KOMPAS.com - Seiring makin sering terjadinya cuaca ekstrem, kebakaran, dan banjir, peringatan yang bersifat umum disebut tidak lagi memadai.
Para peneliti di Universitas Uppsala, Swedia, bekerja sama dengan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) dan pihak lainnya, menyerukan adanya perubahan dalam memperingatkan bencana alam.
Baca juga:
Menurut para ahli, perubahan ini harus menjadi peringatan yang bersifat personal dan benar-benar mampu membujuk orang untuk segera bertindak, alih-alih sekedar pengiriman pesan massal.
Temuan ini kemudian dipublikasikan artikel penelitian baru di jurnal Nature Human Behaviour, dilansir dari Phys.org, Senin (16/2/2026).
Peneliti menyerukan sistem peringatan bencana yang lebih personal. Studi terbaru menyebut pesan umum tidak lagi efektif selamatkan nyawa.Setiap tahun, bencana alam merenggut ribuan nyawa di seluruh dunia. Meski ada sistem peringatan dini yang canggih, tidak sedikit orang yang gagal bertindak tepat waktu.
Masalahnya dinilai bukan terletak pada kurangnya kapasitas teknis, tapi bagaimana peringatan tersebut dikomunikasikan.
"Dalam praktiknya, peringatan yang gagal memicu tindakan adalah sebuah kegagalan," kata profesor hidrologi di Departemen Ilmu Bumi sekaligus salah satu penulis penelitian tersebut, Giuliano Di Baldassarre.
"Langkah besar berikutnya dalam mengurangi risiko bencana harus bersifat psikologis dan sosial bukan sekadar teknis," tambah dia.
Sistem peringatan dini saat ini dinilai sering kali didasarkan pada pesan umum kepada kelompok besar.
Namun, penelitian menunjukkan bahwa perilaku, situasi, dan keadaan orang sangat beragam dan hal ini menentukan bagaimana mereka bereaksi terhadap peringatan.
Oleh karena itu, para peneliti menyarankan agar inisiatif global PBB, Early Warnings for All (EW4All), dikembangkan lebih lanjut menjadi Early Warnings for All and You (EW4All+U), dengan kemungkinan melengkapi peringatan dengan informasi yang dipersonalisasi.
Langkah itu dapat mencakup sistem peringatan yang mempertimbangkan lokasi, tingkat mobilitas, apakah memiliki anak-anak atau kerabat lanjut usia, dan kemudian memberikan saran spesifik berdasarkan situasi khusus tersebut.
"Mengatakan sesuatu itu berbahaya saja tidak cukup. Orang-orang perlu tahu persis apa yang harus mereka lakukan, kapan, dan bagaimana berdasarkan situasi mereka masing-masing," kata penulis utama studi, Ilias Pechlivanidis.
Itulah mengapa dalam hal ini memahami memahami faktor psikologis sangatlah penting: Apa yang meyakinkan orang untuk memercayai sebuah peringatan? Jenis pilihan kata seperti apa yang meningkatkan kemungkinan mereka akan benar-benar mengikuti saran tersebut?
Baca juga:
Peneliti menyerukan sistem peringatan bencana yang lebih personal. Studi terbaru menyebut pesan umum tidak lagi efektif selamatkan nyawa.Dengan bantuan geodata, teknologi seluler, AI (Artifical Intelligence atau kecerdasan buatan), dan satelit, pengiriman peringatan berbasis lokasi secara real-time sudah sangat memungkinkan untuk dilakukan.
Dalam kasus kebakaran hutan, misalnya, sistem seperti ini dapat memandu orang-orang ke lokasi aman terdekat berdasarkan posisi mereka saat ini dan kondisi di lapangan.
Meskipun demikian, saat ini teknologi tersebut utamanya masih digunakan dalam proyek percontohan atau pada tahap konsep.
Tantangan besar masih ada dalam hal meningkatkan skala solusi tersebut, mengintegrasikannya ke dalam sistem peringatan yang sudah ada, serta memastikan bahwa sistem ini berfungsi untuk berbagai jenis bahaya dan bagi seluruh lapisan masyarakat.
Baca juga:
Lebih lanjut, para peneliti di balik EW4All+U kini menyerukan adanya inisiatif yang terkoordinasi dalam riset, teknologi, dan pedoman kebijakan.
Tujuannya untuk melangkah maju dari sekadar alarm umum menuju peringatan personal yang menyelamatkan nyawa tanpa memandang kondisi sosial, teknis, dan geografis.
"Peristiwa alam tidak dapat dihentikan, tapi bencana dapat dicegah. Peringatan pribadi bukanlah visi untuk masa depan itu adalah kebutuhan di sini dan sekarang," kata Pechlivanidis.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya