Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Potensi Karbon Biru Indonesia Capai Rp 33 Triliun per Tahun, Apa Tantangannya?

Kompas.com, 14 Maret 2026, 18:17 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Nilai karbon biru, atau karbon yang ditangkap oleh lautan dan ekosistem pesisir di Indonesia, mencapai ratusan miliar dollar Amerika Serikat (AS).

Bahkan, konservasi dan restorasi mangrove di Indonesia yang menyerap sekitar satu juta ton karbon dioksida (CO2) ekuivalen per tahun dengan harga fluktuatif lima sampai 20 dollar AS atau setara Rp 84.000 sampai Rp 338.000 saja, potensinya bisa mencapai satu sampai dua miliar dollar AS atau setara Rp 16 triliun sampai Rp 33 triliun per tahun.

Baca juga:

Ekosistem pesisir di Indonesia, seperti mangrove, padang lamun, atau rawa pasang surut, cukup mampu menyerap dan menyimpan karbon dalam jangka waktu yang panjang. Indonesia berperan penting di tingkat global dalam menjawab mitigasi krisis iklim, termasuk melalui karbon biru dengan ekosistem pesisir.

"Nah, kira-kira ini menjadi sebuah potensi yang bisa kita optimalkan ya, bisa kita manfaatkan untuk ke depan menjadi sumber ya bisnis baru, saya harapkan demikian," kata Kepala Pusat Riset Ekologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Asep Hidayat dalam webinar Beyond Basic Science, Kamis (12/3/2026).

Potensi dan tantangan karbon biru di Indonesia

Indonesia merupakan negara dengan luas mangrove terbesar di dunia, lebih dari 20 persen. Indonesia juga punya padang lamun terbesar di kawasan Indo-Pasifik, dengan luas sekitar 600.000 hektar.

Asep menuturkan, berbagai studi menunjukkan bahwa Indonesia menjadi salah satu pusat cadangan karbon pesisir global. Ekosistem pesisir Indonesia mampu menyimpan kurang lebih sekitar 17 persen dari total cadangan karbon biru dunia.

Kapasitas penyimpanan karbon pada mangrove sekitar 800-1.200 ton CO2 per hektar, sedangkan padang lamun sekitar 100-600 ton CO2 per hektar.

Menurut Asep, potensi ekologis tersebut tentu memiliki implikasi ekonomis. Khususnya, dalam konteks perdagangan karbon global harus melalui pengelolaan secara optimal dan mekanisme yang jelas.

Baca juga:

Dari metodologis hingga tata kelola

Nilai karbon biru di Indonesia mencapai triliunan rupiah per tahunnya, tapi ada berbagai tantangan yang harus diperhatikan, termasuk tata kelola.Dok. Wikimedia Commons/Eka0998 Nilai karbon biru di Indonesia mencapai triliunan rupiah per tahunnya, tapi ada berbagai tantangan yang harus diperhatikan, termasuk tata kelola.

Namun, potensi besar tersebut tidak dapat diwujudkan dengan mudah. Implementasi karbon biru offset masih menghadapi berbagai tantangan yang sangat kompleks.

Salah satunya tantangan metodologis atau standar metode pengukuran karbon. Apalagi, pengukuran stok karbon, serta dinamika ekosistem dan sedimen yang sangat kompleks.

"Ini yang saya kira nanti perlu menjadi kajian-kajian riset, termasuk penambahan nilai karbon itulah yang sesungguhnya akan diperdagangkan, sementara stoknya itu kan menjadi baseline. Ini nanti harus kita kaji lebih dalam terkait dengan tantangan-tantangan metodologis terkait dengan pengukuran karbon di Indonesia," jelas Asep.

Tantangan lainnya adalah ketertambahan (additionality) dan kebocoran (leakage) karbon yang menjadi permasalahan penting di dalam mekanisme perdagangan karbon.

Selanjutnya ada tantangan terkait tata kelola, termasuk kejelasan hak pengelolaan wilayah pesisir, integrasi kebijakan lintas sektor, serta keterlibatan masyarakat lokal dalam pengelolaan itu.

Tidak hanya itu, Monitoring, Reporting, and Verification (MRV) yang relatif tinggi juga menjadi tantangan, terutama dalam kredit karbon berbasis ekosistem.

"Ini juga nanti harus menjadi bagian penting saya kira bagaimana kita melakukan langkah-langkah ini ke depan," ucap Asep.

Nilai karbon biru di Indonesia mencapai triliunan rupiah per tahunnya, tapi ada berbagai tantangan yang harus diperhatikan, termasuk tata kelola.Dok. Wikimedia Commons/Ghofar Ismail Putra Nilai karbon biru di Indonesia mencapai triliunan rupiah per tahunnya, tapi ada berbagai tantangan yang harus diperhatikan, termasuk tata kelola.

Terakhir, fluktuasi harga karbon di pasar global yang masih relatif rendah. Harganya belum selalu memberikan insentif ekonomi yang kuat bagi pengembangan proyek karbon berbasis ekosistem.

"Apakah harga karbon yang saat ini, terutama blue carbon (karbon biru) yang saat ini sudah ada atau sudah terjadi transaksi, itu adalah cukup layak dan ekonomis untuk mendukung pengelolaan ekosistem pesisir berbasis bisnis karbon? Ini saya kira pertanyaan yang sangat signifikan karena harapan kita karbon ke depan ini menjadi sumber pendapatan negara yang lain, yang sangat potensial," ujar Asep.

Di Pasar Karbon Sukarela (Voluntary Carbon Market/VCM), harganya saat ini masih sangat bervariasi. Harganya bisa berkisar antara tiga hingga 30 dollar AS atau setara Rp 50.000 sampai Rp 500.000 per ton CO2 ekuivalen.

"Ya, ini tergantung dari proyek dan standar sertifikasi yang digunakan," tutur Asep.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
KLH Finalisasi Aturan Pembagian Keuntungan dari Pemanfaatan Keanekaragaman Hayati
KLH Finalisasi Aturan Pembagian Keuntungan dari Pemanfaatan Keanekaragaman Hayati
Pemerintah
Menteri LH: Bisnis Karbon Bisa Jadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru
Menteri LH: Bisnis Karbon Bisa Jadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru
Pemerintah
Satelit Bisa Deteksi Metana Secara Real-Time, Tapi Dibiarkan Tanpa Penanganan
Satelit Bisa Deteksi Metana Secara Real-Time, Tapi Dibiarkan Tanpa Penanganan
Pemerintah
PWYP: Putusan MK soal Jalur Prioritas Izin Tambang Belum Selesaikan Persoalan Tata Kelola
PWYP: Putusan MK soal Jalur Prioritas Izin Tambang Belum Selesaikan Persoalan Tata Kelola
LSM/Figur
Ini Upaya Pertamina Membangun Desa Mandiri Energi
Ini Upaya Pertamina Membangun Desa Mandiri Energi
BUMN
FDKJ Perkuat Ketahanan Pangan lewat Pemberdayaan UMKM Hortikultura di Jonggol
FDKJ Perkuat Ketahanan Pangan lewat Pemberdayaan UMKM Hortikultura di Jonggol
Swasta
PT Astra International Tbk Hadir dalam Sesi Bincang Inspiratif Lestari Summit 2026
PT Astra International Tbk Hadir dalam Sesi Bincang Inspiratif Lestari Summit 2026
Swasta
Pengetahuan Masyarakat Adat Jadi Kunci Pengembangan Sistem Pangan Berkelanjutan
Pengetahuan Masyarakat Adat Jadi Kunci Pengembangan Sistem Pangan Berkelanjutan
Pemerintah
Transisi Energi Hadapi Risiko Krisis Air dan Pelanggaran HAM
Transisi Energi Hadapi Risiko Krisis Air dan Pelanggaran HAM
Pemerintah
UE Usul Tunda Penerapan Denda Aturan Metana Hingga Tiga Tahun
UE Usul Tunda Penerapan Denda Aturan Metana Hingga Tiga Tahun
Pemerintah
Studi: Kekeringan Dapat Meningkatkan Solidaritas Sosial dan Lembaga yang Inklusif
Studi: Kekeringan Dapat Meningkatkan Solidaritas Sosial dan Lembaga yang Inklusif
Pemerintah
Bappenas: Saatnya Menuju Pembangunan Regeneratif
Bappenas: Saatnya Menuju Pembangunan Regeneratif
Pemerintah
AHY: Pertumbuhan Ekonomi Harus Diimbangi Keberlanjutan Lingkungan
AHY: Pertumbuhan Ekonomi Harus Diimbangi Keberlanjutan Lingkungan
Pemerintah
Pos Lintas Batas Negara Diharapkan Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat Terluar
Pos Lintas Batas Negara Diharapkan Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat Terluar
Pemerintah
Ketika Festival Musik Tak Lagi Wariskan Gunungan Sampah dan Polusi Lingkungan
Ketika Festival Musik Tak Lagi Wariskan Gunungan Sampah dan Polusi Lingkungan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau