KOMPAS.com - Para miliarder di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), berebut meninggalkan rumah mereka dengan menumpangi pesawat jet pribadi demi menyelamatkan diri dari serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran sejak Sabtu (28/2/2026).
Hal ini dilakukan seiring penghentian penerbangan komersil di Bandara Internasional Dubai.
Baca juga:
Ribuan orang memutuskan melarikan diri dengan berkendara selama empat jam ke Muscat di Oman untuk mengambil jalur penerbangan lain.
Namun, sebagian besar penerbangan komersial dari Muscat ke Eropa sudah penuh hingga akhir pekan sehingga hanya menyisakan dua pilihan yakni tetap tinggal atau memesan jet pribadi.
Pekerja asing memandangi asap pekat tinggi yang mengepul dari area industri di Fujairah, Uni Emirat Arab, 3 Maret 2026. Perang Iran meluas ke negara-negara Teluk setelah Teheran menyerang pangkalan militer Amerika Serikat dan Kedutaan Besar AS di sana.Operasional jet pribadi dilaporkan menghasilkan emisi 14 kali lebih tinggi dibandingkan pesawat komersil. Pesawat jet juga 50 kali lebih berpolusi daripada kereta api.
Emisi jet pribadi telah meningkat 46 persen pada 2019-2023, dilansir dari Euronews, Jumat (6/3/2026).
“Di tengah meningkatnya kerusakan iklim dan ketidakstabilan global, tidak dapat dibenarkan bahwa tingkat kemewahan yang intensif karbon ini sebagian besar tetap tidak dikenakan pajak dan tidak diatur,” kata anggota badan amal War on Want, Tyrone Scott.
Sebuah laporan dari kelompok lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang diterbitkan pada Januari lalu mengungkap, satu persen orang terkaya telah menghabiskan anggaran karbon tahunan mereka hanya dalam 10 hari.
Kondisi ini menyebabkan emisi karbon dioksida (CO2) melebihi batas 1,5 derajat celsius sebagaimana ditetapkan dalam Perjanjian Paris.
“Pemerintah harus mempertimbangkan secara serius langkah-langkah seperti pajak kekayaan yang tinggi dan pungutan atas penggunaan jet pribadi untuk mengekang emisi berlebihan dan memastikan orang terkaya memberikan kontribusi yang adil dalam mengatasi krisis yang dipicu oleh gaya hidup mereka," jelas Scott.
Ia berpandangan, penggunaan jet pribadi mempertontonkan ketidaksetaraan global. Sebab, ketika krisis melanda dunia seperti saat ini kebanyakan orang kaya dengan mudahnya pergi ke tempat yang mereka inginkan.
“Sementara jutaan orang lainnya terjebak di zona konflik atau menghadapi perbatasan yang tertutup dan dijaga ketat,” imbuh dia.
Baca juga:
Orang super kaya di Dubai berebut naik jet pribadi, di tengah konflik AS-Israel vs Iran. Padahal jet pribadi menghasilkan emisi lebih tinggi. Oxfam, konfederasi untuk mengatasi kemiskinan, sempat mendesak penerapan pajak yang lebih agresif pada barang-barang mewah dengan emisi tinggi. Pemerintah dinilai harus memperkenalkan pajak keuntungan pencemar kaya.
"Penerapan kebijakan tersebut pada 585 perusahaan minyak, gas, dan batu bara yang banyak diinvestasikan oleh individu kaya dapat menghasilkan lebih dari 340 miliar euro (sekitar Rp 6.669,2 triliun) pada tahun pertama," kata Oxfam.
Mereka juga mendesak pelarangan atau pajak hukuman terhadap barang-barang mewah yang intensif karbon, seperti kapal pesiar super dan jet pribadi.
Oxfam mencatat, jejak karbon seorang warga Eropa super kaya, yang terakumulasi dari hampir seminggu menggunakan moda transportasi boros bahan bakar ini setara dengan jejak karbon seumur hidup seseorang di satu persen masyarakat termiskin di dunia.
Sementara itu, para ahli berpendapat bahwa orang-orang super kaya harus memangkas emisi mereka sebesar 97 persen pada 2030 untuk memenuhi target iklim yang mengikat secara hukum.
Peningkatan emisi tentu saja berimbas pada krisis iklim, yang akhirnya menyengsarakan negara-negara miskin.
Berdasarkan analisis World Weather Attribution (WWA), perempuan, anak-anak, dan masyarakat miskin jadi kelompok paling terdampak bencana iklim yang melanda dunia sepanjang 2025
Kesimpulan ini didapat setelah peneliti menganalisis 22 bencana yang dipicu oleh iklim dalam 12 bulan terakhir.
WWA menemukan, perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia telah membuat panas ekstrem yang dulunya peristiwa sangat langka menjadi sesuatu yang umum, yang mana saat ini diperkirakan terjadi setiap dua tahun sekali.
Studi itu pun menjadi bukti bahwa emisi yang memerangkap panas mendorong kenaikan suhu global dan memicu peristiwa cuaca yang merusak di setiap benua.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya