KOMPAS.com - Tanaman bisa menyesuaikan ritme pertumbuhannya sesuai dengan kondisi lingkungan. Hal tersebut membantunya untuk pulih dan terus hidup, meskipun dilanda cuaca ekstrem yang dipicu krisis iklim.
Menurut studi yang diterbitkan di New Phytologist dari Universitas British Columbia (UBC), Kanada, mengidentifikasi gen dan jalur yang bertanggung jawab untuk pemulihan tanaman dari stres lingkungan akibat cuaca ekstrem.
Baca juga:
Hal tersebut terjadi ketika musim dingin atau saat kelebihan garam, khususnya ketika lahan pertanian di pesisir tergenang banjir.
"Akibatnya, tanaman ini akan mampu menyelesaikan siklus hidupnya dan menghasilkan makanan selama musim panen, bahkan setelah mengalami badai salju, gelombang panas, atau banjir," ujar penulis utama sekaligus mahasiswa doktoral di departemen botani UBC, Olivia Hazelwood, dilansir dari Phys.org, Kamis (12/3/2026).
Tanaman bisa menyesuaikan ritme pertumbuhannya sesuai dengan kondisi lingkungan. Hal itu membantunya untuk terus hidup kala cuaca ekstrem.Studi tersebut menemukan, tanaman menghentikan sementara pertumbuhan akar ketika mengalami tekanan akibat dingin dan garam.
Lalu, tanaman melanjutkan pertumbuhan saat tekanan itu dihilangkan dan tanaman dibiarkan pulih selama periode waktu yang sama dengan kondisi tertekan.
Para peneliti juga telah mengidentifikasi jalur gen untuk stres panas. Mereka menemukan, tanaman "mempercepat" pertumbuhannya dalam kondisi panas dan "berhenti" hingga suhu turun.
"Kami juga menemukan bahwa tanaman dapat pulih dari stres osmotik, atau kekeringan, tetapi membutuhkan waktu sedikit lebih lama. Kami menyebutnya sebagai 'jeda dan dorong,' karena tanaman membutuhkan waktu untuk 'mendorong' dan pulih," tutur penulis senior sekaligus asisten profesor di departemen botani UBC, Arif Ashraf.
Baca juga:
Tanaman bisa menyesuaikan ritme pertumbuhannya sesuai dengan kondisi lingkungan. Hal itu membantunya untuk terus hidup kala cuaca ekstrem.Di laboratorium, para peneliti menerapkan tekanan berupa suhu dingin dan garam pada tanaman model, lalu mengukur pertumbuhan akarnya.
Kemudian, para peneliti menguji dua jenis rumput liar yang terkait dengan tanaman budi daya. Mereka menemukan respons serupa di ketiga tanaman tersebut dan menduga bahwa adanya keterlibatan dari respons seluler yang serupa.
Hazelwood memakai protein yang diberi penanda fluoresen untuk memeriksa proses ini karena pertumbuhan akar bergantung pada pembelahan sel.
Hal itu termasuk berapa banyak sel aktif membelah selama dan setelah stres, serta kapan protein tertentu yang terkait dengan pembelahan sel aktif.
Setelah menghitung ribuan sel selama berbulan-bulan, Hazelwood menyaksikan protein tertentu hadir dalam jumlah sel yang lebih sedikit ketika tanaman mengalami stres akibat dingin, kekeringan, dan garam.
Namun, dalam waktu sekitar 24 jam setelah dikembalikan ke kondisi pertumbuhan optimal, jumlahnya kembali normal.
Studi tersebut mengidentifikasi mekanisme, jalur, dan gen spesifik yang terlibat dalam pemulihan tanaman dari stres dingin dan garam. Hasilnya, hal-hal tersebut terpelihara di berbagai spesies tanaman.
Temuan dari studi ini membuka pintu bagi pemuliaan dan rekayasa genetika tanaman dengan peningkatan toleransi terhadap tekanan lingkungan.
"Kita tidak bisa menghentikan gelombang panas atau badai salju. Jadi, kami sedang mengidentifikasi gen yang dapat membantu tanaman pulih dari peristiwa-peristiwa ini dan tetap berproduksi tepat waktu untuk panen," ucap Ashraf.
Selain itu, para peneliti berencana untuk menunjukkan bahwa proses pemulihan juga terjadi pada berbagai tanaman pangan Kanada. Tak terkecuali, varietas gandum.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya