Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Praktik Sustainability Perusahaan Indonesia Belum Masif, Padahal Rentan Krisis Iklim

Kompas.com, 3 Februari 2026, 21:37 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq menyampaikan, praktik sustainability atau keberlanjutan perusahaan Indonesia belum dilakukan secara masif. Padahal Indonesia menjadi salah satu negara yang paling rentan terhadap dampak krisis iklim.

"Kenapa demikian? Indonesia berada di daerah tropis berada pada lintang rendah mulai dari enam lintang utara di bagian paling utara, kemudian 11 lintang selatan di bagian selatan kita maka daerah itu sejatinya daerah yang paling rentan terkait dengan perubahan iklim," kata Hanif dalam ESG Sustainability Forum 2026 yang ditayangkan daring, Selasa (3/2/2026).

Baca juga:

Ia lalu menyoroti, kencangnya pembangunan kawasan industri, termasuk di Jakarta, yang tidak diimbangi dengan pertimbangan keberlanjutan lingkungan. Akibatnya, Jakarta mengalami penurunan muka tanah tiga sampai lima sentimeter per tahun.

Bahkan, di beberapa wilayah ada yang penurunannya mencapai 30 sentimeter.

Maka dari itu, Hanif menekankan bahwa prinsip environmental, social, and governance (ESG) harus menjadi momentum untuk menyelaraskan kepentingan dunia usaha dengan upaya membangun ketahanan iklim jangka panjang.

"ESG ini harus menjadi suatu momentum untuk kita menyelaraskan antara keinginan pragmatis kita dalam memajukan perusahaan, juga untuk membangun ketahanan iklim. Pandangan kita dalam visi-visi perusahaan yang mengambil segmen yang sangat pendek atau dramatis atau pragmatis, tentu perlu kita cermati," jelas dia.

Baca juga:

Menteri LH sebut praktik sustainability Indonesia belum masif

Singgung bencana hidrometeorologi yang disebabkan aktivitas manusia

Proses pemberisihan jalan dari material batu, kayu pasca banjir dan longsor melanda permukiman warga di Pagaran Lumbung I, Kecamatan Adian Koting, Kabupaten Tapanuli Utara pada Selasa (25/11/2025). Menteri LH Hanif Faisol Nurofiq menyoroti belum masifnya praktik keberlanjutan yang dilakukan perusahaan di Indonesia. KOMPAS.com/CRISTISON SONDANG PANE Proses pemberisihan jalan dari material batu, kayu pasca banjir dan longsor melanda permukiman warga di Pagaran Lumbung I, Kecamatan Adian Koting, Kabupaten Tapanuli Utara pada Selasa (25/11/2025). Menteri LH Hanif Faisol Nurofiq menyoroti belum masifnya praktik keberlanjutan yang dilakukan perusahaan di Indonesia.

Dalam kesempatan yang sama, Hanif turut menyinggung bencana hidrometeorologi, seperti banjir, cuaca ekstrem, longsor, dan banjir bandang, karena aktivitas manusia.

Banjir besar yang melanda Sumatera Utara pada November 2025, misalnya, menyebabkan kerusakan dengan kerugian lebih dari Rp 50 triliun dan membutuhkan biaya pemulihan hingga lebih dari Rp 60 triliun.

Jumlah tersebut hanya memberikan gambaran terkait kerugian materil, belum mempertimbangkan kehilangan nyawa yang menelan korban jiwa hingga 1.204 orang berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

"Tentu ini kemudian mengkoreksi apa yang telah kita dengung-dengungkan, apa yang telah kita oleh kita mungkin oleh pemerintah, oleh para pemimpin perusahaan bahwa kita adalah perusahaan yang berkelanjutan," ucap Hanif.

"Namun, alam telah melakukan kalibrasinya. Alam tidak pernah berbohong terhadap apa yang kita telah berbuat kepada alam. Sehingga bahaya atau bencana hidrometeorologi ini merupakan suatu kenisayaan," tambah dia.

Dia pun meminta semua perusahaan mengedapankan keberlanjutan lingkungan sebagai fondasi utama operasionalnya.

"Untuk itu maka langkah-langkah yang demikian masif di dalam melakukan mitigasi maupun adaptasi terhadap bermasalah ini harus benar-benar muncul, tidak hanya dinarasikan dalam forum-forum ESG yang kemudian hanya berakhir seremonial," sebut Hanif.

Baca juga:

ESG jadi modal investasi Indonesia 

Diberitakan sebelumnya, praktik ESG dinilai tak lagi menjadi sekadar laporan perusahaan di Indonesia.

Investor disebut makin menaruh perhatian terhadap inisiatif keberlanjutan yang diterapkan oleh perusahaan di Indonesia, dilansir dari The Star, Jumat (19/12/2025).

Beberapa inisiatif tersebut, salah satunya green financing. Sektor perbankan disebut menjadi penggerak utama ekonomi hijau.

Bank-bank besar di Indonesia tengah memperluas penyaluran kredit berkelanjutan sebagai bagian dari strategi bisnis inti mereka. Bank Rakyat Indonesia (BRI) tercatat memimpin dengan pinjaman berkelanjutan lebih dari Rp 800 triliun yang sebagian besar mendukung usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Sementara itu, Bank Central Asia, Bank Mandiri, dan Bank Negara Indonesia juga telah meningkatkan kredit hijau, obligasi keberlanjutan, serta pinjaman terkait keberlanjutan, dikutip dari Know ESG.

Di luar sektor perbankan, ESG juga sedang mengubah narasi investasi di sektor properti.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau