KOMPAS.com - Hampir 100 anggota komunitas ilmiah global, termasuk perwakilan dari Union of Concerned Scientists, telah menandatangani surat yang menyerukan kepada para pemimpin dunia untuk membatasi ekspansi berbahaya dari biofuel.
Tindakan tersebut dilakukan menjelang perhelatan COP30 minggu ini. Seruan itu pun diharapkan dapat memengaruhi agenda dan keputusan yang akan dibuat di pertemuan puncak iklim tahunan PBB.
Seruan juga muncul saat Brasil, tuan rumah COP30 mencari dukungan para pemimpin dunia agar melipatgandakan penggunaan apa yang disebut bahan bakar berkelanjutan termasuk konsumsi biofuel sebagai komponen utama dari respons komunitas internasional terhadap krisis iklim.
Namun, melansir Clean Technica, Kamis (6/11/2025) semakin banyak bukti ilmiah menunjukkan bahwa rata-rata biofuel saat ini secara global bertanggung jawab atas 16 persen emisi lebih banyak daripada bahan bakar fosil yang mereka gantikan.
Baca juga: 27 Persen Serealia Bakal Jadi Biofuel pada 2024, Indonesia Produsen Utamanya
Pada tahun 2030, biofuel diproyeksikan akan mengeluarkan, setiap tahun, 70 MtCO2e (juta metrik ton setara CO2) lebih banyak daripada bahan bakar fosil yang mereka gantikan, setara dengan menempatkan 30 juta mobil diesel baru di jalanan.
Para ilmuwan juga memprediksi tiga dampak lingkungan negatif dari peningkatan perkebunan biofuel. Ekspansi akan berdampak pada kehancuran lingkungan di beberapa wilayah dengan keanekaragaman hayati paling kaya dunia.
Selain itu juga menghabiskan sumber daya air yang langka serta berkontribusi pada limpasan pertanian. Penggunaan pupuk dan pestisida yang intensif untuk tanaman biofuel dapat mencemari air permukaan dan air tanah melalui limpasan
Selain itu, para ilmuwan juga memperingatkan bahwa peningkatan penggunaan biofuel akan memperburuk kelaparan global dengan menaikkan harga pangan, mengintensifkan volatilitas harga pangan, dan mengalihkan kalori dari konsumsi manusia di mana kalori yang seharusnya digunakan untuk memberi makan manusia justru dialihkan untuk memproduksi bahan bakar.
Di negara-negara produsen biofuel, seperti Brasil dan Indonesia, LSM lokal menyerukan pendekatan holistik untuk mengelola dampak negatif, termasuk pembatasan budidaya, ketertelusuran yang lebih baik, dan investasi dalam tata kelola berbasis masyarakat dan energi terdesentralisasi.
Baca juga: Apa Itu Biofuel dan Benarkah Ramah Lingkungan?
Namun dorongan Brasil terhadap biofuel di pasar global dikhawatirkan akan menjadi sesuatu yang berbahaya karena bakal memicu ledakan produksi yang tak berkelanjutan seperti yang terjadi pada pertengahan tahun 2000-an.
Produksi yang tak berkelanjutan itu memicu deforestasi skala besar, hilangnya keanekaragaman hayati, dan pelanggaran hak asasi manusia.
“Buktinya sudah jelas, membakar tanaman pangan untuk dijadikan bahan bakar adalah ide yang buruk. Kita tidak bisa mengabaikan dampak yang ditimbulkannya terhadap iklim, ekologi, dan keamanan pangan. Pemerintah harus beralih ke alternatif yang benar-benar berkelanjutan daripada mendorong solusi yang, dalam banyak kasus, lebih banyak merugikan daripada menguntungkan,” kata Cian Delaney, pegiat biofuel di T&E.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya