KOMPAS.com - Desa Bukit Batu di Kecamatan Sungai Kunyit, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, jadi saksi pembangunan proyek hillirisasi bauksit-alumina-aluminium.
Proyek yang dikembangkan PT Borneo Alumina Indonesia (BAI), anak usaha Grup MIND ID, tersebut masuk Proyek Strategi Nasional (PSN).
Baca juga:
Di balik pembangunan hilirisasi bauksit, terselip harapan masyarakat Bukit Batu untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarga. Kepala Desa Bukit Batu, Harianto mengatakan, dengan adanya industri pertambangan baru, puluhan warganya berhasil mengubah nasib dengan menjadi pekerja di perusahaan pengembang proyek.
"Banyak juga, (yang bekerja) ada puluhan lah. Ada yang jadi helper dan operator kebanyakan, mereka ada juga yang sarjana dan lulusan SMA," kata Harianto kepada Kompas.com, Senin (23/2/2026).
Meski demikian, tak semua masyarakat merasakan manfaat yang sama. Harianto mengakui masih ada keluhan karena beberapa orang masih belum bisa bekerja akibat tak memiliki ijazah SMA serta keterampilan khusus.
"Kemarin juga ada program CSR-nya (Corporate Social Responsibility) mengambil ijazah Paket C supaya mereka bisa bekerja. Cuman ada sebagian masyarakat masih yang belum itu selalu komplain," tutur dia.
Ilustrasi sembako, minyak goreng, telur. Desa Bukit Batu, Mempawah, Kalimantan Barat, mulai bangkit setelah PSN hilirisasi bauksit dimulai. Harianto menuturkan, proyek hilirisasi bauksit-alumina-aluminium tengah dibangun di atas tanah seluas sekitar 300 hektar dari total luasan Desa Bukit Batu yang mencapai 5.115 hektar.
Tanah yang sebelumnya lahan perkebunan dan permukiman, saat ini mengubah wajah ekonomi desa sejak pembangunan dimulai 2021 lalu.
Geliat ekonomi tampak dari bertambahnya jumlah pedagang kuliner dan sembako di desa. Menurut dia, ekonomi masyarakat naik 50-60 persen sejak pemerintah memantapkan PSN di Desa Bukit Batu.
"Pertama, dari pertumbuhan ekonomi di sini semakin berkembang. Kalau dulu banyak petani, banyak masyarakat yang bekerja kasar, merantau ke Malaysia juga ada yang kerja di kebun, mereka sekarang banyak yang jadi pedagang," jelas Harianto.
Masyarakat mendapatkan bantuan pendanaan dari negara untuk mengembangkan usahanya. Bahkan, beberapa di antara mereka ada yang membangun kamar kos untuk disewa.
"Semenjak mulai pembangunan itu perekonomi makin tumbuh di sini. Sehingga pedagang-pedagang yang dulu hanya satu-dua sekarang sudah ratusan," ucap dia.
Harianto memandang proyek hilirisasi bauksit-alumina-aluminium sebagai peluang jangka panjang.
Dia berharap perusahaan terus peduli terhadap masyakarat melalui penyerapan tenaga kerja lokal dan dukungan ke usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Baca juga:
Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin. Desa Bukit Batu, Mempawah, Kalimantan Barat, mulai bangkit setelah PSN hilirisasi bauksit dimulai. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) secara serentak melaksanakan groundbreaking enam proyek hilirisasi termasuk bauksit di 13 lokasi di Indonesia.
Total investasinya mencapai tujuh miliar dollar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp 117 triliun, Jumat (6/2/2026).
Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin menjelaskan, program hilirisasi dilakukan melalui pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian bauksit menjadi alumina dan aluminium di Mempawah.
"Groundbreaking di Mempawah menandai terciptanya rantai industri aluminium yang utuh di Indonesia. Fasilitas yang dibangun bukan hanya sarana produksi, tetapi ekosistem industri aluminium nasional yang terintegrasi, mencakup pasokan bahan baku, energi, infrastruktur, hingga pengembangan sumber daya manusia," papar Maroef dalam sambutannya, dikutip dari akun YouTube Danantara Indonesia.
Saat ini, PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) mengoperasikan smelter aluminium di Kuala Tanjung, Sumatera Utara, dengan kapasitas 275.000 ton per tahun.
Kemudian kapasitas akan ditingkatkan menjadi 900.000- satu juta ton per tahun melalui pembangunan smelter aluminium kedua berkapasitas 600.000 ton per tahun.
Maroef memastikan, semua produksinya diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan aluminium domestik.
Pengembangannya diperkuat melalui pembangunan smelter grade alumina refinery (SGAR) fase kedua oleh PT Inalum dan PT Aneka Tambang (Antam) melalui PT Borneo Alumina Indonesia di lokasi yang sama dengan SGAR fase pertama dengan kapasitas produksi satu juta ton alumina per tahun.
"Dengan demikian, kapasitas produksi alumina domestik akan meningkat menjadi dua juta ton per tahun dengan penyerapan bijih bauksit sekitar enam juta ton per tahun yang dipasok dari wilayah izin usaha pertambangan Antam di Kabupaten Mempawah dan Kabupaten Landak," jelas dia.
Proyek hilirisasi diperkirakan dapat meningkatkan produk domestik bruto sekitar Rp 71,8 triliun per tahun, memperkuat penerimaan negara sekitar Rp 6,6 triliun per tahun, serta berpotensi menyerap sekitar 65.000 tenaga kerja, baik langsung maupun tidak langsung, mulai dari tahap konstruksi hingga operasional dan sektor pendukung.
"Hilirisasi dari bauksit hingga aluminium disebut mampu menghasilkan nilai tambah lebih dari 70 kali lipat, yang ke depan masih dapat ditingkatkan melalui pengembangan produk hilir lanjutan seperti komponen otomotif, aluminium ekstrusi, lembaran aluminium, hingga aplikasi untuk industri pertahanan dan aviasi," terang Maroef.
Proyeksi tersebut didasarkan pada harga bauksit mentah di kisaran 40 dollar AS (sekitar Rp 672.040) per metrik ton, lalu meningkat menjadi sekitar 400 dollar AS (sekitar Rp 6,72 juta) per metrik ton setelah diolah menjadi alumina.
Harganya kembali melonjak menjadi 2.800-3.000 dollar AS (Rp 47 juta-Rp 50,4 juta) per metrik ton ketika diproses menjadi aluminium.
Baca juga:
Sementara itu, Studi Center of Economic and Law Studies (Celios) berjudul Nexus Ambisi Nilai Tambah dan Tata Kelola Hilirisasi Tembaga Bauksit di Indonesia mengungkap sejumlah langkah bagi pemerintah untuk memperkuat hilirisasi tembaga dan bauksit.
Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira, mengatakan, usulan itu dimulai dari kebijakan, insentif, hingga kesejahteraan masyarakat lokal.
"Pemerintah harus memastikan bahwa kebijakan hilirisasi tambang konsisten, tidak berubah-ubah, dan memiliki arah jangka panjang," ucap Bhima.
Celios juga mendorong perbaikan infrastruktur transportasi, kewajiban transfer teknologi dari investor asing, serta pelatihan tenaga kerja lokal agar tidak bergantung pada pekerja asing.
Evaluasi berkala proyek, pengetatan standar lingkungan, rehabilitasi lahan bekas tambang, dan peningkatan transparansi perizinan perlu dilakukan.
Kemudian, memperkuat pengawasan pembangunan smelter sekaligus mendorong industri hilir seperti kabel, elektronik, aluminium, dan bahan konstruksi di dalam negeri.
Celios juga menekankan integrasi proyek hilirisasi dengan pengembangan ekonomi daerah, serta pemberian prioritas bagi tenaga kerja dan UMKM lokal.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya