Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pemotongan Bantuan Global Diprediksi Picu 23 Juta Kematian Tambahan pada 2030

Kompas.com, 4 Februari 2026, 17:21 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com-Hampir 23 juta kematian tambahan diperkirakan akan terjadi pada tahun 2030 sebagai akibat dari pemangkasan secara drastis bantuan luar negeri dari negara-negara seperti AS dan Inggris, menurut sebuah laporan baru.

Studi dari Institut Kesehatan Global Barcelona (ISGlobal) dan diterbitkan dalam jurnal kesehatan berpengaruh The Lancet ini, menemukan bahwa pemotongan program bantuan di 93 negara, termasuk 38 di Afrika Sub-Sahara akan mengakibatkan 22,6 juta kematian tambahan pada tahun 2030.

Angka tersebut termasuk sekitar 5,4 juta anak di bawah usia 5 tahun. Temuan ini pun disebut sebagai bencana kemanusiaan.

“Temuan ini menyuarakan jeritan jutaan orang yang rentan dan menunjukkan besarnya pengorbanan moral akibat sikap egois yang diambil banyak pemimpin politik saat ini,” kata Dr. Rajiv J. Shah, presiden Rockefeller Foundation, lembaga yang membantu mendanai laporan tersebut.

“Meskipun akan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menilai secara memadai dampak penuh dari pemotongan bantuan, proyeksi awal ini merupakan seruan mendesak untuk bertindak,” tambah Dr. Shah.

Baca juga: WHO: Pemangkasan Dana Mulai Terasa, Sistem Kesehatan Dunia di Ujung Tanduk

Bencana kemanusiaan

Melansir Independent, Senin (2/2/2026) laporan ISGlobal meneliti dampak pemotongan bantuan di 93 negara, terdiri dari 38 di Afrika Sub-Sahara, 21 di Asia, 12 di Amerika Latin, 12 di Timur Tengah dan Afrika Utara, dan 10 di Eropa.

Penelitian ini didasarkan pada analisis data pembangunan selama 20 tahun dari negara-negara tersebut, yang merupakan rumah bagi sekitar 6,3 miliar orang.

Metodologi yang digunakan juga mengungkapkan bahwa selama periode 2002-2021, bantuan luar negeri membantu mengurangi angka kematian anak sebesar 39 persen, mengurangi kematian akibat HIV/AIDS sebesar 70 persen, dan mengurangi 56 persen kematian akibat malaria dan kekurangan gizi.

Lisa Wise, direktur di Save the Children, salah satu organisasi non-pemerintah (LSM) yang terdampak oleh pemotongan bantuan ini menambahkan bahwa analisis membuktikan pemotongan bantuan bukan sekadar keputusan soal angka anggaran, tapi itu adalah hukuman mati bagi anak-anak.

“Pemotongan bantuan sudah memaksa kita untuk menutup klinik kesehatan dan program nutrisi, mengakhiri perlindungan bagi anak perempuan dari kekerasan, dan menghentikan proyek iklim pada saat anak-anak membutuhkannya lebih dari sebelumnya,” katanya.

Ia pun menambahkan sistem bantuan perlu diperbarui seiring dengan perkembangan tantangan global, tetapi transisi ke cara kerja baru harus dikelola dengan benar bukan dengan melakukan pemotongan besar-besaran tanpa mempertimbangkan anak-anak yang bergantung pada program bantuan. 

Pemotongan bantuan global

Bantuan internasional turun untuk pertama kalinya dalam enam tahun pada tahun 2024. AS, Inggris, Prancis, dan Jerman semuanya melakukan pemotongan signifikan pada anggaran bantuan mereka, pengurangan bantuan lebih lanjut yang signifikan diperkirakan akan terjadi pada tahun 2025 dan 2026.

Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) yang berbasis di Paris, Lembaga yang melacak aliran bantuan dari negara-negara terkaya di dunia memperkirakan bahwa bantuan dapat menurun hingga 18 persen antara tahun 2024 hingga 2025.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
LSM/Figur
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
LSM/Figur
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
Pemerintah
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Pemerintah
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Pemerintah
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
LSM/Figur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Pemerintah
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Swasta
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
Pemerintah
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
LSM/Figur
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pemerintah
Praktik 'Open Dumping' Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
Praktik "Open Dumping" Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
LSM/Figur
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Pemerintah
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau