JAKARTA, KOMPAS.com - Kelapa sawit sebagai komoditas memiliki berbagai keunggulan. Namun, tidak semua lahan di Indonesia cocok untuk dialihfungsikan sebagai perkebunan kelapa sawit.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah membuat peta kesesuaian lahan di Indonesia untuk menentukan jenis tanaman komoditas atau pangan yang cocok untuk masing-masing lokasi.
Baca juga:
Peta kesesuaian lahan akan dimanfaatkan sebagai fondasi bagi pembangunan pertanian Indonesia ke depannya.
"Sawit tidak fit for all. Tidak fit untuk semua lokasi," ujar Kepala BRIN, Arif Satria dalam diskusi dan diseminasi riset Papua Harus Ditanami Kelapa Sawit? di Jakarta, Rabu (28/1/2026).
Selain itu, perlu pula pemetaan secara sosial untuk mengetahui apakah masyarakat di sekitar lahan tersebut bersedia hidup berdampingan dengan usaha perkebunan atau sektor pertanian lainnya.
"Karena bisa saja secara ekologis tetap, tapi secara sosial belum tentu tepat sehingga strategi untuk mengembangkan pusat-pusat pertumbuhan baru di bidang perkebunan dan di bidang pertanian ini, mau tidak mau harus memperhatikan aspek-aspek sosial," jelas Arif.
Baca juga:
Desmiwati (kiri) dan Lukas Rumboko Wibowo dari BRIN (kedua dari kiri); perwakilan masyarakat adat Moi, Desi Mansinau (tengah); serta Direktur Pusaka Bentala Rakyat, Franky Samperante (kedua dari kanan) saat diseminasi dan diskusi hasil riset 'Papua Harus Ditanami Kelapa Sawit? di Gedung Widya Graha BRIN, Jakarta, Kamis (29/1/2026).Menurut Arif, dalam pemetaan secara sosial, peran sosiolog dan antropolog sangat diperlukan.
Ada beberapa komponen penting dalam pendekatan terbaru dalam sustainability science, dengan mengakomodasi local knowledge. Inilah yang membedakan sustainability science dengan environmental science yang memakai pendekatan positivistik dan selalu melihat hukum alam bersifat universal.
"Sustainability science cenderung lebih bukan konstruktivistik dan akan melihat dalam perspektif yang berbeda, selalu berusaha memahami bagaimana masyarakat memaknai lingkungannya. Nah, jadi sustainability science dengan human ecology ya, dengan social ecology, itu sangat-sangat berdekatan dan saling support," terang Arif.
Arif menganggap transformasi ekonomi dan sosial di Papua harus berjalan beriringan. Aspek ekonomi, sosial, dan ekologi harus dicari titik keseimbangannya.
Jika rasionalitas ekonomi terlalu dominan maka terjadi kerusakan ekologis dan sosial. Namun, kalau rasionalitas ekologi terlalu dominan maka terjadi stagnansi atau kemandekan ekonomi.
Pendekatan transdisipliner atau mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu dapat memecahkan permasalahan yang kompleks dengan mencari titik temu keseimbangan.
Pendekatan transdisipliner dengan melibatkan akademisi dari berbagai latar belakang keilmuan bisa menghasilkan perspektif baru dalam mendukung transformasi sosial dan ekonomi secara beriringan di Papua.
"Semoga perspektif inilah yang kemudian akan terus menguat di riset-riset ke depan, sehingga kita memberikan opsi-opsi yang penting buat pemerintah, baik daerah maupun pusat, terkait dengan arah pembangunan di daerah ke depan," ujar Arif.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya