Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Asap Kuning Asam Nitrat di Cilegon Berbahaya, BRIN Jelaskan Dampaknya

Kompas.com, 6 Februari 2026, 14:14 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Asap kuning pekat yang diketahui sebagai asam nitrat (HNO3) terlihat keluar dari area milik PT VTM di Cilegon, Banten, Sabtu (31/1/2026), dan menyebabkan 56 warga sekitar mengalami sesak napas.

Kepala Pusat Riset Kimia Molekuler Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Roni Maryana mengatakan, asap dari asam nitrat sangat berbahaya jika terhirup manusia yang mengakibatkan iritasi mata dan berdampak pada sistem pernapasan.

Baca juga:

"Jadi toksik ya, dia bisa merusak jaringan paru karena secara kimia bersifat oksidator. Kalau ada zat organik dioksidasi kayak dibakar, efeknya mirip-mirip ke manusia, makanya harus sangat hati-hati kalau di laboratorium," ujar Roni saat dihubungi Kompas.com, Jumat (6/2/026).

Gas asam nitrat di Cilegon berbahaya bila terhirup

Asap asam nitrat di Cilegon berbahaya jika terhirup manusia, dan bisa menyebabkan hujan asam yang korosif. Simak penjelasan BRIN. Asap asam nitrat di Cilegon berbahaya jika terhirup manusia, dan bisa menyebabkan hujan asam yang korosif. Simak penjelasan BRIN.

Paparan gas nitrogen oksida (NOx), nitrogen dioksida (NO2), atau NO3 ke lingkungan dapat menyebabkan hujan asam. Roni menyampaikan, alasannya karena gas-gas tersebut bereaksi dengan uap air di udara.

"(Asam) yang ada di udara kena air ikut kebawa sehingga menurunkan pH, pH-nya menjadi asam dan biasanya kurang bagus bagi perairan. Kalau air minum itu netral biasanya (pH) enam atau tujuh, ini kalau asam nitrat asam kuat, (pH-nya) bisa sampai tiga, empat, atau lima kalau konsentrasinya rendah," jelas Roni.

Uap dari asam nitrat pun dapat mengakibatkan korosif pada besi di sekitarnya. Menurut dia, asap kuning yang keluar dari area PT VTM adalah efek yang terjadi saat asam nitrat dituangkan.

Biasanya, di laboratorium asam nitrat selalu ditempatkan di ruang asam (fume hood) yang dilengkapi sistem penyedot serta penyaring udara untuk mencegah paparan langsung ke manusia.

Roni menyebut bahwa kebocoran gas asam nitrat di Indonesia baru kali ini terjadi.

"Kayaknya belum ada ya kalau yang gas NOx (bocor) sampai warna kuning karena memang penanganannya harus sangat hati-hati kalau asam nitrat, termasuk bahan kimia yang sangat berbahaya dia," papar Roni.

Sebagai upaya pencegahan kejadian serupa, Roni menekankan pentingnya kepatuhan perusahaan terhadap Material Safety Data Sheet (MSDS) serta inspeksi berkala terhadap peralatan industri.

Dia juga mengusulkan evakuasi warga, jika asap kuning masih tampak di area permukiman.

Baca juga:

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Jumat Tanpa Asap, 37.158 Insan PLN Tinggalkan Kendaraan Fosil demi Gaya Hidup Hijau
Jumat Tanpa Asap, 37.158 Insan PLN Tinggalkan Kendaraan Fosil demi Gaya Hidup Hijau
BUMN
'Sustainability' Tak Lagi Sekadar Formalitas, Harus Berdampak Nyata untuk Bisnis
"Sustainability" Tak Lagi Sekadar Formalitas, Harus Berdampak Nyata untuk Bisnis
Pemerintah
Harga Plastik Naik, Kemasan Guna Ulang Dinilai Jadi Solusi Tekan Biaya dan Sampah
Harga Plastik Naik, Kemasan Guna Ulang Dinilai Jadi Solusi Tekan Biaya dan Sampah
LSM/Figur
JPMorgan Beli Kredit Karbon, Targetkan Pangkas 85.000 Ton Emisi
JPMorgan Beli Kredit Karbon, Targetkan Pangkas 85.000 Ton Emisi
Swasta
Tiga Spesies Baru Tanaman Endemik Sumatra Ditemukan lewat Media Sosial
Tiga Spesies Baru Tanaman Endemik Sumatra Ditemukan lewat Media Sosial
Pemerintah
Perempuan Pesisir Diberdayakan untuk Lindungi Terumbu Karang yang Terancam Krisis Iklim
Perempuan Pesisir Diberdayakan untuk Lindungi Terumbu Karang yang Terancam Krisis Iklim
LSM/Figur
Manfaatkan AI, Serangan Siber Naik 2 Kali Lipat
Manfaatkan AI, Serangan Siber Naik 2 Kali Lipat
Swasta
Prakiraan Cuaca  yang Akurat Tekan Angka Kematian Akibat Gelombang Panas
Prakiraan Cuaca yang Akurat Tekan Angka Kematian Akibat Gelombang Panas
Pemerintah
Gen Z Ramai-ramai Tinggalkan Pekerjaan Kantoran, Apa Alasannya?
Gen Z Ramai-ramai Tinggalkan Pekerjaan Kantoran, Apa Alasannya?
LSM/Figur
Imbangi Pembangunan, Kota di China Ini Sulap Lahan Telantar Tepi Sungai Jadi Ruang Hijau
Imbangi Pembangunan, Kota di China Ini Sulap Lahan Telantar Tepi Sungai Jadi Ruang Hijau
Pemerintah
Sumur Minyak Tak Aktif Keluarkan Metana 1.000 Kali Lebih Banyak dari Dugaan
Sumur Minyak Tak Aktif Keluarkan Metana 1.000 Kali Lebih Banyak dari Dugaan
Pemerintah
Tekanan Ekonomi Global Bikin Perusahaan Kurangi Inisiatif Keberlanjutan
Tekanan Ekonomi Global Bikin Perusahaan Kurangi Inisiatif Keberlanjutan
LSM/Figur
Inggris Kucurkan Rp 115 Miliar untuk Krematorium agar Beralih ke EBT
Inggris Kucurkan Rp 115 Miliar untuk Krematorium agar Beralih ke EBT
Pemerintah
Jelang Penerapan EUDR, Sepertiga Perusahaan Masih Minim Komitmen Deforestasi
Jelang Penerapan EUDR, Sepertiga Perusahaan Masih Minim Komitmen Deforestasi
Pemerintah
Danantara Kaji Wacana Pembangunan PSEL di 31 Wilayah Aglomerasi
Danantara Kaji Wacana Pembangunan PSEL di 31 Wilayah Aglomerasi
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau