Studi tersebut semestinya menjadi peringatan, jika melampaui suhu batas pemanasan, akan berdampak luas biasa terhadap segala hal. Mulai dari sektor pendidikan, kesehatan, pertanian, sampai migrasi.
"Pembangunan berkelanjutan dengan emisi nol bersih tetap menjadi satu-satunya jalan yang terbukti untuk membalikkan tren ini menuju hari-hari yang semakin panas. Sangat penting bagi para politisi untuk mengambil kembali inisiatif ke arah itu," tutur Profesor Madya di Smith School of Enterprise and the Environment dan pemimpin Program Oxford Martin Future of Cooling, Radhikaa Khosla.
Kenaikan suhu ekstrem diproyeksikan akan menyebabkan peningkatan secara signifikan dalam permintaan energi untuk sistem pendingin yang disertai kenaikan emisi gas rumah kaca (GRK).
Di sisi lain, permintaan untuk pemanasan di negara-negara, seperti Kanada dan Swiss akan menurun.
Studi mengakomodasi kumpulan data terbuka tentang permintaan pemanasan dan pendinginan global.
Tidak hanya itu, studi ini juga mengakomodasi kumpulan data iklim yang mudah diakses ke dalam perencanaan keberlanjutan dan kebijakan pembangunan.
Baca juga:
Studi memprediksi 3,79 miliar orang akan hidup dalam panas ekstrem pada 2050. Indonesia termasuk terdampak.Sebelumnya, studi terbaru dari Lizana memperkirakan permintaan akan pendinginan naik secara drastis di sejumlah negara, seperti Brasil, Indonesia, dan Nigeria.
Di negara-negara tersebut, ratusan orang tidak mempunyai pendingin udara atau cara lain untuk mengatasi panas ekstrem.
Di negara-negara dengan cuaca lebih dingin, masyarakatnya juga masih perlu beradaptasi dengan hari-hari yang lebih panas. Khususnya, negara-negara yang tidak terbiasa dengan kondisi itu, seperti Kanada, Rusia, dan Finlandia.
Studi ini meneliti berbagai skenario pemanasan global untuk memproyeksikan seberapa sering orang pada masa depan mengalami suhu yang dianggap terlalu panas atau terlalu dingin.
Hasilnya, jumlah penduduk yang mengalami kondisi panas ekstrem diproyeksikan akan hampir berlipat ganda pada tahun 2050 jika suhu rata-rata global naik dua derajat celsius di atas suhu pra-industri.
"Namun, sebagian besar dampaknya akan terasa pada dekade ini seiring dunia dengan cepat mendekati angka 1,5 derajat celsius. Kesimpulan utama dari ini adalah bahwa kebutuhan untuk beradaptasi dengan panas ekstrem lebih mendesak daripada yang diketahui sebelumnya," ujar Lizana, dilansir dari Phys.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya