Terdapat sejumlah opsi manajemen komunikasi yang dapat dilakukan perusahaan dalam menanggapi krisis. Salah satunya adalah menyangkal bahwa peristiwa itu tidak terjadi.
Biasanya penyangkalan dilakukan dengan disertai klaim tidak bertanggung jawab dan menyalahkan pihak lain.
Opsi kedua adalah mengecilkan dampak atau keterlibatan perusahaan terhadap peristiwa itu.
"(Contohnya), 'Oh, bencananya tidak sebesar yang kita bayangkan kok'. Nah, besarnya itu kan relatif ya, itu akan mengundang yang enggak perlu di media sosial. Wah nanti kita akan repot tuh mengurus sosial medianya. Jadi, bahkan berita yang ada sekarang kalau sudah ribut di media sosial, diterbitkan postingan yang positif (pun) nanti akan meng-create negatif baru. Jadi, udah agak terbalik nih lanskap komunikasinya. Keduanya itu saya tidak menyarankan," jelas Arya.
Baca juga:
Opsi ketiga adalah mengakui kesalahan dengan menawarkan kompensasi dan menyampaikan berbagai perbaikan.
Sebaiknya, informasi fakta tentang peristiwa diulas tidak lebih dari 10 persen dari keseluruhan narasi. Sisanya, memperbanyak pembahasan tentang progres perbaikan yang dilakukan perusahaan dengan berbagai buktinya.
Arya mengingatkan untuk tidak berasumsi tentang penyebab peristiwa itu.
"Karena ini ada konsekuensi hukumnya. Jadi, kalau memang nanti ditanya (media) ya jawaban kita adalah, 'Ini akan dilakukan investigasi mungkin nanti pihak yang berkepentingan atau yang memiliki kewenangan yang akan menyampaikan demikian'. Jangan pernah kita berasumsi," ujar Arya.
Opsi lainnya adalah menyampaikan rekam jejak keberlanjutan, kontribusi sosial, serta penghargaan dan capaian ESG. Hal itu untuk menunjukkan bahwa sebenarnya perusahaan memang taat dengan aturan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya