Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tren Career Co-Piloting, Orangtua Gen Z Ikut Tulis CV hingga Nego Gaji

Kompas.com, 27 Februari 2026, 19:22 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sebanyak 67 persen Generasi Z (Gen Z) rutin menerima nasihat karier dari orangtua mereka, menurut laporan terbaru dari platform resume Zety. Tren inilah yang dikenal sebagai "career co-piloting".

Orangtua dari Gen Z disebut aktif membantu menulis resume, menghubungi pemberi kerja, mempersiapkan wawancara, dan bahkan menegosiasikan tawaran pekerjaan.

Baca juga:

"Ini adalah hal yang kami amati secara konsisten dari ribuan wawancara yang dilakukan di platform kami setiap bulannya," kata CEO InCruiter, Anil Agarwal, dikutip dari News18, Jumat (27/2/2026).

"Orangtua melatih anak-anak mereka untuk proses wawancara yang mereka ingat dari dua dekade lalu, bukan wawancara berbasis kompetensi yang didukung AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan) yang kini menjadi standar dalam proses perekrutan," tambah dia. 

Tren career co-piloting pada Gen Z

Sebanyak 67 persen Gen Z rutin menerima nasihat karier dari orangtua. Tren career co-piloting ini berdampak pada resume hingga gaji.Dok. Freepik/Freepik Sebanyak 67 persen Gen Z rutin menerima nasihat karier dari orangtua. Tren career co-piloting ini berdampak pada resume hingga gaji.

Terdapat beberapa temuan utama dari laporan tersebut. Salah satunya, sebanyak 44 persen pekerja Gen Z mengakui orangtua mereka telah menulis atau mengedit resume/CV mereka, dilansir dari Forbes.

Kemudian, satu dari lima orangtua dari pekerja Gen Z membantu anaknya dengan menghubungi calon perusahaan atau perekrut atas nama mereka.

Tidak hanya itu, 20 persen orangtua dari pekerja Gen Z ikut serta dalam wawancara kerja anaknya. Bahkan, 15 persen di antaranya dilakukan secara langsung dan lima persen melalui virtual.

Ada pula 28 persen orangtua dari pekerja Gen Z membantu dalam negosiasi gaji atau tunjangan. Sebanyak 18 persen di antaranya menawarkan saran dan 10 persen bernegoisasi langsung dengan pemberi kerja.

Terakhir, 32 persen pekerja Gen Z menyebut orangtuanya sebagai pengaruh utama dalam keputusan karier anaknya. Kemudian, 56 persen karyawan Gen Z mengalami kunjungan orangtua ke tempat kerja mereka di luar acara formal.

Baca juga:

Perluasan dari pengasuhan helikopter

Sebanyak 67 persen Gen Z rutin menerima nasihat karier dari orangtua. Tren career co-piloting ini berdampak pada resume hingga gaji.Dok. Freepik/pressfoto Sebanyak 67 persen Gen Z rutin menerima nasihat karier dari orangtua. Tren career co-piloting ini berdampak pada resume hingga gaji.

Gen Z memasuki dunia kerja yang dibentuk oleh ketidakpastian, dengan perubahan cepat dan peningkatan ekspektasi tentang seberapa cepat karyawan di awal karier harus membuktikan diri.

Untuk menghadapi beratnya tekanan tersebut, ada Gen Z yang menjadikan orangtua mereka sistem pendukung jenis baru. Orangtua mengambil pendekatan langsung untuk membantu Gen Z memulai karier mereka dan mengelola kompleksitas pasar kerja saat ini.

Dulu, saat orangtua terlalu mengawasi anak-anak mereka yang sudah dewasa dan mengurus berbagai tugasnya demi menyingkirkan segala hambatan, disebut "pola asuh helikopter".

Saat ini, pola tersebut meluas menjadi tren di tempat kerja yang disebut "career co-piloting" atau pendampingan karier, menurut pakar dari Zety, Jasmine Escalera.

Istilah ini merujuk pada fenomena orangtua turun tangan untuk membantu anak-anak Gen Z mereka mendapatkan kepercayaan diri, arahan, dan kendali saat memasuki dunia profesional.

Menurut Escalera, pekerja Gen Z dapat lebih memahami kompensasi, menghindari kesalahan umum di awal karier, dan membela diri mereka sendiri secara lebih efektif ketika orangtua berperan sebagai tempat bertukar pikiran atau penasihat strategis.

"Jika dilakukan dengan tepat, hal ini dapat mempercepat pertumbuhan profesional daripada menghambatnya," ujar Escalera.

Namun, risiko keterlibatan yang berlebihan dapat menjadi kelemahannya. Ketika oran tua langsung menghubungi pemberi kerja atau ikut campur dalam wawancara, mereka dapat merusak persepsi kemandirian, profesionalisme, dan kesiapan kandidat. 

Bila orangtua menjadi perantara, hal itu menandakan bahwa kandidat tidak siap untuk menavigasi dinamika tempat kerja secara mandiri.

Dalam jangka panjang, tindakan tersebut dapat memengaruhi pembangunan kepercayaan diri dan keterampilan pengambilan keputusan karier yang penting.

Keterlibatan orangtua secara berlebihan

Sebanyak 67 persen Gen Z rutin menerima nasihat karier dari orangtua. Tren career co-piloting ini berdampak pada resume hingga gaji.Dok. Shutterstock Sebanyak 67 persen Gen Z rutin menerima nasihat karier dari orangtua. Tren career co-piloting ini berdampak pada resume hingga gaji.

Sebenarnya, dampak negatif dari keterlibatan orangtua secara berlebihan dalam kehidupan anak-anak telah terdokumentasi dengan baik.

Studi menunjukkan bahwa hal itu dapat menyebabkan tekanan psikologis, narsisme, penyesuaian diri yang buruk, penggunaan alkohol dan narkoba, serta sejumlah masalah perilaku lainnya pada remaja usia 18-25 tahun.

Orangtua menginginkan anak-anak mereka sempurna, sukses, dan memiliki prestasi positif. Studi dari Texas State University dan University of Nebraska mengungkapkan, orangtua perfeksionis kemungkinan melihat keberhasilan anak-anak mereka sebagai cerminan diri mereka sendiri.

Imbasnya, orangtua kemungkinan melakukan pengasuhan berlebihan dalam upaya mencapai hasil yang "sempurna".

"Saya tidak mengatakan mereka tidak peduli dengan anak-anak mereka; tentu saja mereka peduli. Namun, mereka mengukur harga diri mereka berdasarkan keberhasilan anak-anak mereka. Itulah tolok ukur yang mereka gunakan untuk mengukur keberhasilan mereka sendiri sebagai orang tua," ujar salah satu peneliti studi itu, Chris Segrin.

Kendati didasarkan pada kasih sayang dan niat baik, tren "career co-piloting" dapat merusak otonomi, kepercayaan diri, dan kemampuan anak mengatasi masalah khas Gen Z.

Baca juga:

Tegur orangtua yang terlalu terlibat

Seorang penasihat bagi para pemimpin sumber daya manusia (SDM), Tim Elmore, menyarankan para manajer perekrutan untuk berbicara dengan orangtua dari pekerja Gen Z ketika mereka terlalu terlibat.

Semestinya, pekerja Gen Z diberikan waktu yang memungkinkan untuk mereka berkembang dan meningkatkan peluang kerja.

Ia mengusulkan para manajer perekrutan bersama kandidat pekerja Gen Z membahas secara pribadi tentang keterlibatan orangtua mereka dapat menghambat peluang mereka mendapatkan pekerjaan.

Ia berpesan kepada para manajer perekrutan untuk memperhatikan bagaimana kandidat pekerjaan tersebut merespons.

"Jika mereka menunjukkan sedikit rasa malu, kemungkinan besar mereka memahami dilema tersebut. Jika mereka berkomunikasi dalam bentuk apa pun bahwa mereka ingin orangtua mereka terlibat pada tahap ini, segera jauhkan mereka," ujar Elmore, dilansir dari Hcamag.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau