Yang sangat merusak upaya bantuan pada tahun 2025 adalah penutupan USAID oleh Trump, yang secara kacau menghentikan pendanaan untuk banyak proyek di tengah jalan, menghancurkan program ketahanan iklim dan sistem perawatan kesehatan di banyak negara berkembang.
Baca juga: Studi: Negara-negara Kaya Kompak Pangkas Bantuan untuk Negara Miskin
Penelitian sebelumnya dari ISGlobal menggunakan metodologi yang sama menemukan bahwa pembubaran USAID saja dapat menyebabkan lebih dari 14 juta kematian tambahan yang dapat dicegah pada tahun 2030.
Sementara itu, Inggris memangkas anggaran bantuannya dari 0,5 menjadi 0,3 persen dari Pendapatan Nasional Bruto mulai tahun 2027.
Dampak pemotongan anggaran ini sudah terlihat di seluruh dunia. Misalnya saja yang diungkapkan oleh Magnus Corfixen, pemimpin kemanusiaan untuk Oxfam GB.
“Setiap aspek kehidupan masyarakat terpengaruh. Makanan, air bersih, dan perawatan kesehatan bukanlah pilihan atau kemewahan. Itu adalah hak asasi manusia mendasar dan fondasi kehidupan yang bermartabat,” katanya.
Dampak pemotongan bantuan juga berdampak bagi masyarakat dalam merespons krisis iklim. Ketika bantuan dipotong, masyarakat tidak hanya kehilangan dana, mereka juga kehilangan alat-alat ang membantu mereka beradaptasi dengan krisis iklim.
"Setiap pengurangan dukungan mengancam mata pencaharian masyarakat, dan meningkatkan risiko terhadap kehidupan orang-orang yang menghadapi kenaikan suhu, banjir, dan kekeringan," tambah Corfixen.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya