KOMPAS.com - Nilai karbon biru, atau karbon yang ditangkap oleh lautan dan ekosistem pesisir di Indonesia, mencapai ratusan miliar dollar Amerika Serikat (AS).
Bahkan, konservasi dan restorasi mangrove di Indonesia yang menyerap sekitar satu juta ton karbon dioksida (CO2) ekuivalen per tahun dengan harga fluktuatif lima sampai 20 dollar AS atau setara Rp 84.000 sampai Rp 338.000 saja, potensinya bisa mencapai satu sampai dua miliar dollar AS atau setara Rp 16 triliun sampai Rp 33 triliun per tahun.
Baca juga:
Ekosistem pesisir di Indonesia, seperti mangrove, padang lamun, atau rawa pasang surut, cukup mampu menyerap dan menyimpan karbon dalam jangka waktu yang panjang. Indonesia berperan penting di tingkat global dalam menjawab mitigasi krisis iklim, termasuk melalui karbon biru dengan ekosistem pesisir.
"Nah, kira-kira ini menjadi sebuah potensi yang bisa kita optimalkan ya, bisa kita manfaatkan untuk ke depan menjadi sumber ya bisnis baru, saya harapkan demikian," kata Kepala Pusat Riset Ekologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Asep Hidayat dalam webinar Beyond Basic Science, Kamis (12/3/2026).
Indonesia merupakan negara dengan luas mangrove terbesar di dunia, lebih dari 20 persen. Indonesia juga punya padang lamun terbesar di kawasan Indo-Pasifik, dengan luas sekitar 600.000 hektar.
Asep menuturkan, berbagai studi menunjukkan bahwa Indonesia menjadi salah satu pusat cadangan karbon pesisir global. Ekosistem pesisir Indonesia mampu menyimpan kurang lebih sekitar 17 persen dari total cadangan karbon biru dunia.
Kapasitas penyimpanan karbon pada mangrove sekitar 800-1.200 ton CO2 per hektar, sedangkan padang lamun sekitar 100-600 ton CO2 per hektar.
Menurut Asep, potensi ekologis tersebut tentu memiliki implikasi ekonomis. Khususnya, dalam konteks perdagangan karbon global harus melalui pengelolaan secara optimal dan mekanisme yang jelas.
Baca juga:
Nilai karbon biru di Indonesia mencapai triliunan rupiah per tahunnya, tapi ada berbagai tantangan yang harus diperhatikan, termasuk tata kelola.Namun, potensi besar tersebut tidak dapat diwujudkan dengan mudah. Implementasi karbon biru offset masih menghadapi berbagai tantangan yang sangat kompleks.
Salah satunya tantangan metodologis atau standar metode pengukuran karbon. Apalagi, pengukuran stok karbon, serta dinamika ekosistem dan sedimen yang sangat kompleks.
"Ini yang saya kira nanti perlu menjadi kajian-kajian riset, termasuk penambahan nilai karbon itulah yang sesungguhnya akan diperdagangkan, sementara stoknya itu kan menjadi baseline. Ini nanti harus kita kaji lebih dalam terkait dengan tantangan-tantangan metodologis terkait dengan pengukuran karbon di Indonesia," jelas Asep.
Tantangan lainnya adalah ketertambahan (additionality) dan kebocoran (leakage) karbon yang menjadi permasalahan penting di dalam mekanisme perdagangan karbon.
Selanjutnya ada tantangan terkait tata kelola, termasuk kejelasan hak pengelolaan wilayah pesisir, integrasi kebijakan lintas sektor, serta keterlibatan masyarakat lokal dalam pengelolaan itu.
Tidak hanya itu, Monitoring, Reporting, and Verification (MRV) yang relatif tinggi juga menjadi tantangan, terutama dalam kredit karbon berbasis ekosistem.
"Ini juga nanti harus menjadi bagian penting saya kira bagaimana kita melakukan langkah-langkah ini ke depan," ucap Asep.
Nilai karbon biru di Indonesia mencapai triliunan rupiah per tahunnya, tapi ada berbagai tantangan yang harus diperhatikan, termasuk tata kelola.Terakhir, fluktuasi harga karbon di pasar global yang masih relatif rendah. Harganya belum selalu memberikan insentif ekonomi yang kuat bagi pengembangan proyek karbon berbasis ekosistem.
"Apakah harga karbon yang saat ini, terutama blue carbon (karbon biru) yang saat ini sudah ada atau sudah terjadi transaksi, itu adalah cukup layak dan ekonomis untuk mendukung pengelolaan ekosistem pesisir berbasis bisnis karbon? Ini saya kira pertanyaan yang sangat signifikan karena harapan kita karbon ke depan ini menjadi sumber pendapatan negara yang lain, yang sangat potensial," ujar Asep.
Di Pasar Karbon Sukarela (Voluntary Carbon Market/VCM), harganya saat ini masih sangat bervariasi. Harganya bisa berkisar antara tiga hingga 30 dollar AS atau setara Rp 50.000 sampai Rp 500.000 per ton CO2 ekuivalen.
"Ya, ini tergantung dari proyek dan standar sertifikasi yang digunakan," tutur Asep.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya