JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memastikan bakal memidanakan pelaku pembunuhan gajah di Blok Ukui, Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Riau. Gajah yang mati tanpa kepala tersebut ditemukan di area konsesi PT RAPP.
Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni mengaku telah menghubungi Kapolda Riau untuk mengusut kasus perburuan gajah sumatera tersebut.
Baca juga:
"Beliau (Kapolda Riau) sudah turun ke lapangan bersama dengan kepala balai kami untuk melakukan investigasi. Yang paling penting pesan saya sangat kuat dan jelas, kalau (pelaku) ketemu kami tidak akan kasih ampun," kata Raja Juli saat ditemui di kantornya, Senin (9/2/2026).
Menhut Raja Juli Antoni (tengah) menjelaskan soal kondisi gajah di Indonesia, Senin (9/2/2026). Kemenhut berjanji menindak tegas pelaku yang membunuh gajah di Riau. Gajah ditekukan dengan kondisi tewas tanpa kepala. Pembunuhan satwa dilindungi, lanjut Raja Juli, merupakan tindakan yang sangat sadis dan tidak mencerminkan nilai kemanusiaan.
"Oleh karena itu sekali lagi tidak ada ampun bagi siapa pun orang yang masih melakukan pemburuan liar terhadap satwa langka di Indonesia, terutama gajah," ucap dia.
Sementara itu, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kemenhut, Satyawan Pudyatmoko menambahkan bahwa investigasi dilakukan seiring green police yang digencarkan kepolisian.
Saat ini, polisi tengah mengidentifikasi pelaku yang membunuh gajah malang itu.
"Kami harapkan segera nanti ketemu dan bisa mendapatkan hukuman yang setimpal tentu saja. Diterapkan Undang-Undang Nomor 32, yang jelas sekarang (hukumannya) sudah jauh lebih berat daripada Undang-Undang Nomor 5," tutur Satyawan.
UU Nomor 32 Tahun 2024 tentang Perubahan atas UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang KSDAHE ditetapkan Agustus 2024 memperberat sanksi pidana kejahatan lingkungan.
Pelaku perorangan terancam dipidana penjara maksimal lima tahun dengan denda Rp 100 juta sesuai Pasal 40.
Sementara itu, korporasi yang merusak kawasan suaka alam terancam pidana penjara hingga 20 tahun dan denda maksimal Rp 200 miliar.
Baca juga:
Kemenhut berjanji menindak tegas pelaku yang membunuh gajah di Riau. Gajah ditekukan dengan kondisi tewas tanpa kepala. Diberitakan sebelumnya, gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) ditemukan mati, Senin (2/2/2026).
Direktur Jenderal Gakkum Kehutanan, Dwi Januanto menyampaikan, kematian gajah sumatera pertama kali dilaporkan PT RAPP ke Polres Pelalawan dan Balai Besar Konservasi dan Sumber Daya Alam (BBKSDA).
Berdasarkan keterangan awal di lapangan, Tim Penanggulangan Konflik Satwa Liar (TPKSL) Blok Ukui, gajah jantan ini mati dengan kondisi pembusukan lanjut. Balai Besar KSDA Riau kemudian melakukan nekropsi atau otopsi untuk memastikan penyebab kematian.
Hasil pemeriksaan menunjukkan, gajah diperkirakan berusia di atas 40 tahun. Dwi menyebut, satwa dilindungi itu telah mati sekitar dua pekan sebelum ditemukan.
Dari hasil bedah bangkai terdapat indikasi cedera kepala berat, dan secara medis dugaan sementara mengarah pada trauma kepala akibat luka tembak.
Temuan ini memperkuat dugaan adanya tindak kejahatan terhadap satwa liar yang dilindungi.
Baca juga:
Sebagai informasi, WWF Indonesia mencatat populasi gajah sumatera turun lebih dari 70 persen. Dalam 10 tahun terakhir, lebih dari 55 gajah ditemukan mati yang sebagian besarnya karena konflik dengan manusia dan perburuan.
Menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN), gajah sumatera saat ini berstatus kritis (critically endangered). Populasinya kian berkurang akibat peruburuan, alih fungsi lahan, fragmentasi, dan konflik antara gajah dengan manusia
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya