KOMPAS.com - Industri pakaian (apparel) dinilai hanya sedikit berhasil mengurangi penggunaan karbon dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut laporan dari Cascale yang dirilis awal tahun ini, penilaian itu berarti proses dekarbonisasi tidak berjalan pada kecepatan atau skala yang cukup untuk memenuhi target pembatasan pemanasan bumi sebesar 1,5 derajat celsius di atas tingkat pra-industri.
Baca juga:
Sebagai informasi, Cascale atau yang sebelumnya dikenal sebagai Sustainable Apparel Coalition, merupakan organisasi yang terdiri dari 300 perusahaan pakaian, sepatu, dan tekstil yang didirikan pada tahun 2009 oleh Walmart dan Patagonia.
Laporan tersebut menganalisis data energi tahun 2023 dan 2024 menggunakan alat penilaian dampak lingkungan bernama Higg Facility Environmental Module, dilansir dari ESG Dive, Selasa (24/3/2026).
Fokus penelitiannya adalah pada pabrik pembuatan produk jadi (tier 1) dan pabrik pembuatan bahan baku atau kain (tier 2).
Industri pakaian (apparel) dinilai hanya sedikit berhasil mengurangi penggunaan karbon dalam beberapa tahun terakhir.Analisis ini menggunakan ukuran baru bernama Intensitas Karbon Energi Efektif (Effective Energy Carbon Intensity), yang menunjukkan seberapa besar polusi karbon dari penggunaan energi di sebuah pabrik.
"Inti dari ukuran ini adalah menghitung kembali energi listrik yang dipakai pabrik menjadi jumlah bahan bakar fosil yang dibutuhkan untuk menghasilkan listrik tersebut," catat laporan tersebut.
Cara hitung ini memungkinkan peneliti untuk membandingkan langsung antara energi panas seperti pembakaran batu bara di pabrik dan energi listrik yang digunakan.
Laporan ini berfokus pada pabrik-pabrik di negara produsen utama, seperti China, India, Bangladesh, Vietnam, Turkiye, Pakistan, dan Sri Lanka.
Di China, Turkiye, dan Vietnam, misalnya, tingkat polusi pabriknya rata-rata hampir sama.
Namun, di India, Sri Lanka, dan Pakistan, perbedaannya sangat jauh antar-pabrik sehingga angka rata-rata nasional tidak bisa menggambarkan kondisi aslinya. Ada pabrik yang sudah sangat bersih, tapi banyak juga yang masih sangat kotor.
Namun, laporan tersebut juga menemukan, meskipun di beberapa negara tingkat polusinya terlihat merata, beban polusi sebenarnya menumpuk di pabrik-pabrik tertentu saja.
Sebagian kecil pabrik berukuran besar yang boros energi ternyata menyumbang polusi yang jauh lebih banyak dibandingkan pabrik lainnya.
Hal itu artinya, jika berfokus memperbaiki pabrik-pabrik besar ini, kemajuan dalam mengurangi polusi global akan jauh lebih cepat daripada mencoba memperbaiki semua pabrik sekaligus secara merata.
"Laporan ini mempertegas bahwa tidak ada jalan pintas untuk mengurangi emisi karbon," kata wakil presiden senior Higg Index di Cascale, Jeremy Lardeau.
"Kemajuan yang nyata bergantung pada kerja sama di seluruh rantai produksi, bukan sekadar merek-merek yang berpindah-pindah mencari pabrik lain. Besarnya investasi yang dibutuhkan untuk pembersihan karbon secara menyeluruh di tingkat pabrik berarti merek-merek pakaian harus ikut turun tangan secara nyata," tambah dia.
Baca juga:
Industri pakaian (apparel) dinilai hanya sedikit berhasil mengurangi penggunaan karbon dalam beberapa tahun terakhir.Hasil laporan Cascale ini sejalan dengan penilaian dari organisasi nirlaba global, Apparel Impact Institute, pada Juli 2025.
Mereka menemukan bahwa emisi gas rumah kaca di sektor pakaian justru naik 7,5 persen antara tahun 2022 dan 2023.
Sementara itu, penilaian PBB yang dirilis akhir tahun 2025 menemukan bahwa emisi gas rumah kaca global terus tumbuh hingga mencapai rekor baru sebesar 57,7 gigaton pada tahun 2024, naik 2,3 persen dari tahun sebelumnya.
Hambatan utama dalam mengurangi emisi adalah industri ini masih terus bergantung pada batu bara, yang menyumbang 31 persen dari total konsumsi energinya.
Batu bara merupakan sumber bahan bakar terbesar bagi pemasok Tier 2, pabrik yang memproduksi kain sebelum dijahit menjadi pakaian, yang mana batu bara mencakup 40 persen dari seluruh penggunaan energi global di tahap tersebut.
Meskipun semakin banyak pabrik yang melaporkan telah membeli atau menghasilkan energi terbarukan, nyatanya energi bersih tersebut baru menyumbang dua persen dari total konsumsi energi industri ini. Angka tersebut tidak mengalami kenaikan antara tahun 2023 dan 2024.
Namun, sekadar beralih dari batu bara ke energi terbarukan saja tidak akan cukup untuk mencapai target iklim global, karena negara-negara produsen pakaian utama juga memiliki jaringan listrik yang sangat tinggi polusi karbonnya.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya