Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

IPB University Dorong Desa Kembangkan Koperasi dan Ekosistem Bisnis Berkelanjutan

Kompas.com, 9 Februari 2026, 15:17 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

SEMARANG, KOMPAS.com - IPB University mendorong agar desa-desa di Indonesia dapat mengembangkan koperasi dan ekosistem bisnis yang berkelanjutan.

Kepala Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LP2AI) IPB University, Handian Purwawangsa, menyampaikan terdapat tiga pilar utama untuk mewujudkan hal tersebut.

"Produk yang kuat, inovasi yang relevan, dan akses pasar yang terbuka merupakan tiga kunci utama agar koperasi dan ekosistem bisnis desa dapat maju secara berkelanjutan," ujar Handian dalam keterangan resmi, Senin (9/2/2026).

Baca juga: Tak Sampai 4 Bulan, Lulusan IPB University Bisa Cepat Dapat Kerja

Rapat koordinasi digelar oleh Kementerian Koperasi dan UKM RI bersama Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Jawa Tengah.

Dalam kesempatan tersebut, Handian yang mewakili IPB University mempresentasikan materi "OVOC: One Village One CEO – Optimalisasi Ekosistem Bisnis Desa Melalui Penguatan Produk, Inovasi, dan Pasar".

Handian menekankan bahwa keberhasilan model OVOC tidak hanya bergantung pada keberadaan figur CEO desa, tetapi harus berbasis pada pengembangan produk yang jelas, inovasi yang berkelanjutan, dan akses pasar yang kuat.

Produk desa harus terstandarisasi, memiliki diferensiasi, dan mampu merepresentasikan potensi lokal secara ekonomis. Dengan begitu, koperasi menjadi pusat konsolidasi kualitas dan kuantitas.

Inovasi teknologi, proses produksi, model bisnis, dan digitalisasi juga menjadi kebutuhan mendesak agar produk desa mampu bersaing. OVOC mendorong setiap CEO desa menjadi motor inovasi yang adaptif. Pilar penting terakhir adalah akses pasar, sebab tanpa koneksi ke pasar, bisnis desa tidak dapat bertumbuh.

"Kemitraan dengan offtaker, penguatan brand desa, dan integrasi dengan platform digital sangat penting untuk memperluas jangkauan penjualan," kata Handian.

Baca juga: IPB Sinergikan Program One Village One CEO dengan Koperasi Merah Putih

Disampaikan Handian, IPB University berkomitmen mendukung penuh program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).

Dukungan diberikan melalui pendampingan berbasis riset, penguatan ekosistem inovasi desa, dan pengembangan kapasitas SDM agar mampu menghasilkan produk unggul yang tersambung dengan pasar regional maupun nasional.

Usai rapat koordinasi, dilakukan kunjungan ke salah satu Koperasi Kelurahan Merah Putih Jawa Tengah yang pembangunan fisiknya telah 100 persen rampung. Kunjungan bertujuan untuk menilai kesiapan operasional koperasi serta memetakan potensi komoditas unggulan di desa/kelurahan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Daftar 10 Spesies Terancam Punah 2026, Belut hingga Tulip
Daftar 10 Spesies Terancam Punah 2026, Belut hingga Tulip
LSM/Figur
Gajah Sumatera Mati Tanpa Kepala di Riau, Kemenhut Pastikan Pidanakan Pelaku
Gajah Sumatera Mati Tanpa Kepala di Riau, Kemenhut Pastikan Pidanakan Pelaku
Pemerintah
Bulog Pasok Komoditas Pangan ke 648 KDMP di Jawa Timur
Bulog Pasok Komoditas Pangan ke 648 KDMP di Jawa Timur
BUMN
Dilarang Naik Gajah, Ini Alasan Kemenhut Hentikan Wisata Gajah Tunggang
Dilarang Naik Gajah, Ini Alasan Kemenhut Hentikan Wisata Gajah Tunggang
Pemerintah
IPB University Dorong Desa Kembangkan Koperasi dan Ekosistem Bisnis Berkelanjutan
IPB University Dorong Desa Kembangkan Koperasi dan Ekosistem Bisnis Berkelanjutan
Pemerintah
Peneliti Ungkap Kondisi Oksigen Laut Masa Depan lewat Plankton Purba
Peneliti Ungkap Kondisi Oksigen Laut Masa Depan lewat Plankton Purba
LSM/Figur
133.792 Petani Jawa Timur Kelola 198.326 Ha Hutan dalam Skema Perhutanan Sosial
133.792 Petani Jawa Timur Kelola 198.326 Ha Hutan dalam Skema Perhutanan Sosial
Pemerintah
Fenomena Sinkhole di Limapuluh Kota Disebut Unik, Apa Maksudnya?
Fenomena Sinkhole di Limapuluh Kota Disebut Unik, Apa Maksudnya?
Pemerintah
Pesut Mahakam Terancam Punah dan Tinggal 66 Ekor, KLH Siapkan Langkah Darurat
Pesut Mahakam Terancam Punah dan Tinggal 66 Ekor, KLH Siapkan Langkah Darurat
Pemerintah
Kasus Gajah Mati Tanpa Kepala di Riau, Kemenhut Masih Telusuri Pelaku
Kasus Gajah Mati Tanpa Kepala di Riau, Kemenhut Masih Telusuri Pelaku
Pemerintah
Membongkar Mitos Sawit sebagai Miracle Crop
Membongkar Mitos Sawit sebagai Miracle Crop
Pemerintah
PLN Mobile Perkuat Ekosistem EV Berbasis Green Energy, dari Home Charging hingga SPKLU
PLN Mobile Perkuat Ekosistem EV Berbasis Green Energy, dari Home Charging hingga SPKLU
BUMN
Membangun dari Manusia, Ini Cara Bakti BCA Memberdayakan Individu hingga Komunitas
Membangun dari Manusia, Ini Cara Bakti BCA Memberdayakan Individu hingga Komunitas
BrandzView
Dua Desa di Kaltim Ditetapkan Jadi Area Konservasi Pesut Mahakam
Dua Desa di Kaltim Ditetapkan Jadi Area Konservasi Pesut Mahakam
Pemerintah
Studi Ungkap 50 Persen Perairan Dunia Terkontaminasi Sampah
Studi Ungkap 50 Persen Perairan Dunia Terkontaminasi Sampah
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau