Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Peneliti Ciptakan Energi Listrik dari Urin, Berpotensi Jadi EBT Baru

Kompas.com, 19 Februari 2026, 06:13 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Tim peneliti McGill University di Kanada berhasil menciptakan listrik dari urin manusia, yang menandai tonggak baru sektor energi baru terbarukan (EBT).

Salah satu peneliti, Vijaya Raghavan menjelaskan bahwa konsentrasi urin yang tingi meningkatkan kinerja sel bahan bakar mikroba atau microbial fuel cell (MFC).

Baca juga: 

Para peneliti lantas menggunakan MFC yakni perangkat yang memanfaatkan bakteri alami untuk menguraikan limbah organi untuk menghasilkan listrik.

“Meski MFC diketahui mampu membersihkan air limbah dan menghasilkan listrik, dampak spesifik dari berbagai konsentrasi urin terhadap fungsi elektrokimia, efisiensi penghilangan polutan, dan perilaku komunitas mikroba masih belum sepenuhnya dipahami,” kata Raghavan, dilansir dari Down to Earth, Rabu (18/2/2026).

“Penelitian kami secara sistematis mengkaji bagaimana variasi proporsi urin memengaruhi mikroba dan energi yang mereka hasilkan," imbuh dia.

Baca juga:

Listrik dari urin manusia, harapan untuk EBT

Sel bahan bakar dengan kadar urin 50-75 persen paling banyak produksi listrik

Para peneliti di Kanada berhasil mengubah urin manusia menjadi energi listrik bersih, menjadi harapan EBT.Wikimedia Commons Para peneliti di Kanada berhasil mengubah urin manusia menjadi energi listrik bersih, menjadi harapan EBT.

Untuk menguji sistem, para peneliti mengoperasikan empat sel bahan bakar mikroba dua ruang dengan campuran air limbah sintetis dan urin manusia pada konsentrasi 20 persen, 50 persen, dan 75 persen.

Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Results in Chemistry itu, peneliti mengaku memantau produksi listrik, polutan, serta aktivitas elektrokimia selama dua pekan.

Hasilnya menunjukkan, sel bahan bakar dengan kadar urin 50-75 persen paling banyak memproduksi listrik.

“Urin mengandung ion esensial dan senyawa organik yang mendukung aktivitas mikroba secara cepat sehingga meningkatkan pembangkitan daya dan penguraian polutan,” papar Raghavan.

Mereka juga mencatat perubahan komunitas mikroba dalam sel. Bakteri Sediminibacterium mendominasi pada konsentrasi sedang, sedangkan Comamonas menjadi lebih dominan pada konsentrasi yang lebih tinggi.

Pergeseran ini kemungkinan menjelaskan perbedaan keluaran listrik.

Lantaran mikroorganisme tersebut melepaskan elektron saat memetabolisme limbah organik, komposisi komunitas mikroba secara langsung berpengruh pada efisiensi sistem dalam menghasilkan listrik.

Listrik untuk wilayah rentan 

Para peneliti di Kanada berhasil mengubah urin manusia menjadi energi listrik bersih, menjadi harapan EBT.UNSPLASH/CLINT PATTERSON Para peneliti di Kanada berhasil mengubah urin manusia menjadi energi listrik bersih, menjadi harapan EBT.

Raghavan menyatakan, temuan timnya dapat digunakan untuk menghasilkan energi bersih mendukung sanitasi pedesaan, pusat bantuan bencana, dan komunitas tanpa akses jaringan listrik.

Selain itu, MFC berpotensi berfungsi sebagai biosensor berbiaya rendah guna memantau kualitas air limbah tanpa peralatan yang rumit.

Raghavan berpandangan, studi baru itu menjadi langkah penting menuju ekonomi sirkular.

“Menggunakan urin sebagai sumber daya mendukung sanitasi berkelanjutan dan pemulihan nutrien, sekaligus mengurangi tekanan pada sistem air tawar,” ucap dia.

Peneliti mencatat sel bahan bakar mikroba menghasilkan sinyal listrik yang bervariasi sesuai tingkat polusi.

Artinya, teknologi ini berpotensi berfungsi sebagai biosensor berbiaya rendah untuk memantau kualitas air limbah tanpa memerlukan peralatan laboratorium yang rumit.

Baca juga:

Studi itu berkontribusi pada upaya yang lebih luas dalam mengembangkan solusi ekonomi sirkular yang memandang limbah manusia sebagai sumber daya, bukan sekadar masalah pembuangan.

Mengonversi urin menjadi listrik sekaligus memulihkan nutrien yang berujung pada berkurangnya tekanan pada sistem air tawar dan menekan biaya infrastruktur.

"Studi ini membuka jalan bagi identifikasi spesies Sediminibacterium dan Comamonas yang belum terklasifikasi, untuk menilai peran mereka dalam produksi bioelektrik, dan untuk menentukan apakah mereka menggunakan rantai transpor elektron berbasis mediator atau transpor elektron langsung," tulis tim peneliti. 

Mereka menekankan, riset lebih lanjut sangat penting guna memahami dampak spesies Sediminibacterium yang belum terklasifikasi terhadap penguraian senyawa dalam anolit dengan kekuatan amonium tinggi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
ISO Perbarui Standar Utama Manajemen Lingkungan
ISO Perbarui Standar Utama Manajemen Lingkungan
Swasta
Dosen Unej Teliti Tanaman Zaman Prasejarah di Geopark Ijen
Dosen Unej Teliti Tanaman Zaman Prasejarah di Geopark Ijen
LSM/Figur
Krisis Selat Hormuz, FAO Ingatkan Bahaya Inflasi Pangan Global
Krisis Selat Hormuz, FAO Ingatkan Bahaya Inflasi Pangan Global
Pemerintah
KKP Tak Tenggelamkan Kapal Asing Ilegal Seperti Era Susi Pudjiastuti, tapi Diberikan ke Nelayan
KKP Tak Tenggelamkan Kapal Asing Ilegal Seperti Era Susi Pudjiastuti, tapi Diberikan ke Nelayan
Pemerintah
Pakar IPB Beberkan Cara Berantas Lonjakan Populasi Ikan Sapu-sapu
Pakar IPB Beberkan Cara Berantas Lonjakan Populasi Ikan Sapu-sapu
Pemerintah
Kepatuhan Minum Tablet Tambah Darah di Kalangan Remaja Rendah, Ngantuk Saat Jam Pelajaran
Kepatuhan Minum Tablet Tambah Darah di Kalangan Remaja Rendah, Ngantuk Saat Jam Pelajaran
LSM/Figur
Kemenhut Terbitkan Aturan Baru Perdagangan Karbon, Disebut Lebih Jelas dan Terarah
Kemenhut Terbitkan Aturan Baru Perdagangan Karbon, Disebut Lebih Jelas dan Terarah
Pemerintah
Remaja Paham Stunting tapi Lebih Suka Seblak ketimbang Sayur-Buah
Remaja Paham Stunting tapi Lebih Suka Seblak ketimbang Sayur-Buah
LSM/Figur
Pencabutan IUP Harus Disertai Penegakan Hukum dan Pemulihan Lingkungan
Pencabutan IUP Harus Disertai Penegakan Hukum dan Pemulihan Lingkungan
LSM/Figur
Sandiaga Uno: Indonesia Punya Prospek Cerah di Ekonomi Hijau
Sandiaga Uno: Indonesia Punya Prospek Cerah di Ekonomi Hijau
Pemerintah
Tanoto Foundation Fellowship Dibuka untuk Lulusan S1 dan S2, Cek Syaratnya
Tanoto Foundation Fellowship Dibuka untuk Lulusan S1 dan S2, Cek Syaratnya
LSM/Figur
Pulau Umang di Banten Hendak Dijual Rp 65 Miliar, Begini Kata KKP
Pulau Umang di Banten Hendak Dijual Rp 65 Miliar, Begini Kata KKP
Pemerintah
Siswa SMAN 1 Kedamean Pantau Air dan Tanah lewat Sistem Hydrotech Ramah Lingkungan
Siswa SMAN 1 Kedamean Pantau Air dan Tanah lewat Sistem Hydrotech Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Efek 'Burnout' Manajer, Performa Karyawan Ikut Turun
Efek "Burnout" Manajer, Performa Karyawan Ikut Turun
Pemerintah
Ketika Musim Tak Lagi Terbaca: Mendesak Literasi Iklim dari Desa
Ketika Musim Tak Lagi Terbaca: Mendesak Literasi Iklim dari Desa
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau