Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Peneliti Temukan Cara Produksi Hidrogen Hijau

Kompas.com, 11 Februari 2026, 11:53 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Peneliti menemukan cara baru "membuat" hidrogen bersih dari air, menggunakan logam cair dan cahaya. Penemuan ini diterapkan baik pada air tawar maupun laut.

Alih-alih bergantung pada listrik dalam memecah air, cara ini memakai sinar matahari untuk memicu reaksi kimia di permukaan tetesan logam kecil, yang melepaskan gas hidrogen.

Baca juga:

Kemampuan memanfaatkan laut sangat penting, mengingat pendekatan hidrogen hijau selama ini bekerja paling baik dengan air yang sangat murni.

Apalagi pendekatan hidrogen dengan syarat air sangat murni menambah biaya dan kompleksitas, serta sulit untuk dibenarkan di wilayah yang kekurangan sumber daya ini.

Cara baru dalam membuat hidrogen bersih dari air laut mendorong lokasi produksi mengarah lebih dekat ke garis pantai. Khususnya pelabuhan industri, yang mana permintaan tinggi dan persediaan air tawar terbatas.

“Sekarang kita memiliki cara untuk mengekstrak hidrogen berkelanjutan, menggunakan air laut, yang mudah diakses sekaligus hanya mengandalkan cahaya untuk produksi hidrogen hijau,” ujar penulis utama studi dan kandidat PhD dari Universitas Sydney, Luis Campos, dilansir dari SciTechDaily, Rabu (11/2/2026).

Membuat hidrogen hijau dari logam cair dan sinar matahari

Menurut peneliti senior dari Sekolah Teknik Kimia dan Bioteknologi Universitas Sydney, Kourosh Kalantar-Zadeh, temuan dari riset ini menjadi contoh bagaimana logam cair secara alami dapat mendorong produksi hidrogen melalui kimianya.

Dengan cari ini, tim peneliti mencapai efisiensi produksi hidrogen puncak sebesar 12,9 persen.

Meski masih dalam tahap awal, upaya yang sedang dilakukan untuk lebih ke arah meningkatkan tingkat efisiensi demi mendukung penggunaan komersial masa mendatang.

Salah satu pemimpin proyek, Francois Allioux mengatakan, untuk uji coba konsep pertama, efisiensi produksi melalui cara ini sangat kompetitif. Misalnya, sel surya berbasis silikon dimulai dengan efisiensi enam persen pada tahun 1950-an dan baru melewati 10 persen pada tahun 1990-an.

“Hidrogen menawarkan solusi energi bersih untuk masa depan yang berkelanjutan dan dapat memainkan peran penting dalam keunggulan internasional Australia di bidang ekonomi hidrogen,” tutur Allioux.

Baca juga:

Galium

Ilustrasi gallium cair. Peneliti menemukan metode baru menghasilkan hidrogen hijau dari air laut menggunakan logam cair galium dan sinar matahari.Dok. Wikimedia Commons/AndrewDaGamer Ilustrasi gallium cair. Peneliti menemukan metode baru menghasilkan hidrogen hijau dari air laut menggunakan logam cair galium dan sinar matahari.

Logam cair di atas merujuk pada galium yang punya kemampuan menyerap cahaya. Sifat tersebut mendorong para ilmuwan meneliti bagaimana galium berperilaku ketika tersebar dalam air dan terkena sinar matahari.

Riset yang diterbitkan dalam Nature Communications ini menghasilkan sebuah sistem yang dibangun berdasarkan proses kimia siklik.

Partikel galium yang sangat kecil tersuspensi dalam air tawar atau air laut dan diaktifkan oleh sinar matahari atau penerangan buatan.

Selama proses ini, galium bereaksi dengan air membentuk galium oksihidroksida sambil melepaskan gas hidrogen.

“Setelah kita mengekstrak hidrogen, galium oksihidroksida juga dapat direduksi kembali menjadi galium dan digunakan kembali untuk produksi hidrogen di masa mendatang, yang kami sebut sebagai proses sirkular,” ucap Profesor Kalantar-Zadeh.

Galium cair menunjukkan karakteristik fisik yang tidak biasa. Kendati tampak padat pada suhu ruangan, memanaskannya hingga mendekati suhu tubuh menyebabkannya meleleh menjadi genangan logam cair yang memantulkan cahaya.

Campos mengatakan, galium cair biasanya memiliki permukaan yang secara kimiawi "tidak lengket". Artinya, bahan lain tidak mudah menempel padanya dalam kondisi normal.

Namun, ketika galium terkena cahaya saat terendam dalam air, reaksi terjadi di permukaannya.

Dalam kondisi pencahayaan ini, galium perlahan teroksidasi dan mengalami korosi. Reaksi permukaan ini mengakibatkan pelepasan gas hidrogen murni dan pembentukan galium oksihidroksida, yang keduanya sangat penting dalam proses produksi hidrogen.

“Galium belum pernah dieksplorasi sebelumnya sebagai cara untuk menghasilkan hidrogen dalam jumlah besar ketika bersentuhan dengan air, sebuah pengamatan sederhana yang sebelumnya diabaikan,” ujar Kalantar-Zadeh.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
LSM/Figur
Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik
Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik
LSM/Figur
Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang
Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang
Pemerintah
Saat Ibu Bekerja, Anak Perempuan Bisa Bermimpi Lebih Tinggi
Saat Ibu Bekerja, Anak Perempuan Bisa Bermimpi Lebih Tinggi
Swasta
Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
LSM/Figur
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Pemerintah
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
Swasta
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
LSM/Figur
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
LSM/Figur
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
Pemerintah
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Swasta
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
LSM/Figur
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
Pemerintah
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Pemerintah
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau