Penulis
KOMPAS.com - Perubahan iklim sejak tahun 1950-an telah mengubah hidup manusia. Waktu yang harus dihabiskan manusia dalam kondisi panas ekstrem bisa berlipat ganda, bahkan bisa membuat aktivitas sehari-hari tidak aman dilakukan.
Menurut penelitian yang diterbitkan di jurnal Environmental Research: Health, peneliti tidak hanya melihat seberapa panas suhu udara.
Baca juga:
"Pertanyaan yang diajukan kali ini berbeda: Apa yang dapat dilakukan tubuh manusia dengan aman dalam cuaca panas seperti itu?” kata salah satu penulis, sekaligus profesor School of Sustainability di Arizona State University, Amerika Serikat, Jennifer Vanos, dilansir dari Phys.org, Kamis (26/3/2026).
Pada akhirnya, jika pemanasan global tidak dihentikan dan langkah-langkah adaptasi tidak diterapkan secara lebih luas, batasan seberapa layak bumi untuk dihuni hanya akan semakin meluas.
Hal itu terjadi terutama seiring dengan bertambah tuanya populasi di dunia, dikutip dari IOP Science.
Panas ekstrem sudah berlipat ganda sejak tahun 1950-an. Akibatnya, aktivitas fisik sehari-hari manusia bisa terganggu.Lantas, panas seperti apa yang dianggap berbahaya? Menurut peneliti, "batas kelayakan hidup yang parah" merupakan kondisi suhu dan kelembapan yang sangat tinggi.
Saking tingginya, manusia bahkan tidak bisa menyapu lantai di tempat teduh dengan aman. Bila memaksakan diri, suhu inti tubuh bisa naik tanpa kendali.
"Pada jam-jam terpanas sepanjang tahun, beberapa lokasi telah mengalami kondisi yang ‘tidak layak huni’ (yaitu ketika tidak ada aktivitas yang dapat dilakukan untuk mengimbangi beban panas lingkungan)," tulis para peneliti.
Studi ini menggunakan data suhu dan kelembapan per jam dari tahun 1950 hingga 2024. Mereka menggabungkan data tersebut dengan jumlah populasi global.
Hasilnya, wilayah tropis dan subtropis mengalami dampak paling buruk. Penduduk lanjut usia (lansia) bisa kehilangan waktu beraktivitas hingga sepertiga tahun akibat panas.
Panas ekstrem tidak menyerang semua manusia dengan cara yang sama, tapi semua kelompok usia tetap mengalami peningkatan risiko. Berikut selengkapnya:
Secara global, anak muda terpapar sekitar 25 jam panas ekstrem per tahun pada periode 1950-1979. Angka itu melonjak menjadi 50 jam pada periode 1995-2024.
Bagi lansia, situasinya lebih parah lagi. Paparan panas naik dari 600 jam menjadi 900 jam per tahun.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya