KOMPAS.com - Tim peneliti University of Southampton dan Rutgers University menganalisis plankton purba dari Laut Arab untuk mengungkap kondisi oksigen laut masa depan. Hasilnya menunjukkan, sekitar 16 juta tahun lalu ketika bumi mengalami pemanasan global yang sangat kuat, kadar oksigen di Laut Arab justru lebih tinggi dibandingkan saat ini.
Namun, sekitar empat juta tahun kemudian, saat suhu global mulai menurun, Laut Arab mengalami kekurangan oksigen yang parah.
“Oksigen terlarut di lautan sangat penting untuk menopang kehidupan laut, meningkatkan keanekaragaman hayati, dan memperkuat ekosistem. Namun, selama 50 tahun terakhir sekitar dua persen oksigen di laut dunia telah hilang setiap dekade seiring meningkatnya suhu global,” ucap penulis studi di University of Southampton, Alexandra Auderset dilansir dari SciTechDaily, Senin (9/2/2026).
Baca juga:
Plankton purba mengungkap kondisi oksigen di Laut Arab yang lebih tinggi pada 16 juta tahun lalu. Bagaimana dengan masa depan? Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Communications Earth & Environment terbitan Nature, tim peneliti menggunakan plankton mikroskopis yang telah membatu bernama foraminifera (foram) untuk merekonstruksi kondisi laut purba.
Fosil-fosil ini diambil dari program pengeboran internasional. Jejak kimia yang tersimpan dalam cangkang organisme itu memungkinkan peneliti memperkirakan konsentrasi oksigen di air laut selama jutaan tahun.
Dari hasil analisis, diketahui wilayah oxygen minimum zone (OMZ) atau zona laut dengan kadar oksigen rendah sudah ada di Laut Arab sejak sekitar 19 juta tahun lalu dan bertahan hingga 12 juta tahun lalu.
Selama periode tersebut, kadar oksigen berada di tingkat yang rendah, tapi belum cukup ekstrem untuk menimbulkan dampak besar pada siklus nitrogen di laut.
Auderset menjelaskan, periode Miocene Climatic Optimum (MCO) yang terjadi sekitar 17-14 juta tahun lalu memiliki kondisi suhu dan atmosfer yang mirip dengan perkiraan kondisi bumi setelah tahun 2100. Oleh marena itu, kondisi laut pada masa tersebut dapat menjadi gambaran tentang masa depan.
Baca juga:
"Kami mengambil gambaran kondisi oksigen laut pada masa MCO untuk membantu memahami bagaimana perkembangannya 100 tahun atau lebih ke depan," kata dia.
Para peneliti menemukan, penurunan oksigen paling parah justru terjadi setelah periode terpanas berlalu, bukan saat suhu mencapai puncaknya.
Mereka menegaskan hilangnya oksigen laut tidak hanya dipengaruhi oleh pemanasan global, tapi juga oleh kondisi lokal laut seperti arus dan sirkulasi air.
“Penelitian kami menunjukkan bahwa respons laut terhadap pemanasan iklim bersifat kompleks, dan ini berarti kita harus siap beradaptasi terhadap kondisi laut yang terus berubah," ucap Auderset.
Plankton purba mengungkap kondisi oksigen di Laut Arab yang lebih tinggi pada 16 juta tahun lalu. Bagaimana dengan masa depan? Sementara itu, penulis studi dari George Mason University, Anya Hess menambahkan, periode MCO merupakan pembanding terbaik untuk melihat dampak pemanasan iklim ekstrem masa depan.
Menurut dia, pada masa itu, beberapa wilayah perairan seperti Pasifik tropis bagian timur dan Laut Arab memiliki kondisi oksigen yang lebih baik dibandingkan sekarang meski tingkatnya berbeda-beda.
“Laut Arab juga memiliki oksigen yang lebih baik selama MCO, tetapi tidak setinggi Pasifik, dengan oksigenasi sedang dan penurunan yang terjadi sekitar 2 juta tahun lebih lambat dibandingkan Pasifik," papar Hess.
Dikutip dari laman National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), sekitar setengah dari produksi oksigen di bumi berasal dari lautan. Sebagian besar produksi ini berasal dari plankton laut, tumbuhan, alga, dan beberapa bakteri.
Studi menunjukkan bahwa jumlah oksigen di lokasi tertentu bervariasi tergantung waktu dalam sehari dan pasang surut. Di sisi lain, para peneliti menekankan, meskipun lautan menghasilkan 50 persen oksigen di bumi, jumlah yang hampir sama dikonsumsi kehidupan laut.
Layaknya hewan di darat, hewan laut menggunakan oksigen untuk bernapas. Oksigen juga dikonsumsi ketika tumbuhan dan hewan yang mati membusuk di laut.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya