KOMPAS.com - Sebanyak 67 persen Generasi Z (Gen Z) rutin menerima nasihat karier dari orangtua mereka, menurut laporan terbaru dari platform resume Zety. Tren inilah yang dikenal sebagai "career co-piloting".
Orangtua dari Gen Z disebut aktif membantu menulis resume, menghubungi pemberi kerja, mempersiapkan wawancara, dan bahkan menegosiasikan tawaran pekerjaan.
Baca juga:
"Ini adalah hal yang kami amati secara konsisten dari ribuan wawancara yang dilakukan di platform kami setiap bulannya," kata CEO InCruiter, Anil Agarwal, dikutip dari News18, Jumat (27/2/2026).
"Orangtua melatih anak-anak mereka untuk proses wawancara yang mereka ingat dari dua dekade lalu, bukan wawancara berbasis kompetensi yang didukung AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan) yang kini menjadi standar dalam proses perekrutan," tambah dia.
Sebanyak 67 persen Gen Z rutin menerima nasihat karier dari orangtua. Tren career co-piloting ini berdampak pada resume hingga gaji.Terdapat beberapa temuan utama dari laporan tersebut. Salah satunya, sebanyak 44 persen pekerja Gen Z mengakui orangtua mereka telah menulis atau mengedit resume/CV mereka, dilansir dari Forbes.
Kemudian, satu dari lima orangtua dari pekerja Gen Z membantu anaknya dengan menghubungi calon perusahaan atau perekrut atas nama mereka.
Tidak hanya itu, 20 persen orangtua dari pekerja Gen Z ikut serta dalam wawancara kerja anaknya. Bahkan, 15 persen di antaranya dilakukan secara langsung dan lima persen melalui virtual.
Ada pula 28 persen orangtua dari pekerja Gen Z membantu dalam negosiasi gaji atau tunjangan. Sebanyak 18 persen di antaranya menawarkan saran dan 10 persen bernegoisasi langsung dengan pemberi kerja.
Terakhir, 32 persen pekerja Gen Z menyebut orangtuanya sebagai pengaruh utama dalam keputusan karier anaknya. Kemudian, 56 persen karyawan Gen Z mengalami kunjungan orangtua ke tempat kerja mereka di luar acara formal.
Baca juga:
Sebanyak 67 persen Gen Z rutin menerima nasihat karier dari orangtua. Tren career co-piloting ini berdampak pada resume hingga gaji.Gen Z memasuki dunia kerja yang dibentuk oleh ketidakpastian, dengan perubahan cepat dan peningkatan ekspektasi tentang seberapa cepat karyawan di awal karier harus membuktikan diri.
Untuk menghadapi beratnya tekanan tersebut, ada Gen Z yang menjadikan orangtua mereka sistem pendukung jenis baru. Orangtua mengambil pendekatan langsung untuk membantu Gen Z memulai karier mereka dan mengelola kompleksitas pasar kerja saat ini.
Dulu, saat orangtua terlalu mengawasi anak-anak mereka yang sudah dewasa dan mengurus berbagai tugasnya demi menyingkirkan segala hambatan, disebut "pola asuh helikopter".
Saat ini, pola tersebut meluas menjadi tren di tempat kerja yang disebut "career co-piloting" atau pendampingan karier, menurut pakar dari Zety, Jasmine Escalera.
Istilah ini merujuk pada fenomena orangtua turun tangan untuk membantu anak-anak Gen Z mereka mendapatkan kepercayaan diri, arahan, dan kendali saat memasuki dunia profesional.
Menurut Escalera, pekerja Gen Z dapat lebih memahami kompensasi, menghindari kesalahan umum di awal karier, dan membela diri mereka sendiri secara lebih efektif ketika orangtua berperan sebagai tempat bertukar pikiran atau penasihat strategis.
"Jika dilakukan dengan tepat, hal ini dapat mempercepat pertumbuhan profesional daripada menghambatnya," ujar Escalera.
Namun, risiko keterlibatan yang berlebihan dapat menjadi kelemahannya. Ketika oran tua langsung menghubungi pemberi kerja atau ikut campur dalam wawancara, mereka dapat merusak persepsi kemandirian, profesionalisme, dan kesiapan kandidat.
Bila orangtua menjadi perantara, hal itu menandakan bahwa kandidat tidak siap untuk menavigasi dinamika tempat kerja secara mandiri.
Dalam jangka panjang, tindakan tersebut dapat memengaruhi pembangunan kepercayaan diri dan keterampilan pengambilan keputusan karier yang penting.
Sebanyak 67 persen Gen Z rutin menerima nasihat karier dari orangtua. Tren career co-piloting ini berdampak pada resume hingga gaji.Sebenarnya, dampak negatif dari keterlibatan orangtua secara berlebihan dalam kehidupan anak-anak telah terdokumentasi dengan baik.
Studi menunjukkan bahwa hal itu dapat menyebabkan tekanan psikologis, narsisme, penyesuaian diri yang buruk, penggunaan alkohol dan narkoba, serta sejumlah masalah perilaku lainnya pada remaja usia 18-25 tahun.
Orangtua menginginkan anak-anak mereka sempurna, sukses, dan memiliki prestasi positif. Studi dari Texas State University dan University of Nebraska mengungkapkan, orangtua perfeksionis kemungkinan melihat keberhasilan anak-anak mereka sebagai cerminan diri mereka sendiri.
Imbasnya, orangtua kemungkinan melakukan pengasuhan berlebihan dalam upaya mencapai hasil yang "sempurna".
"Saya tidak mengatakan mereka tidak peduli dengan anak-anak mereka; tentu saja mereka peduli. Namun, mereka mengukur harga diri mereka berdasarkan keberhasilan anak-anak mereka. Itulah tolok ukur yang mereka gunakan untuk mengukur keberhasilan mereka sendiri sebagai orang tua," ujar salah satu peneliti studi itu, Chris Segrin.
Kendati didasarkan pada kasih sayang dan niat baik, tren "career co-piloting" dapat merusak otonomi, kepercayaan diri, dan kemampuan anak mengatasi masalah khas Gen Z.
Baca juga:
Seorang penasihat bagi para pemimpin sumber daya manusia (SDM), Tim Elmore, menyarankan para manajer perekrutan untuk berbicara dengan orangtua dari pekerja Gen Z ketika mereka terlalu terlibat.
Semestinya, pekerja Gen Z diberikan waktu yang memungkinkan untuk mereka berkembang dan meningkatkan peluang kerja.
Ia mengusulkan para manajer perekrutan bersama kandidat pekerja Gen Z membahas secara pribadi tentang keterlibatan orangtua mereka dapat menghambat peluang mereka mendapatkan pekerjaan.
Ia berpesan kepada para manajer perekrutan untuk memperhatikan bagaimana kandidat pekerjaan tersebut merespons.
"Jika mereka menunjukkan sedikit rasa malu, kemungkinan besar mereka memahami dilema tersebut. Jika mereka berkomunikasi dalam bentuk apa pun bahwa mereka ingin orangtua mereka terlibat pada tahap ini, segera jauhkan mereka," ujar Elmore, dilansir dari Hcamag.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya