Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

450 Spesies Ular Terancam Punah, Studi Soroti Peran Orangtua Bentuk Persepsi Anak

Kompas.com, 16 Februari 2026, 13:12 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Phys.org

KOMPAS.com - Ada kemungkinan besar orangtua memengaruhi perbedaan cara pandang anak-anak terhadap ular dibandingkan hewan lain, menurut studi terbaru. 

Studi yang diterbitkan di Anthrozoös ini menganalisis lebih dari 100 anak usia taman kanak-kanak, khususnya tentang bagaimana mereka mempersepsikan ular secara buruk akibat mendengar bahasa yang negatif atau merendahkan tentang hewan melata tersebut.

Baca juga:

Studi menunjukkan, hanya dibutuhkan intervensi minimal untuk memengaruhi pandangan negatif seorang anakterhadap ular.

"Masa kanak-kanak adalah waktu yang sangat penting untuk membentuk sikap dan perilaku seseorang terhadap hewan. Ular memiliki reputasi yang sangat negatif di masyarakat barat dan sering disalahpahami," ujar salah satu penulis dari Oregon State University, Jeff Loucks, dilansir dari Phys.org, Senin (16/2/2026).

Cara pandang anak pada ular berdampak pada ekosistem

450 dari sekitar 4.000 spesies ular yang teridentifikasi berisiko punah

Sedikitnya 450 dari 4.000 spesies ular terancam punah. Studi menunjukkan sikap negatif anak terhadap ular dipengaruhi bahasa orangtua.Shutterstock/Chris and Hans Sedikitnya 450 dari 4.000 spesies ular terancam punah. Studi menunjukkan sikap negatif anak terhadap ular dipengaruhi bahasa orangtua.

Reptil yang melata itu cukup mudah untuk dibenci, termasuk di negara barat. Namun, hanya sedikit yang diketahui mengenai mengapa anak-anak mengembangkan perasaan takut dan kebencian terhadap ular.

Padahal hal tersebut dapat berdampak terhadap keseimbangan banyak ekosistem.

Berdasarkan data International Union for Conservation of Nature (IUCN), sedikitnya 450 dari sekitar 4.000 spesies ular yang telah diidentifikasi, menghadapi risiko tinggi kepunahan.

Di sisi lain, dukungan publik untuk melindungi ular dan memulihkan habitatnya tergolong lemah, yang kemungkinan disebabkan kebencian umum masyarakat terhadap ular.

Studi sebelumnya menunjukkan, ular memicu tingkat kecemasan tertentu atau sebesar 54 persen dari total responden. Apalagi, rata-rata orang Amerika Serikat (AS) bersikap negatif terhadap ular.

Bahkan, data menunjukkan bahwa pengemudi di AS sering kali sengaja melindas ular.

Loucks dan pemimpin studi dari Universitas Regina, Denée Buchko, berupaya menemukan akar dari antipati itu, termasuk menelusuri peran bahasa serta pendidikan dalam perkembangannya.

Baca juga:

Sedikitnya 450 dari 4.000 spesies ular terancam punah. Studi menunjukkan sikap negatif anak terhadap ular dipengaruhi bahasa orangtua.iStock/SUMIT Sedikitnya 450 dari 4.000 spesies ular terancam punah. Studi menunjukkan sikap negatif anak terhadap ular dipengaruhi bahasa orangtua.

Riset ini melibatkan anak-anak berusia lima tahun, orangtua mereka, gambar ular, serta bahasa deskriptif yang mungkin menunjukkan ular lebih mirip hewan lain daripada benda mati atau sebaliknya.

Para ilmuwan memakai teknik tugas induksi untuk menilai seberapa mirip anak-anak menganggap ular dengan manusia, hewan non-manusia lainnya, dan benda-benda mati.

Sebelum memberi tugas, para peneliti meminta orangtua melihat-lihat buku bergambar ular bersama anaknya. Para peneliti juga membacakan buku cerita tentang kehidupan sehari-hari seekor ular kepada anak-anak.

"Buku cerita tersebut merujuk pada ular lebih seperti sebuah obyek, dengan kata ganti 'itu' dan tidak merujuk pada perasaan atau pikiran, atau lebih seperti seorang pribadi, dengan kata ganti 'dia' dan merujuk pada pikiran dan perasaan," tutur Loucks.

Hasilnya, ketika orangtua menggunakan bahasa negatif saat berbicara tentang ular, anak-anak didorong untuk menganggap ular berbeda dari manusia. Bahasa yang merendahkan dalam buku cerita tersebut memiliki efek yang sama.

Baca juga: Daftar 10 Spesies Terancam Punah 2026, Belut hingga Tulip

Sedikitnya 450 dari 4.000 spesies ular terancam punah. Studi menunjukkan sikap negatif anak terhadap ular dipengaruhi bahasa orangtua.iStock/pumpump Sedikitnya 450 dari 4.000 spesies ular terancam punah. Studi menunjukkan sikap negatif anak terhadap ular dipengaruhi bahasa orangtua.

Namun, anak-anak umumnya mengira ular mirip dengan hewan non-manusia lainnya menjadi temuan yang tak terduga.

"Jadi, kami melakukan studi kedua dengan subyek yang berbeda, menghilangkan buku bergambar dan buku cerita, dan hanya memberikan tugas induksi kepada anak-anak. Dalam kasus ini, mereka tidak mengira ular mirip dengan manusia atau hewan lain," ucapnya.

Dengan kelompok subyek lain, para peneliti kembali memakai buku bergambar dan buku cerita, serta sekali lagi mereka menemukan bahwa anak-anak menganggap ular mirip dengan hewan lain.

Namun, ular tidak dianggap mirip dengan manusia, yang berarti mengulangi temuan dari bagian pertama riset.

Anak-anak berusia lima tahun, terutama dari budaya barat, cenderung berpikir bahwa ular sangat berbeda dari hewan lain, serta bahasa negatif dan merendahkan dapat berkontribusi atas hal itu.

"Namun, paparan terhadap ular dan pembelajaran tentang kebutuhan biologis mereka dapat berfungsi sebagai penangkal terhadap sikap negatif terhadap ular, yang dapat membantu menumbuhkan kepedulian dan rasa hormat terhadap hewan-hewan ini," ujar Loucks.

Baca juga: Pesut Mahakam Terancam Punah dan Tinggal 66 Ekor, KLH Siapkan Langkah Darurat

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pulau Umang di Banten Hendak Dijual Rp 65 Miliar, Begini Kata KKP
Pulau Umang di Banten Hendak Dijual Rp 65 Miliar, Begini Kata KKP
Pemerintah
Siswa SMAN 1 Kedamean Pantau Air dan Tanah lewat Sistem Hydrotech Ramah Lingkungan
Siswa SMAN 1 Kedamean Pantau Air dan Tanah lewat Sistem Hydrotech Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Efek 'Burnout' Manajer, Performa Karyawan Ikut Turun
Efek "Burnout" Manajer, Performa Karyawan Ikut Turun
Pemerintah
Ketika Musim Tak Lagi Terbaca: Mendesak Literasi Iklim dari Desa
Ketika Musim Tak Lagi Terbaca: Mendesak Literasi Iklim dari Desa
Pemerintah
Gelombang Panas Laut Tingkatkan Daya Rusak Badai hingga 60 Persen
Gelombang Panas Laut Tingkatkan Daya Rusak Badai hingga 60 Persen
Pemerintah
Apindo: Hanya 36 Persen Karyawan yang Dibayar Sesuai Upah Minimum
Apindo: Hanya 36 Persen Karyawan yang Dibayar Sesuai Upah Minimum
Swasta
Dinamika ENSO 2026, Membaca Sinyal Alam di Tengah Narasi “Godzilla”
Dinamika ENSO 2026, Membaca Sinyal Alam di Tengah Narasi “Godzilla”
Pemerintah
Jumat Tanpa Asap, 37.158 Insan PLN Tinggalkan Kendaraan Fosil demi Gaya Hidup Hijau
Jumat Tanpa Asap, 37.158 Insan PLN Tinggalkan Kendaraan Fosil demi Gaya Hidup Hijau
BUMN
'Sustainability' Tak Lagi Sekadar Formalitas, Harus Berdampak Nyata untuk Bisnis
"Sustainability" Tak Lagi Sekadar Formalitas, Harus Berdampak Nyata untuk Bisnis
Pemerintah
Harga Plastik Naik, Kemasan Guna Ulang Dinilai Jadi Solusi Tekan Biaya dan Sampah
Harga Plastik Naik, Kemasan Guna Ulang Dinilai Jadi Solusi Tekan Biaya dan Sampah
LSM/Figur
JPMorgan Beli Kredit Karbon, Targetkan Pangkas 85.000 Ton Emisi
JPMorgan Beli Kredit Karbon, Targetkan Pangkas 85.000 Ton Emisi
Swasta
Tiga Spesies Baru Tanaman Endemik Sumatra Ditemukan lewat Media Sosial
Tiga Spesies Baru Tanaman Endemik Sumatra Ditemukan lewat Media Sosial
Pemerintah
Perempuan Pesisir Diberdayakan untuk Lindungi Terumbu Karang yang Terancam Krisis Iklim
Perempuan Pesisir Diberdayakan untuk Lindungi Terumbu Karang yang Terancam Krisis Iklim
LSM/Figur
Manfaatkan AI, Serangan Siber Naik 2 Kali Lipat
Manfaatkan AI, Serangan Siber Naik 2 Kali Lipat
Swasta
Prakiraan Cuaca  yang Akurat Tekan Angka Kematian Akibat Gelombang Panas
Prakiraan Cuaca yang Akurat Tekan Angka Kematian Akibat Gelombang Panas
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau