Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kesadaran Lingkungan Meningkat, Korsel Mulai Tinggalkan Botol Plastik

Kompas.com, 21 Maret 2026, 16:08 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Konsumen Korea Selatan secara bertahap beralih dari plastik ke bahan yang dianggap lebih mudah didaur ulang, seiring meningkatnya kesadaran mereka tentang dampak lingkungan dari kemasan sekali pakai, menurut survei baru.

Melansir Eco Business, Jumat (20/3/2026) survei terhadap 1.011 orang dewasa yang dilakukan oleh Korea Federation for Environmental Movements (KFEM) mengungkapkan minat masyarakat terhadap kaleng aluminium melonjak drastis dalam setahun terakhir.

Di tahun 2026, jumlah orang yang lebih menyukai kaleng aluminium naik menjadi 34,7 persen dari sebelumnya 23,9 persen. Meski begitu, botol plastik masih menjadi pilihan utama yang paling banyak disukai, yaitu sebesar 43,4 persen.

Kemasan Ramah Lingkungan

Secara global, aluminium sudah menjadi bahan kemasan minuman yang paling banyak didaur ulang, dengan tingkat daur ulang mencapai sekitar 75 persen pada tahun 2023, jauh lebih tinggi daripada botol plastik dan kaca.

Baca juga: Kantong Teh Celup Lepaskan Miliaran Partikel Plastik Selama Diseduh

Data industri dan penelitian juga menunjukkan bahwa aluminium memiliki salah satu tingkat daur ulang "siklus tertutup" tertinggi di antara kemasan sekali pakai. Artinya lebih mungkin untuk diubah kembali menjadi produk yang sama tanpa kehilangan kualitas.

Temuan ini menunjukkan adanya perubahan perilaku konsumen karena kekhawatiran terhadap keberlanjutan mulai mengubah keputusan dalam membeli produk, terutama di sektor minuman.

Sebagian besar responden menyatakan bahwa daur ulang seharusnya tidak hanya sekadar mengumpulkan sampah, tetapi harus menjamin bahan tersebut digunakan kembali untuk membuat produk yang sama.

Sebanyak 81,9 persen responden setuju dengan konsep daur ulang siklus tertutup. Selain itu, sekitar 77,2 persen berpendapat bahwa sistem seperti ini sangat penting untuk mengatasi perubahan iklim

Kurang Informasi

Namun, kesadaran tentang keuntungan spesifik aluminium bagi lingkungan masih terbatas karena kurangnya informasi.

Hanya 36,9 persen responden yang mengetahui bahwa mendaur ulang kaleng aluminium menjadi kaleng baru dapat menghemat sekitar 95 persen energi dibandingkan dengan memproduksi bahan baru.

Sementara itu sebanyak 54 persen menjawab dengan benar bahwa kaleng aluminium dapat didaur ulang kembali menjadi produk yang sama.

Baca juga: Produk Bahan Bangunan Ramah Lingkungan Lebih Diminati Konsumen di Indonesia

Ini menunjukkan bahwa pemahaman tentang daur ulang yang disebut "dari kaleng ke kaleng" masih tertinggal dibandingkan dengan dukungan masyarakat yang luas terhadap sistem daur ulang tertutup.

“Hasil survei menunjukkan bahwa memberikan informasi yang akurat tentang manfaat lingkungan dari aluminium dapat memengaruhi pilihan konsumen dan partisipasi dalam daur ulang,” kata Lee Dong-i, sekretaris jenderal KFEM.

Hambatan Struktural Daur Ulang

Lebih lanjut, meski ada kemauan yang kuat untuk bertindak, di mana 75,5 persen responden mengatakan akan memilih kemasan yang dapat didaur ulang di masa depan dan 78,3 persen berniat memilah kaleng aluminium dengan benar, para responden menyebutkan adanya beberapa hambatan struktural.

Hambatan yang paling umum termasuk kurangnya ruang untuk memilah dan menyimpan barang yang dapat didaur ulang (22,3 persen), kebingungan tentang metode pemisahan (14,0 persen) dan keraguan tentang apakah daur ulang dilakukan dengan benar (8,5 persen).

Baca juga: Korea Selatan Uji Coba Proyek Pembalut Gratis

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
Pemerintah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
Pemerintah
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Swasta
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
Pemerintah
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
Pemerintah
Java Fresh Perluas Ekspor ke China, Perkuat Riset untuk Perpanjang Masa Simpan Buah
Java Fresh Perluas Ekspor ke China, Perkuat Riset untuk Perpanjang Masa Simpan Buah
Swasta
Komitmen Net-Zero Perusahaan Global Tumbuh 61 Persen pada 2025
Komitmen Net-Zero Perusahaan Global Tumbuh 61 Persen pada 2025
Pemerintah
Waspadai Perdagangan Satwa Liar Berisiko Tularkan Penyakit ke Manusia
Waspadai Perdagangan Satwa Liar Berisiko Tularkan Penyakit ke Manusia
Pemerintah
Enam Kali Raih Proper Emas, Sido Muncul Buktikan Praktik Ramah Lingkungan Dimulai dari Kegiatan Sehari-hari
Enam Kali Raih Proper Emas, Sido Muncul Buktikan Praktik Ramah Lingkungan Dimulai dari Kegiatan Sehari-hari
BrandzView
Dari Kebun Manggis ke Supermarket Eropa, Ini Keunggulan Indonesia Ketimbang Negara Tetangga
Dari Kebun Manggis ke Supermarket Eropa, Ini Keunggulan Indonesia Ketimbang Negara Tetangga
Swasta
Lestari Forum 2026: 'Sustainability' Bagian dari Inti Bisnis
Lestari Forum 2026: "Sustainability" Bagian dari Inti Bisnis
Swasta
Mengintip Strategi PHE Menjaga Pasokan Energi Nasional Jangka Panjang
Mengintip Strategi PHE Menjaga Pasokan Energi Nasional Jangka Panjang
BUMN
Prabowo Bikin Program Listrifikasi Kendaran, Pangkas Pemakaian BBM
Prabowo Bikin Program Listrifikasi Kendaran, Pangkas Pemakaian BBM
Pemerintah
Gletser Asia Mencair, Pasokan Air Miliaran Orang Terancam
Gletser Asia Mencair, Pasokan Air Miliaran Orang Terancam
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau