Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Orang Kaya Dubai Kabur Naik Jet Pribadi Saat Konflik AS-Israel Vs Iran, Bikin Emisi Naik

Kompas.com, 7 Maret 2026, 08:14 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Euronews

KOMPAS.com - Para miliarder di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), berebut meninggalkan rumah mereka dengan menumpangi pesawat jet pribadi demi menyelamatkan diri dari serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran sejak Sabtu (28/2/2026).

Hal ini dilakukan seiring penghentian penerbangan komersil di Bandara Internasional Dubai.

Baca juga:

Ribuan orang memutuskan melarikan diri dengan berkendara selama empat jam ke Muscat di Oman untuk mengambil jalur penerbangan lain.

Namun, sebagian besar penerbangan komersial dari Muscat ke Eropa sudah penuh hingga akhir pekan sehingga hanya menyisakan dua pilihan yakni tetap tinggal atau memesan jet pribadi.

Miliarder kabur dari Dubai naik pesawat jet, bikin emisi naik

Memperlihatkan kesenjangan di tengah konflik

Pekerja asing memandangi asap pekat tinggi yang mengepul dari area industri di Fujairah, Uni Emirat Arab, 3 Maret 2026. Perang Iran meluas ke negara-negara Teluk setelah Teheran menyerang pangkalan militer Amerika Serikat dan Kedutaan Besar AS di sana.AFP/FADEL SENNA Pekerja asing memandangi asap pekat tinggi yang mengepul dari area industri di Fujairah, Uni Emirat Arab, 3 Maret 2026. Perang Iran meluas ke negara-negara Teluk setelah Teheran menyerang pangkalan militer Amerika Serikat dan Kedutaan Besar AS di sana.

Operasional jet pribadi dilaporkan menghasilkan emisi 14 kali lebih tinggi dibandingkan pesawat komersil. Pesawat jet juga 50 kali lebih berpolusi daripada kereta api.

Emisi jet pribadi telah meningkat 46 persen pada 2019-2023, dilansir dari Euronews, Jumat (6/3/2026).

“Di tengah meningkatnya kerusakan iklim dan ketidakstabilan global, tidak dapat dibenarkan bahwa tingkat kemewahan yang intensif karbon ini sebagian besar tetap tidak dikenakan pajak dan tidak diatur,” kata anggota badan amal War on Want, Tyrone Scott.

Sebuah laporan dari kelompok lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang diterbitkan pada Januari lalu mengungkap, satu persen orang terkaya telah menghabiskan anggaran karbon tahunan mereka hanya dalam 10 hari.

Kondisi ini menyebabkan emisi karbon dioksida (CO2) melebihi batas 1,5 derajat celsius sebagaimana ditetapkan dalam Perjanjian Paris.

“Pemerintah harus mempertimbangkan secara serius langkah-langkah seperti pajak kekayaan yang tinggi dan pungutan atas penggunaan jet pribadi untuk mengekang emisi berlebihan dan memastikan orang terkaya memberikan kontribusi yang adil dalam mengatasi krisis yang dipicu oleh gaya hidup mereka," jelas Scott.

Ia berpandangan, penggunaan jet pribadi mempertontonkan ketidaksetaraan global. Sebab, ketika krisis melanda dunia seperti saat ini kebanyakan orang kaya dengan mudahnya pergi ke tempat yang mereka inginkan.

“Sementara jutaan orang lainnya terjebak di zona konflik atau menghadapi perbatasan yang tertutup dan dijaga ketat,” imbuh dia.

Baca juga:

Desak penerapan pajak yang lebih agresif

Orang super kaya di Dubai berebut naik jet pribadi, di tengah konflik AS-Israel vs Iran. Padahal jet pribadi menghasilkan emisi lebih tinggi. PIXABAY/KIM HUNTER Orang super kaya di Dubai berebut naik jet pribadi, di tengah konflik AS-Israel vs Iran. Padahal jet pribadi menghasilkan emisi lebih tinggi.

Oxfam, konfederasi untuk mengatasi kemiskinan, sempat mendesak penerapan pajak yang lebih agresif pada barang-barang mewah dengan emisi tinggi. Pemerintah dinilai harus memperkenalkan pajak keuntungan pencemar kaya.

"Penerapan kebijakan tersebut pada 585 perusahaan minyak, gas, dan batu bara yang banyak diinvestasikan oleh individu kaya dapat menghasilkan lebih dari 340 miliar euro (sekitar Rp 6.669,2 triliun) pada tahun pertama," kata Oxfam.

Mereka juga mendesak pelarangan atau pajak hukuman terhadap barang-barang mewah yang intensif karbon, seperti kapal pesiar super dan jet pribadi.

Oxfam mencatat, jejak karbon seorang warga Eropa super kaya, yang terakumulasi dari hampir seminggu menggunakan moda transportasi boros bahan bakar ini setara dengan jejak karbon seumur hidup seseorang di satu persen masyarakat termiskin di dunia.

Sementara itu, para ahli berpendapat bahwa orang-orang super kaya harus memangkas emisi mereka sebesar 97 persen pada 2030 untuk memenuhi target iklim yang mengikat secara hukum.

Peningkatan emisi tentu saja berimbas pada krisis iklim, yang akhirnya menyengsarakan negara-negara miskin.

Berdasarkan analisis World Weather Attribution (WWA), perempuan, anak-anak, dan masyarakat miskin jadi kelompok paling terdampak bencana iklim yang melanda dunia sepanjang 2025

Kesimpulan ini didapat setelah peneliti menganalisis 22 bencana yang dipicu oleh iklim dalam 12 bulan terakhir.

WWA menemukan, perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia telah membuat panas ekstrem yang dulunya peristiwa sangat langka menjadi sesuatu yang umum, yang mana saat ini diperkirakan terjadi setiap dua tahun sekali.

Studi itu pun menjadi bukti bahwa emisi yang memerangkap panas mendorong kenaikan suhu global dan memicu peristiwa cuaca yang merusak di setiap benua.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
PT Elnusa Sebut Pangkas 3.079 Ton CO2 dan Kurangi 178.606 Sampah Plastik
PT Elnusa Sebut Pangkas 3.079 Ton CO2 dan Kurangi 178.606 Sampah Plastik
BUMN
Gaya Hidup Ramah Lingkungan Masih Mahal
Gaya Hidup Ramah Lingkungan Masih Mahal
LSM/Figur
65 Persen Karhutla di Lahan Gambut, Ancam Target Iklim RI
65 Persen Karhutla di Lahan Gambut, Ancam Target Iklim RI
LSM/Figur
Pemerintah Bakal Bangun 5 PSEL Juni 2026, Olah 7.000 Ton Limbah Jadi Listrik
Pemerintah Bakal Bangun 5 PSEL Juni 2026, Olah 7.000 Ton Limbah Jadi Listrik
Pemerintah
Hari Bumi, Keraton Yogyakarta Gelar Pelatihan Kelola Sampah untuk Abdi Dalem
Hari Bumi, Keraton Yogyakarta Gelar Pelatihan Kelola Sampah untuk Abdi Dalem
Pemerintah
Bauran Energi Bersih Dunia Melonjak, China dan India di Posisi Teratas
Bauran Energi Bersih Dunia Melonjak, China dan India di Posisi Teratas
Pemerintah
Industri Pengolah Sampah Ini Mampu Hasilkan 26.000 Liter BBM dari Plastik
Industri Pengolah Sampah Ini Mampu Hasilkan 26.000 Liter BBM dari Plastik
Swasta
Ini Kendala RI Jadi Pemimpin Bursa Karbon ASEAN Permenhut 6/2026 Dinilai Bisa Dorong Investasi Hijau dan Perkuat Posisi Indonesia di Pasar Karbon ASEAN
Ini Kendala RI Jadi Pemimpin Bursa Karbon ASEAN Permenhut 6/2026 Dinilai Bisa Dorong Investasi Hijau dan Perkuat Posisi Indonesia di Pasar Karbon ASEAN
LSM/Figur
Transisi Energi Industri dan Kendaraan Pangkas 40 Persen Polusi Jabodetabek
Transisi Energi Industri dan Kendaraan Pangkas 40 Persen Polusi Jabodetabek
LSM/Figur
Pemimpin Perusahaan Khawatir Kehilangan Pekerjaan akibat Kegagalan Adopsi AI
Pemimpin Perusahaan Khawatir Kehilangan Pekerjaan akibat Kegagalan Adopsi AI
Swasta
Bisnis Global Tetap Fokus pada Isu Iklim, Tapi Ubah Pesan Keberlanjutannya
Bisnis Global Tetap Fokus pada Isu Iklim, Tapi Ubah Pesan Keberlanjutannya
LSM/Figur
Studi: Rumput Berakar Dalam Lebih Efektif Simpan Karbon dan Jaga Kesehatan Tanah
Studi: Rumput Berakar Dalam Lebih Efektif Simpan Karbon dan Jaga Kesehatan Tanah
LSM/Figur
Memasuki Musim Kemarau, Titik Panas Karhutla Naik 3 Kali Lipat
Memasuki Musim Kemarau, Titik Panas Karhutla Naik 3 Kali Lipat
Pemerintah
Hotel di Bali Mulai Beralih ke Energi Surya, Dorong Transisi Energi di Sektor Perhotelan
Hotel di Bali Mulai Beralih ke Energi Surya, Dorong Transisi Energi di Sektor Perhotelan
Swasta
Tularkan Semangat Kartini, Srikandi Movement PLN Berdayakan 40.000 Jiwa di 140 Lokasi
Tularkan Semangat Kartini, Srikandi Movement PLN Berdayakan 40.000 Jiwa di 140 Lokasi
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau