Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Peneliti Kembangkan AI TreeStructor untuk Kenali Struktur Pohon di Hutan

Kompas.com, 22 Januari 2026, 16:00 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

"Data yang kami gunakan menantang, dan kami bekerja dengan hutan lengkap," tutur salah satu penulis sekaligus profesor ilmu komputer di Universitas Kiel, Sören Pirk.

Baca juga:

Punya kompleksitas alami

Studi ini memanfaatkan aspek repetitif dari struktur alami yang kompleks. Dengan asumsi pohon menampilkan struktur berulang pada berbagai skala, para peneliti menciptakan kumpulan data representatif berupa sebuah kamus.

Kemudian, para peneliti membiarkan AI mempelajari elemen yang ada dan menemukannya dengan cepat dalam data point-cloud.

"Semua daun maple, misalnya, menampilkan variasi tema yang sama, tetapi begitu Anda melihat beberapa, Anda dapat mengenali sebagian besar di antaranya," ucap Benes.

Kamus itu terdiri dari point clouds dan sekumpulan jala bentuk geometris yang sesuai dan belum diurutkan.

TreeStructor merupakan model AI yang mengambil point clouds yang belum pernah dilihat sebelumnya dan mengurutkan obyek-obyek dalam kamusnya. 

Model tersebut mencocokkan bagian-bagian dari point clouds, dengan jaring bentuk geometris tiga dimensi terpisah-pisah, serta mewakili batang pohon dan bagian-bagian percabangan yang sulit dideteksi dengan metode sebelumnya.

Hasilnya, jaringan bentuk saling terhubung yang diibaratkan Benes dengan pipa dalam sistem perpipaan.

Baca juga:

Potensi identifikasi spesies pada masa depan

TreeStructor merupakan metode AI baru untuk mengisolasi dan merekonstruksi pepohonan di hutan.Unsplash/Gagandeep Singh TreeStructor merupakan metode AI baru untuk mengisolasi dan merekonstruksi pepohonan di hutan.

Salah satu penulis, Ketua Dekan bidang Remote Sensing dan direktur Institut Kehutanan Digital, Songlin Fei menganggap, pembuatan kamus pohon ini merupakan langkah signifikan menuju identifikasi spesies

"Pengembangan lebih lanjut dari kamus ini tidak hanya akan membantu Anda merekonstruksi pohon tetapi juga memberi tahu Anda jenis pohon apa itu," tutur Fei.

Sebelum rekonstruksi data dimulai, para peneliti mengembangkan kode sumber untuk melatih kumpulan data yang dihasilkan secara sintetis.

Mereka menciptakan ribuan pohon virtual dengan dipindai oleh lidar virtual dan dipotong menjadi bagian-bagian pohon yang bisa dikenali dan dihubungkan.

Setelah itu, proses pelatihan AI yang memakan waktu dimulai dan TreeStructor dapat digunakan untuk mendeteksi pohon.

Keakuratan TreeStructor divalidasi dalam serangkaian pengujian, di antaranya merekonstruksi model pohon yang sama dengan pemindaian laser yang dikumpulkan melalui ransel, pemindaian laser terestrial, dan drone. Termasuk, membandingkannya dengan metode yang merekonstruksi pohon tunggal.

"Metode ini cukup tangguh terhadap berbagai sensor," ucap Benes.

Namun, TreeStructor tidak mampu mendeteksi pohon mati, semak, dan puing-puing lainnya di lapisan bawah hutan. Resolusi sensor Lidar juga menjadi faktor.

"Setiap tahun, kita memiliki lidar dengan kualitas yang semakin tinggi, tapi ada batasan teknologi pada sensor-sensor ini," ujar Benes.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Denpasar dan Badung Punya Target Sebulan untuk Pilah Sampah dari Sumbernya
Denpasar dan Badung Punya Target Sebulan untuk Pilah Sampah dari Sumbernya
Pemerintah
Musim Kemarau di Indonesia Diprediksi Lebih Cepat dan Lebih Kering
Musim Kemarau di Indonesia Diprediksi Lebih Cepat dan Lebih Kering
Pemerintah
Pemerintah Sebut Insinerator Bisa Kurangi Sampah hingga 90 Persen, tetapi Biayanya Tinggi
Pemerintah Sebut Insinerator Bisa Kurangi Sampah hingga 90 Persen, tetapi Biayanya Tinggi
Pemerintah
Nuri Kepala Hitam Papua Ditemukan di Kapal, BKSDA Maluku Langsung Bertindak
Nuri Kepala Hitam Papua Ditemukan di Kapal, BKSDA Maluku Langsung Bertindak
Pemerintah
Petugas Masih Berupaya Padamkan 118 Hektar Hutan di Riau Kebakaran
Petugas Masih Berupaya Padamkan 118 Hektar Hutan di Riau Kebakaran
Pemerintah
Jepang Incar Pulau Terpencil Jadi Lokasi Pembuangan Limbah Nuklir
Jepang Incar Pulau Terpencil Jadi Lokasi Pembuangan Limbah Nuklir
Pemerintah
Pembangunan Melampaui Batas Ekologi
Pembangunan Melampaui Batas Ekologi
Pemerintah
Polusi Udara Bisa Ganggu Kesehatan Mental, Depresi hingga Cemas
Polusi Udara Bisa Ganggu Kesehatan Mental, Depresi hingga Cemas
LSM/Figur
Pohon di Kota Serap Lebih Banyak CO2 Dibanding Emisi Kendaraan
Pohon di Kota Serap Lebih Banyak CO2 Dibanding Emisi Kendaraan
LSM/Figur
Tiru Kesuksesan Sawit, Prabowo Minta Kementan Hilirisasi 7 Komoditas Ini
Tiru Kesuksesan Sawit, Prabowo Minta Kementan Hilirisasi 7 Komoditas Ini
Pemerintah
Paving Block Ramah Lingkungan, Manfaatkan Limbah Kerang dan Tambang
Paving Block Ramah Lingkungan, Manfaatkan Limbah Kerang dan Tambang
LSM/Figur
Keberlanjutan dan Hilirisasi Kelapa Sawit Jadi Kunci Lawan Gejolak Harga Global
Keberlanjutan dan Hilirisasi Kelapa Sawit Jadi Kunci Lawan Gejolak Harga Global
LSM/Figur
Gen Z Paling Khawatir Dampak AI, Baby Boomer Justru Percaya Diri
Gen Z Paling Khawatir Dampak AI, Baby Boomer Justru Percaya Diri
LSM/Figur
Salon Bisa Jadi Senjata Rahasia Melawan Krisis Iklim, Kok Bisa?
Salon Bisa Jadi Senjata Rahasia Melawan Krisis Iklim, Kok Bisa?
Pemerintah
Schneider Electric Kurangi 862 Juta Ton Emisi CO2 pada 2021–2025
Schneider Electric Kurangi 862 Juta Ton Emisi CO2 pada 2021–2025
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau