Namun, SAF berbasis CPO yang diolah di pabrik kelapa sawit dengan fasilitas methane capture untuk mengurangi GRK juga masih layak.
SAF berbasis CPO tersebut memiliki nilai total LCEF 76,5 atau 14 persen di bawah avtur, sedangkan SAF dari POME lebih rendah lagi atau 79 persen dari emisi GRK avtur.
Berdasarkan riset Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA), SAF dari CPO dapat berkontribusi dalam upaya dekarbonisasi industri penerbangan sebesar 65 persen.
Permintaan SAF global diprediksi meningkat secara bertahap pada setiap tahunnya, menggantikan peran avtur.
Permintaan bahan baku (feedstock) SAF akan meningkat seiring dengan upaya memenuhi standar CORSIA yang dikembangkan oleh ICAO.
Baca juga: 27 Persen Serealia Bakal Jadi Biofuel pada 2024, Indonesia Produsen Utamanya
ICAO berfokus mencari bahan bakar rendah emisi gas rumah kaca (GRK) untuk mendukung upaya dekarbonisasi industri penerbangan. Oleh karena itu, World Economic Forum (WEF) memprediksi permintaan SAF global pada 2050 bisa mencapai 515 juta kiloliter.
"Di Indonesia sendiri kebutuhan per tahunnya avtur itu sekitar lima juta kiloliter. Jadi, masih sedikit dibandingkan kebutuhan global, tetapi Indonesia perlu untuk mulai menjadi produsen SAF, kenapa? Karena kita punya banyak bahan bakunya," tutur Dimas di Depok, Jawa Barat, Kamis (5/2/2026).
Baca juga: Ilmuwan Desak Pemimpin Global Batasi Biofuel Berbasis Tanaman
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya