa Tembus 1,3 Juta Ton
3 Sponsor Olimpiade Musim Dingin 2026 Diprotes, Emisi Karbon Bisa Tembus 1,3 Juta Ton
LSM/Figur
AS dan Venezuela, Ekstraksi Minyak Ekstensif Tingkatkan Emisi Metana
AS dan Venezuela, Ekstraksi Minyak Ekstensif Tingkatkan Emisi Metana
LSM/Figur
Degradasi Padang Lamun Berpotensi Lepaskan Karbon ke Atmosfer
Degradasi Padang Lamun Berpotensi Lepaskan Karbon ke Atmosfer
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau