Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cuaca Ekstrem Meningkat, Ilmuwan Desak Sistem Peringatan Bencana yang Lebih Personal

Kompas.com, 16 Februari 2026, 18:32 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Seiring makin sering terjadinya cuaca ekstrem, kebakaran, dan banjir, peringatan yang bersifat umum disebut tidak lagi memadai.

Para peneliti di Universitas Uppsala, Swedia, bekerja sama dengan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) dan pihak lainnya, menyerukan adanya perubahan dalam memperingatkan bencana alam.

Baca juga:

Menurut para ahli, perubahan ini harus menjadi peringatan yang bersifat personal dan benar-benar mampu membujuk orang untuk segera bertindak, alih-alih sekedar pengiriman pesan massal.

Temuan ini kemudian dipublikasikan artikel penelitian baru di jurnal Nature Human Behaviour, dilansir dari Phys.org, Senin (16/2/2026).

Pentingnya perubahan peringatan bencana alam

Bagaimana peringatan bencana dikomunikasikan harus diperhatikan

Peneliti menyerukan sistem peringatan bencana yang lebih personal. Studi terbaru menyebut pesan umum tidak lagi efektif selamatkan nyawa.Pemprov Jateng Peneliti menyerukan sistem peringatan bencana yang lebih personal. Studi terbaru menyebut pesan umum tidak lagi efektif selamatkan nyawa.

Setiap tahun, bencana alam merenggut ribuan nyawa di seluruh dunia. Meski ada sistem peringatan dini yang canggih, tidak sedikit orang yang gagal bertindak tepat waktu.

Masalahnya dinilai bukan terletak pada kurangnya kapasitas teknis, tapi bagaimana peringatan tersebut dikomunikasikan.

"Dalam praktiknya, peringatan yang gagal memicu tindakan adalah sebuah kegagalan," kata profesor hidrologi di Departemen Ilmu Bumi sekaligus salah satu penulis penelitian tersebut, Giuliano Di Baldassarre.

"Langkah besar berikutnya dalam mengurangi risiko bencana harus bersifat psikologis dan sosial bukan sekadar teknis," tambah dia. 

Sistem peringatan dini saat ini dinilai sering kali didasarkan pada pesan umum kepada kelompok besar.

Namun, penelitian menunjukkan bahwa perilaku, situasi, dan keadaan orang sangat beragam dan hal ini menentukan bagaimana mereka bereaksi terhadap peringatan.

Oleh karena itu, para peneliti menyarankan agar inisiatif global PBB, Early Warnings for All (EW4All), dikembangkan lebih lanjut menjadi Early Warnings for All and You (EW4All+U), dengan kemungkinan melengkapi peringatan dengan informasi yang dipersonalisasi.

Langkah itu dapat mencakup sistem peringatan yang mempertimbangkan lokasi, tingkat mobilitas, apakah memiliki anak-anak atau kerabat lanjut usia, dan kemudian memberikan saran spesifik berdasarkan situasi khusus tersebut.

"Mengatakan sesuatu itu berbahaya saja tidak cukup. Orang-orang perlu tahu persis apa yang harus mereka lakukan, kapan, dan bagaimana berdasarkan situasi mereka masing-masing," kata penulis utama studi, Ilias Pechlivanidis.

Itulah mengapa dalam hal ini memahami memahami faktor psikologis sangatlah penting: Apa yang meyakinkan orang untuk memercayai sebuah peringatan? Jenis pilihan kata seperti apa yang meningkatkan kemungkinan mereka akan benar-benar mengikuti saran tersebut?

Baca juga: 

Teknologi sudah ada tapi belum maksimal

Peneliti menyerukan sistem peringatan bencana yang lebih personal. Studi terbaru menyebut pesan umum tidak lagi efektif selamatkan nyawa.ANTARA FOTO/IGGOY EL FITRA Peneliti menyerukan sistem peringatan bencana yang lebih personal. Studi terbaru menyebut pesan umum tidak lagi efektif selamatkan nyawa.

Dengan bantuan geodata, teknologi seluler, AI (Artifical Intelligence atau kecerdasan buatan), dan satelit, pengiriman peringatan berbasis lokasi secara real-time sudah sangat memungkinkan untuk dilakukan.

Dalam kasus kebakaran hutan, misalnya, sistem seperti ini dapat memandu orang-orang ke lokasi aman terdekat berdasarkan posisi mereka saat ini dan kondisi di lapangan.

Meskipun demikian, saat ini teknologi tersebut utamanya masih digunakan dalam proyek percontohan atau pada tahap konsep.

Tantangan besar masih ada dalam hal meningkatkan skala solusi tersebut, mengintegrasikannya ke dalam sistem peringatan yang sudah ada, serta memastikan bahwa sistem ini berfungsi untuk berbagai jenis bahaya dan bagi seluruh lapisan masyarakat.

Baca juga:

Lebih lanjut, para peneliti di balik EW4All+U kini menyerukan adanya inisiatif yang terkoordinasi dalam riset, teknologi, dan pedoman kebijakan.

Tujuannya untuk melangkah maju dari sekadar alarm umum menuju peringatan personal yang menyelamatkan nyawa tanpa memandang kondisi sosial, teknis, dan geografis.

"Peristiwa alam tidak dapat dihentikan, tapi bencana dapat dicegah. Peringatan pribadi bukanlah visi untuk masa depan itu adalah kebutuhan di sini dan sekarang," kata Pechlivanidis.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
Pemerintah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
Pemerintah
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Swasta
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
Pemerintah
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
Pemerintah
Java Fresh Perluas Ekspor ke China, Perkuat Riset untuk Perpanjang Masa Simpan Buah
Java Fresh Perluas Ekspor ke China, Perkuat Riset untuk Perpanjang Masa Simpan Buah
Swasta
Komitmen Net-Zero Perusahaan Global Tumbuh 61 Persen pada 2025
Komitmen Net-Zero Perusahaan Global Tumbuh 61 Persen pada 2025
Pemerintah
Waspadai Perdagangan Satwa Liar Berisiko Tularkan Penyakit ke Manusia
Waspadai Perdagangan Satwa Liar Berisiko Tularkan Penyakit ke Manusia
Pemerintah
Enam Kali Raih Proper Emas, Sido Muncul Buktikan Praktik Ramah Lingkungan Dimulai dari Kegiatan Sehari-hari
Enam Kali Raih Proper Emas, Sido Muncul Buktikan Praktik Ramah Lingkungan Dimulai dari Kegiatan Sehari-hari
BrandzView
Dari Kebun Manggis ke Supermarket Eropa, Ini Keunggulan Indonesia Ketimbang Negara Tetangga
Dari Kebun Manggis ke Supermarket Eropa, Ini Keunggulan Indonesia Ketimbang Negara Tetangga
Swasta
Lestari Forum 2026: 'Sustainability' Bagian dari Inti Bisnis
Lestari Forum 2026: "Sustainability" Bagian dari Inti Bisnis
Swasta
Mengintip Strategi PHE Menjaga Pasokan Energi Nasional Jangka Panjang
Mengintip Strategi PHE Menjaga Pasokan Energi Nasional Jangka Panjang
BUMN
Prabowo Bikin Program Listrifikasi Kendaran, Pangkas Pemakaian BBM
Prabowo Bikin Program Listrifikasi Kendaran, Pangkas Pemakaian BBM
Pemerintah
Gletser Asia Mencair, Pasokan Air Miliaran Orang Terancam
Gletser Asia Mencair, Pasokan Air Miliaran Orang Terancam
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau