Oxfam, konfederasi untuk mengatasi kemiskinan, sempat mendesak penerapan pajak yang lebih agresif pada barang-barang mewah dengan emisi tinggi. Pemerintah dinilai harus memperkenalkan pajak keuntungan pencemar kaya.
"Penerapan kebijakan tersebut pada 585 perusahaan minyak, gas, dan batu bara yang banyak diinvestasikan oleh individu kaya dapat menghasilkan lebih dari 340 miliar euro (sekitar Rp 6.669,2 triliun) pada tahun pertama," kata Oxfam.
Mereka juga mendesak pelarangan atau pajak hukuman terhadap barang-barang mewah yang intensif karbon, seperti kapal pesiar super dan jet pribadi.
Oxfam mencatat, jejak karbon seorang warga Eropa super kaya, yang terakumulasi dari hampir seminggu menggunakan moda transportasi boros bahan bakar ini setara dengan jejak karbon seumur hidup seseorang di satu persen masyarakat termiskin di dunia.
Sementara itu, para ahli berpendapat bahwa orang-orang super kaya harus memangkas emisi mereka sebesar 97 persen pada 2030 untuk memenuhi target iklim yang mengikat secara hukum.
Peningkatan emisi tentu saja berimbas pada krisis iklim, yang akhirnya menyengsarakan negara-negara miskin.
Berdasarkan analisis World Weather Attribution (WWA), perempuan, anak-anak, dan masyarakat miskin jadi kelompok paling terdampak bencana iklim yang melanda dunia sepanjang 2025
Kesimpulan ini didapat setelah peneliti menganalisis 22 bencana yang dipicu oleh iklim dalam 12 bulan terakhir.
WWA menemukan, perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia telah membuat panas ekstrem yang dulunya peristiwa sangat langka menjadi sesuatu yang umum, yang mana saat ini diperkirakan terjadi setiap dua tahun sekali.
Studi itu pun menjadi bukti bahwa emisi yang memerangkap panas mendorong kenaikan suhu global dan memicu peristiwa cuaca yang merusak di setiap benua.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya