Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bahaya Nanoplastik di Air, Bakteri Makin Kuat dan Kebal Disinfektan

Kompas.com, 31 Januari 2026, 17:06 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Nanoplastik bisa membuat bakteri di air lebih kuat dan semakin sulit dihilangkan, termasuk menggunakan pembersih disinfektan, menurut studi yang terbit di jurnal Water Research

Potensi bahaya nanoplastik lebih dari sekadar risiko jika bersarang di dalam tubuh manusia. Sebab, nanoplastik bisa berbahaya bila masuk ke sistem air yang digunakan masyarakat tiap hari.

Baca juga:

Apalagi nanoplastik dapat membuat patogen yang resisten terhadap antimikroba lebih mudah bertahan hidup, yang membahayakan lingkungan dan berdampak pada kesehatan masyarakat.

“Sangat penting untuk lebih memahami dampak buruk nanoplastik terhadap kesehatan manusia, dan bukan hanya pada manusia tapi juga pada lingkungan, yang secara tidak langsung memengaruhi kesehatan manusia,” ujar pemimpin studi sekaligus asisten profesor teknik sipil dan lingkungan dari Virginia Tech, Jingqiu Liao, dilansir dari SciTechDaily, Sabtu (31/1/2026).

Sebagai informasi, nanoplastik merupakan bagian mikroplastik. Ukurannya lebih kecil atau sekitar satu hingga 1.000 nanometer sehingga amat sulit dilihat mata.

"Secara keseluruhan, temuan kami memberikan wawasan baru tentang interaksi antara nanoplastik dan dinamika bakteri-fag, menyoroti peningkatan risiko mikroba yang terkait dengan nanoplastik yang terbawa air," tulis studi tersebut, dikutip dari Science Direct.

Baca juga:

Nanoplastik bikin bakteri di air lebih kuat

Nanoplastik membuat bakteri di air semakin kuat. Hal ini berisiko bagi sistem air minum dan kesehatan masyarakat.Unsplash/swankyfella Nanoplastik membuat bakteri di air semakin kuat. Hal ini berisiko bagi sistem air minum dan kesehatan masyarakat.

Sistem air bergantung pada beberapa langkah pengolahan yang dirancang untuk mengendalikan pertumbuhan mikroba. Namun, nanoplastik bisa dikaitkan dengan peningkatan resistensi terhadap disinfektan.

Pergeseran itu dapat membuat pengolahan dan distribusi rutin semakin sulit. Khususnya, jika mikroba menjadi lebih baik dalam bertahan di permukaan pipa dan muncul kembali di hilir.

“Ketika nanoplastik berinteraksi dengan biofilm dan bakteri di dalamnya, nanoplastik dapat memperkuat biofilm dan membuatnya lebih tahan terhadap segala jenis tindakan yang bertujuan menjaga kebersihan air,” tutur Liao, yang juga merupakan afiliasi dari Global Change Center di Fralin Life Sciences Institute.

Studi befokus pada apa yang terjadi saat nanoplastik memengaruhi pembentukan biofilm di dalam sistem air minum. Di sistem itulah bakteri suka hidup menempel di permukaan daripada mengambang bebas.

Baca juga:

Apa itu biofilm?

Nanoplastik membuat bakteri di air semakin kuat. Hal ini berisiko bagi sistem air minum dan kesehatan masyarakat.Shutterstock Nanoplastik membuat bakteri di air semakin kuat. Hal ini berisiko bagi sistem air minum dan kesehatan masyarakat.

Biofilm terbentuk ketika berbagai bakteri menempel di permukaan, seperti bagian dalam pipa air, dan membangun lapisan pelindung berlendir di sekeliling tubuh mereka. Lapisan tersebut membantu mereka tahan terhadap tekanan. 

Dalam beberapa situasi, biofilm dapat bermanfaat dengan membantu menjebak atau menguraikan zat-zat yang tidak diinginkan.

Namun, dalam sistem distribusi air minum, biofilm dapat menjadi masalah serius. Risiko ini erat kaitannya dengan mikroba apa yang ada dan apa yang mereka bawa.

Beberapa bakteri dalam biofilm bisa bersifat patogen. Bakteri juga dapat menjadi inang bagi bakteriofag yaitu virus yang dapat membentuk kembali komunitas mikroba dengan membunuh bakteri tertentu dan mendorong yang lain untuk beradaptasi, serta terkadang memengaruhi pergerakan materi genetik melalui suatu populasi.

“Proses utama yang sangat kami minati adalah bagaimana bakteri dan bakteriofag berinteraksi satu sama lain selama proses ketika nanoplastik memengaruhi biofilm secara keseluruhan,” ucap dia. 

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
BUMN
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Pemerintah
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Pemerintah
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Pemerintah
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Pemerintah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Swasta
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
LSM/Figur
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi 'Open Dumping' Belum Efektif
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi "Open Dumping" Belum Efektif
LSM/Figur
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
LSM/Figur
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Swasta
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
LSM/Figur
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau