KOMPAS.com - Nanoplastik bisa membuat bakteri di air lebih kuat dan semakin sulit dihilangkan, termasuk menggunakan pembersih disinfektan, menurut studi yang terbit di jurnal Water Research.
Potensi bahaya nanoplastik lebih dari sekadar risiko jika bersarang di dalam tubuh manusia. Sebab, nanoplastik bisa berbahaya bila masuk ke sistem air yang digunakan masyarakat tiap hari.
Baca juga:
Apalagi nanoplastik dapat membuat patogen yang resisten terhadap antimikroba lebih mudah bertahan hidup, yang membahayakan lingkungan dan berdampak pada kesehatan masyarakat.
“Sangat penting untuk lebih memahami dampak buruk nanoplastik terhadap kesehatan manusia, dan bukan hanya pada manusia tapi juga pada lingkungan, yang secara tidak langsung memengaruhi kesehatan manusia,” ujar pemimpin studi sekaligus asisten profesor teknik sipil dan lingkungan dari Virginia Tech, Jingqiu Liao, dilansir dari SciTechDaily, Sabtu (31/1/2026).
Sebagai informasi, nanoplastik merupakan bagian mikroplastik. Ukurannya lebih kecil atau sekitar satu hingga 1.000 nanometer sehingga amat sulit dilihat mata.
"Secara keseluruhan, temuan kami memberikan wawasan baru tentang interaksi antara nanoplastik dan dinamika bakteri-fag, menyoroti peningkatan risiko mikroba yang terkait dengan nanoplastik yang terbawa air," tulis studi tersebut, dikutip dari Science Direct.
Baca juga:
Nanoplastik membuat bakteri di air semakin kuat. Hal ini berisiko bagi sistem air minum dan kesehatan masyarakat.Sistem air bergantung pada beberapa langkah pengolahan yang dirancang untuk mengendalikan pertumbuhan mikroba. Namun, nanoplastik bisa dikaitkan dengan peningkatan resistensi terhadap disinfektan.
Pergeseran itu dapat membuat pengolahan dan distribusi rutin semakin sulit. Khususnya, jika mikroba menjadi lebih baik dalam bertahan di permukaan pipa dan muncul kembali di hilir.
“Ketika nanoplastik berinteraksi dengan biofilm dan bakteri di dalamnya, nanoplastik dapat memperkuat biofilm dan membuatnya lebih tahan terhadap segala jenis tindakan yang bertujuan menjaga kebersihan air,” tutur Liao, yang juga merupakan afiliasi dari Global Change Center di Fralin Life Sciences Institute.
Studi befokus pada apa yang terjadi saat nanoplastik memengaruhi pembentukan biofilm di dalam sistem air minum. Di sistem itulah bakteri suka hidup menempel di permukaan daripada mengambang bebas.
Baca juga:
Nanoplastik membuat bakteri di air semakin kuat. Hal ini berisiko bagi sistem air minum dan kesehatan masyarakat.Biofilm terbentuk ketika berbagai bakteri menempel di permukaan, seperti bagian dalam pipa air, dan membangun lapisan pelindung berlendir di sekeliling tubuh mereka. Lapisan tersebut membantu mereka tahan terhadap tekanan.
Dalam beberapa situasi, biofilm dapat bermanfaat dengan membantu menjebak atau menguraikan zat-zat yang tidak diinginkan.
Namun, dalam sistem distribusi air minum, biofilm dapat menjadi masalah serius. Risiko ini erat kaitannya dengan mikroba apa yang ada dan apa yang mereka bawa.
Beberapa bakteri dalam biofilm bisa bersifat patogen. Bakteri juga dapat menjadi inang bagi bakteriofag yaitu virus yang dapat membentuk kembali komunitas mikroba dengan membunuh bakteri tertentu dan mendorong yang lain untuk beradaptasi, serta terkadang memengaruhi pergerakan materi genetik melalui suatu populasi.
“Proses utama yang sangat kami minati adalah bagaimana bakteri dan bakteriofag berinteraksi satu sama lain selama proses ketika nanoplastik memengaruhi biofilm secara keseluruhan,” ucap dia.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya