Editor
KOMPAS.com - Untuk masyarakat di Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat (NTB), air yang meninggalkan kerak di ketel menjadi keseharian. Air tersebut sulit berbusa saat bercampur sabun dan terasa kurang nyaman saat digunakan.
Selama bertahun-tahun, kondisi yang dikenal sebagai air sadah ini diterima begitu saja sebagai hal yang wajar.
Baca juga:
Kebiasaan itulah yang kemudian dipertanyakan oleh sekelompok siswa SMAN 1 Sumbawa Besar yang tergabung dalam tim SMANIKA MALVA beranggotakan Azka Fachrizal Arhab, Mohammad Zulfikar Aulia, dan Raghil Muhammad Agsa.
Berangkat dari pengamatan sederhana di lingkungan sekitar, mereka mengembangkan Prototipe Evaseditor Water, alat distilasi sederhana yang dirancang untuk mengurangi kandungan zat kapur dalam air rumah tangga.
Inovasi ini mengantarkan mereka menjadi pemenang kategori Nature Conservation Project di ASRI Awards 2025.
Masalah air sadah bukan hal baru bagi tim SMANIKA MALVA. Kerak yang menumpuk pada peralatan dapur, pipa yang cepat rusak, dan keluhan masyarakat soal kualitas air sudah sering mereka temui.
Namun, titik balik muncul ketika dampaknya mulai terasa lebih nyata. Peralatan rumah tangga tak lagi berfungsi optimal, sedangkan kekhawatiran akan dampak kesehatan jika air tersebut dikonsumsi terus-menerus makin sering terdengar.
Dari situ muncul kesadaran bahwa masalah ini bukan sekadar gangguan teknis, melainkan persoalan kualitas air yang belum tertangani secara praktis di tingkat rumah tangga.
Mereka juga menyadari bahwa teknologi pemurnian air yang tersedia belum tentu mudah diakses atau sesuai dengan kondisi masyarakat setempat.
Baca juga:
Evaseditor Water dikembangkan dengan prinsip yang sederhana. Alat ini menggabungkan proses evaporasi dan sedimentasi untuk memisahkan zat kapur dari air.
Desainnya dibuat agar mudah diterapkan dan terjangkau, menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.
Proyek ini tidak lahir dari konsep ilmiah semata, melainkan dari pengalaman langsung melihat dan merasakan persoalan air sadah di lingkungan sekitar.
Dari proses perancangan hingga pengujian, para siswa terlibat langsung, belajar dari percobaan yang belum berhasil, dan terus melakukan perbaikan.
Prototipe Evaseditor Water tim SMANIKA MALVA.Perjalanan bersama ASRI turut mengubah cara pandang mereka. Awalnya, mereka melihat diri sebagai pelajar yang mempelajari teori di kelas.
Namun, melalui proses penelitian dan pengembangan alat, muncul kesadaran bahwa pelajar pun bisa berperan sebagai agen perubahan.
Tantangan dalam pengembangan alat tidak sedikit. Keterbatasan bahan, hasil uji coba yang belum sesuai, dan revisi desain menjadi bagian dari proses.
Dukungan tim dan guru pembimbing membuat mereka memilih untuk tidak berhenti. Kegagalan justru menjadi bagian dari pembelajaran.
Baca juga:
Bagi tim SMANIKA MALVA, kemenangan di ASRI Awards bukanlah akhir. Mereka berharap proyek ini dapat dikembangkan lebih lanjut dengan dukungan pendampingan teknis, fasilitas pengujian yang lebih lengkap, serta kolaborasi dengan berbagai pihak.
Di lingkungan sekolah, mereka ingin menumbuhkan kesadaran bahwa masalah di sekitar dapat diteliti dan dicarikan solusinya secara ilmiah.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya