KOMPAS.com – Di sejumlah kawasan penyangga Jakarta, deretan rumah baru terus tumbuh mengikuti kebutuhan hunian masyarakat. Namun, rumah kini tak lagi sekadar perkara tempat tinggal.
Seiring kesadaran akan perubahan iklim, masyarakat pun menginginkan hunian yang lebih ramah lingkungan, inklusif, dan tetap terjangkau sekaligus.
Bagi PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN, perubahan ekspektasi itu bukan sekadar tren. Prinsip keberlanjutan lewat penguatan tata kelola dan agenda ESG ditempatkan sebagai bagian dari strategi bisnis serta berjalan beriringan dengan pertumbuhan kinerja keuangan perseroan.
Komitmen tersebut tecermin dari capaian awal tahun ini. Mengawali 2026, bank berkode saham BBTN itu membukukan laba bersih Rp 230 miliar pada Januari. Angka tersebut melonjak 578 persen secara tahunan (year on year/yoy) jika dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang sebesar Rp 34 miliar.
Baca juga: Mengawali Tahun 2026, BTN Cetak Kenaikan Laba Bersih 578 Persen
Lonjakan laba itu ditopang oleh perbaikan fundamental. Pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) tumbuh 79,46 persen (yoy) seiring kemampuan perseroan menekan beban bunga hingga turun 14,53 persen.
Efisiensi ini memperkuat profitabilitas di tengah transformasi bisnis yang sedang dijalankan.
Kinerja itu turut memperkuat struktur keuangan perusahaan. Hingga Januari 2026, total aset BTN tumbuh 12,26 persen (yoy) menjadi Rp 448,34 triliun. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh meningkatnya kepercayaan masyarakat yang tercermin dari Dana Pihak Ketiga (DPK) yang naik 11,52 persen menjadi Rp 362,77 triliun.
Di sisi intermediasi, penyaluran kredit juga meningkat 9,30 persen (yoy) menjadi Rp 341,45 triliun. Artinya, di tengah penguatan tata kelola dan agenda ESG, fungsi pembiayaan tetap ekspansif dan likuiditas terjaga.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu menyatakan, perseroan optimistis tren positif tersebut berlanjut.
“Kami optimistis, kinerja tahun ini akan lebih meningkat seiring transformasi dan inovasi yang dilakukan perseroan,” ujarnya, seperti diberitakan Kompas.com, Rabu (25/2/2026).
Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Nixon LP Napitupulu dalam media gathering BTN di Bandung, Jawa Barat, Jumat (19/9/2025). Sebagai bank yang identik dengan pembiayaan perumahan, BTN mulai mengintegrasikan prinsip keberlanjutan ke dalam rantai bisnisnya. Sejak 2019, perseroan menerapkan Rencana Aksi Keuangan Berkelanjutan (RAKB) sesuai regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Pendekatan tersebut tak hanya menyentuh pembiayaan hijau, tetapi juga aspek tata kelola, manajemen risiko, hingga dampak sosial dari aktivitas pembiayaan.
Salah satu inisiatif yang disorot adalah program Rumah Rendah Emisi. Pada 2024, BTN memulai proyek percontohan 1.300 unit rumah dengan penggunaan material ramah lingkungan sekitar 15 persen. Ke depan, perseroan menargetkan pembangunan 150.000 rumah rendah emisi hingga 2029.
Capaian Keberlanjutan BTN pada 2024
Material berbasis daur ulang, seperti paving block yang mengandung limbah plastik, digunakan untuk menekan jejak karbon serta mengurangi timbulan sampah. BTN pun menargetkan pengurangan 1,7 juta kilogram sampah plastik dan penurunan emisi karbon sebesar 2,42 ton CO2 pada 2029.
“BTN berkomitmen mendukung pertumbuhan berkelanjutan untuk Indonesia dengan mengusung konsep ‘Become The ESG Champion’ sebagai landasan,” ujar Nixon dalam Laporan Keberlanjutan BTN 2024.
Langkah ini menunjukkan pergeseran orientasi BTN daris ekadar volume kredit menuju kualitas dampak pembiayaannya.
Baca juga: Dorong Penerapan ESG, BTN Jadi Anggota UNEP FI
Transformasi keberlanjutan BTN juga menyasar perilaku nasabah. Pada September 2025, perseroan meluncurkan program "Bayar Angsuranmu Pakai Sampahmu". Terobosan ini memungkinkan nasabah mengurangi cicilan kredit pemilikan rumah (KPR) melalui pengelolaan sampah rumah tangga.
Melalui kerja sama dengan perusahaan pengelola sampah berbasis teknologi, nasabah dapat menyetorkan sampah yang telah dipilah, seperti plastik, kardus, botol kaca, hingga minyak jelantah.
Sampah tersebut kemudian diolah menjadi poin bernama Rekopoin yang dikonversi menjadi saldo tabungan di rekening BTN untuk membantu pembayaran angsuran.
Baca juga: Kunjungi Bekasi, Ratu Belanda Soroti Program BTN yang Ubah Sampah Jadi Tabungan KPR
Nixon menjelaskan, program tersebut merupakan wujud peran aktif BTN di bidang ESG. Di program ini, sampah rumah tangga yang dikumpulkan bisa dikonversi jadi rupiah ke tabungan serta dapat mengurangi angsuran 10-15 persen per bulan.
"Jadi, kalau angsurannya sekitar Rp 1,1-1,2 juta per bulan, nasabah bisa menabung dari sampah rumah tangga sekitar Rp100-200.000 per bulan. Ini sekaligus membantu negara, bumi, dan lingkungan agar lebih bersih dan green," ujar Nixon di bekas, Jakarta, Rabu (26/11/2025), seperti dikutip dari laman resmi BTN.
Ratu Maxima dari Kerajaan Belanda, dalam kapasitasnya sebagai Advokat Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Kesehatan Keuangan (UNSGSA), memberikan apresiasi atas inisiatif BTN, yakni Bayar Angsuran-Mu Pakai Sampah-Mu saat berkunjung ke Perumahan Gran Harmoni Cibitung, Bekasi, Rabu (26/11/2025).Dengan rerata rumah tangga menghasilkan sampah 4 kg per hari, program ini pun bisa mendukung keberlanjutan lingkungan.
“Sampah yang selama ini dianggap beban ternyata punya nilai ekonomi. Melalui program ini, sampah dipilah, ditimbang, dan dikonversi menjadi tabungan untuk mengurangi cicilan rumah. Semakin rajin memilah, semakin ringan cicilan mereka,” ujar Nixon.
Program ini sudah berjalan di beberapa lokasi di Bogor, Jawa Barat, dan direncanakan akan diperluas ke sekitar 100 titik di Pulau Jawa hingga akhir 2026. BTN juga menilai inisiatif ini sejalan dengan agenda nasional dalam pengembangan ekonomi hijau dan percepatan penanganan sampah.
Inovasi itu mendapat sorotan global. Ratu Belanda Queen Máxima dalam kapasitasnya sebagai Advokat Khusus Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Kesehatan Keuangan mengapresiasi inisiatif tersebut karena dinilai mampu memperkuat ketahanan ekonomi keluarga berpenghasilan rendah sekaligus mengurangi beban sampah di tingkat masyarakat terkecil.
Komitmen sosial BTN juga tecermin dari penyaluran dana Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Sepanjang 2024, nilai TJSL yang disalurkan mencapai Rp 88,96 miliar untuk program pemberdayaan masyarakat, pendidikan, bantuan sosial, hingga pelestarian lingkungan.
Pada periode Januari hingga Juni 2025, BTN kembali menggelontorkan dana TJSL sebesar Rp 40,7 miliar untuk menyokong Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) serta mendukung program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. Sebagian besar alokasi diarahkan pada sektor pangan.
Corporate Secretary BTN Ramon Armando menegaskan bahwa keberhasilan bisnis tidak terlepas dari kontribusi sosial perusahaan.
“Keberhasilan BTN dalam menjalankan bisnis tidak dapat dilepaskan dari kontribusi nyata terhadap masyarakat dan lingkungan. BTN hadir sebagai bank yang memberikan berbagai layanan keuangan bagi masyarakat serta sebagai mitra pembangunan yang aktif,” ujarnya, Rabu (23/7/2025).
Baca juga: TJSL BTN Salurkan KPR Mikro hingga Bantuan untuk Pencegahan Stunting
Inisiatif yang dijalankan pun beragam dan menyentuh langsung masyarakat. Mulai dari penguatan ketahanan pangan melalui pembagian sembako dan makan siang gratis di Boyolali, Jawa Tengah, hingga pemberdayaan ekonomi lokal lewat program inkubasi BTN Housingpreneur, dukungan pameran UMKM di Surakarta, Jawa Tengah, serta bantuan alat usaha bagi pelaku usaha kecil di Sulawesi Tengah.
Di sisi lain, BTN terus memperluas inklusi dan literasi keuangan, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Selama hampir lima dekade, BTN dikenal sebagai tulang punggung pembiayaan rumah subsidi di Indonesia.
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) mendapat alokasi tambahan menjadi 220.000 unit, naik tajam dari kuota sebelumnya.Sejak 1976 hingga Desember 2025, BTN telah menyalurkan KPR subsidi sekitar 4,4 juta unit dengan nilai Rp 300,99 triliun.
Kini, misi tersebut diperluas. Tak hanya membantu masyarakat memiliki rumah, BTN juga mendorong agar hunian yang dibiayai lebih efisien energi dan ramah lingkungan.
Di tengah kekhawatiran bahwa penerapan ESG dapat menekan margin perbankan, kinerja BTN justru menunjukkan bahwa stratetegi keberlanjutan dapat ebrjalan beriringan dengan profitabilitas.
Untuk memastikan implementasi berjalan konsisten, BTN membentuk Komite ESG serta Enterprise & ESG Risk Management Division. Perseroan juga menyusun Governance, Risk, and Compliance (GRC) Roadmap 2025–2029 sebagai panduan penguatan tata kelola.
Dalam Laporan Keberlanjutan 2024, BTN menegaskan bahwa keberlanjutan bukan sekadar target tahunan, melainkan perjalanan jangka panjang yang melibatkan erbagai pemangku kepentingan.
“BTN meyakini bahwa keberlanjutan bukan merupakan sebuah tujuan, melainkan merupakan perjalanan yang melibatkan berbagai pihak dan aspek yang saling terkait,” demikian tertulis dalam laporan tersebut.
Bagi BTN, pendekatan keberlanjutan dirangkum dalam konsep 5P: People, Planet, Prosperity, Peace, dan Partnership. Artinya, pertumbuhan bisnis harus berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan, pemberdayaan masyarakat, serta kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.
Di tengah dinamika industri perbankan dan properti, BTN berupaya menunjukkan bahwa profit dan purpose dapat berjalan beriringan. Di balik angka pertumbuhan laba dan ekspansi kredit, terdapat upaya menjaga keseimbangan antara kinerja ekonomi, dampak sosial, dan tanggung jawab lingkungan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya