Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cara Mengajak Orang Peduli Perubahan Iklim, Ini Temuan Studi Terbaru

Kompas.com, 30 Januari 2026, 20:07 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Bagaimana cara mengajak orang lain untuk peduli terhadap perubahan iklim dan bersama-sama bergerak menghadapinya? 

Menurut studi yang dipimpin Universitas Stanford, kuncinya adalah menunjukkan kepada mereka bagaimana tindakan kolektif terkait iklim dapat berdampak nyata dan sering kali menghasilkan perasaan positif bagi seseorang.

Baca juga:

"Intervensi yang paling efektif secara konsisten menekankan baik efektivitas kolektif maupun manfaat emosional dari aksi iklim," tulis studi tersebut, dilansir dari laman PNAS Nexus, Jumat (30/1/2026).

Cara mengajak orang lain untuk peduli perubahan iklim

Mendorong aksi iklim bersama

Studi Universitas Stanford mengungkap cara mengajak orang peduli perubahan iklim tanpa menakut-nakuti. Kuncinya ada pada aksi kolektif.Unsplash Studi Universitas Stanford mengungkap cara mengajak orang peduli perubahan iklim tanpa menakut-nakuti. Kuncinya ada pada aksi kolektif.

Sekitar 10 tahun setelah hampir 200 pemimpin dunia sepakat di Paris untuk membatasi perubahan iklim, tenaga surya telah menjadi sumber listrik baru yang paling cepat berkembang dan puluhan negara telah mengurangi emisi sambil mengembangkan ekonomi mereka.

Secara global, emisi pembakaran bahan bakar fosil telah melambat tetapi belum menurun. Namun, perubahan struktural benar-benar dibutuhkan supaya perubahan iklim dapat ditekan.

Masalahnya, menurut Madalina Vlasceanu, asisten profesor ilmu sosial lingkungan di Stanford Doerr School of Sustainability, perubahan struktural itu tidak dapat diperoleh tanpa individu yang menuntutnya, dilansir dari Phys.org.

Namun, bagaimana caranya agar individu ini tergerak?

Untuk mengetahui bagaimana individu bisa bersama-sama dalam satu kelompok menghadapi perubahan iklim, tim peneliti pun melakukan uji coba dengan merekrut lebih dari 30.000 penduduk Amerika Serikat.

Tujuannya menguji 17 intervensi berbasis psikologi yang berbeda untuk mendorong seseorang bergabung dalam aksi iklim kolektif, seperti berpartisipasi dalam demonstrasi publik atau menulis surat kepada perwakilan.

Intervensi tersebut menampilkan video, gambar, teks, dan elemen interaktif, seperti ajakan untuk menulis refleksi singkat.

Intervensi utama tersebut memberikan contoh-contoh upaya kolektif masa lalu terkait iklim yang telah memengaruhi kebijakan publik, menampilkan video pendek yang menyampaikan semangat dalam aksi demonstrasi iklim, dan mengajak peserta untuk mengingat atau membayangkan terjalinnya pertemanan melalui aksi iklim.

Intervensi kemudian ditutup dengan pesan bahwa bergabung dalam aksi kolektif dapat meningkatkan kebahagiaan dan membangun hubungan sosial.

Setelah fase intervensi, peserta memiliki kesempatan untuk mengambil atau berkomitmen pada salah satu dari tiga jenis tindakan.

Baca juga:

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier
Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier
Pemerintah
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Pemerintah
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
Pemerintah
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Pemerintah
Pemerintah Perketat Pengawasan Penerima MBG hingga Limbah Makanan di Sekolah
Pemerintah Perketat Pengawasan Penerima MBG hingga Limbah Makanan di Sekolah
Pemerintah
Harga BBM Melonjak, Pemerintah Australia Didesak Gunakan Bus Listrik
Harga BBM Melonjak, Pemerintah Australia Didesak Gunakan Bus Listrik
Pemerintah
Pupuk Indonesia Jajaki Pembangunan Pabrik Metanol
Pupuk Indonesia Jajaki Pembangunan Pabrik Metanol
Pemerintah
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
Pemerintah
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Swasta
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
Pemerintah
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Pemerintah
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Swasta
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
Pemerintah
Potensi Bioetanol Limbah  Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
Potensi Bioetanol Limbah Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau