Banyak ilmuwan dan industri percaya bahwa hidrogen merupakan kandidat ideal untuk sumber energi berkelanjutan, yang berkontribusi secara signifikan dalam mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK). Hidrogen "hijau" dibuat menggunakan sumber daya terbarukan.
Hidrogen adalah salah satu unsur yang paling melimpah di bumi dan dapat diperoleh dari berbagai macam senyawa. Misalnya, air yang memiliki dua molekul hidrogen.
Ketika terbakar, hidrogen tidak menghasilkan polutan, melainkan hanya air dan tetap dapat menghasilkan energi atau daya dalam jumlah besar.
Upaya untuk menghasilkan hidrogen hijau telah difokuskan pada "pemecahan air" yaitu memecah atom dalam molekul air untuk melepaskan hidrogen menggunakan metode termasuk elektrolisis, fotokatalisis, dan plasma (petir buatan).
Namun, proses yang diperlukan untuk memisahkan atom hidrogen dan oksigen dalam air telah menghadapi berbagai kendala, termasuk kebutuhan untuk menggunakan air murni, yang menimbulkan biaya tinggi atau menghasilkan rendemen hidrogen rendah.
Baca juga:
Cara yang diperkenalkan oleh tim Kalantar-Zadeh dengan galium cair menghindari banyak kendala ini dan dapat menggunakan air laut dan air tawar. Bahkan, karena prosesnya bersifat siklik, galium dalam reaksi dapat digunakan kembali.
“Ada kebutuhan global untuk mengkomersialkan metode yang sangat efisien untuk memproduksi hidrogen hijau. Proses kami efisien dan mudah untuk ditingkatkan skalanya,” tutur Kalantar-Zadeh.
Saat ini, tim Kalantar-Zadeh sedang berupaya meningkatkan efisiensi teknologi itu. Selanjut, tim Kalantar-Zadeh akan membangun reaktor skala menengah untuk mengekstraksi hidrogen.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya