Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Air Cucian Pabrik Daur Ulang Plastik Berpotensi Tercemar

Kompas.com, 29 Maret 2026, 08:17 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Air untuk membersihkan plastik di pabrik daur ulang berpotensi tercemar bahan kimia sintetis phthalates (ftalat), menurut studi terbaru. Pembersihan ini dilakukan sebelum plastik diproses menjadi produk baru.

"Kualitas air cucian plastik pasca-konsumen sangat penting untuk produksi plastik daur ulang yang aman, terutama untuk aplikasi yang bersentuhan dengan makanan. Penelitian ini mengevaluasi penyebaran bahan kimia yang menjadi perhatian (CoCs) (misalnya, ftalat dan bisfenol) dalam air cucian limbah," tulis para peneliti, dilansir dari Wiley Online Library, Sabtu (28/3/2026).

Baca juga:

Air untuk mencuci plastik daur ulang berpotensi tercemar

Studi yang diterbitkan di jurnal Advances in Materials Science and Engineering menunjukkan, metode pencucian dengan getaran ultrasonik atau natrium hidroksida yang ditambahkan deterjen industri umum, meninggalkan air cucian dengan kadar tinggi dua jenis ftalat.

Dua jenis ftalat tersebut yaitu (2-etilheksil) ftalat (DEHP) dan di-sikloheksil ftalat (DCHP). Keduanya berisiko menyebabkan kanker serta gangguan hormon untuk reproduksi dan perkembangan, terutama pada anak-anak.

"Kami mencoba melacak nasib bahan kimia ini dalam proses daur ulang dan mencari cara untuk menghilangkannya secara efektif," kata peneliti untuk dari Konsorsium Perlindungan Polimer dan Pangan Iowa State University, Amerika Serikat, sekaligus penulis senior studi tersebut, Greg Curtzwiler, dilansir dari Phys.org.

Studi ini berfokus pada polipropilena yang kerap dipakai untuk wadah produk susu dan kemasan makanan lainnya. Polipropilena merupakan material yang tahan lama dan bernilai tinggi.

Saat menyelidiki metode umum pencucian polipropilena, para peneliti memperhatikan bahwa sampel, yang digiling menjadi serpihan kira-kira seukuran butiran garam kasar, masih mengandung bahan kimia beracun dengan kadar lebih rendah.

Baca juga:

Solusi hemat biaya

Air untuk membersihkan plastik di pabrik daur ulang berpotensi tercemar bahan kimia sintetis phthalates (ftalat), menurut studi terbaru.Dok. Freepik/frimufilms Air untuk membersihkan plastik di pabrik daur ulang berpotensi tercemar bahan kimia sintetis phthalates (ftalat), menurut studi terbaru.

Temuan dari studi ini menunjukkan cara pencucian plastik dan pengelolaan air dalam proses daur ulang perlu meminimalisasi berbagai risikonya.

Fraksinasi busa menjadi salah satu pilihan untuk menyaring beberapa bahan kimia beracun.

Adapun fraksinasi busa merujuk pada teknik pemisahan gelembung udara melalui air untuk menyaring kontaminan yang terperangkap dalam busa.

Para peneliti dari universitas tersebut juga sedang mempelajari elektro-oksidasi atau memakai listrik untuk mengurai bahan kimia berbahaya dan "pengobatan" berbasis bio dengan nanomaterial yang disebut karbon nano-onion.

Selain itu, mengurangi jumlah air yang digunakan untuk mencuci plastik daur ulang juga dapat menjadi bagian dari solusi komprehesif. Langkah ini dilakukan melalui peningkatan metode penyortiran atau pembersihan yang menggunakan jauh lebih sedikit atau bahkan tanpa air sama sekali.

Perubahan metode dalam pencucian plastik daur ulang harus ekonomis. Apalagi, metode tersebut diperuntukkan bagi industri yang berupaya berkembang sembari beroperasi dengan margin keuntungan tipis.

"Kita tidak ingin pengobatannya lebih buruk daripada penyakitnya, tapi kita perlu melakukan ini seefektif biaya mungkin," tutur salah satu penulis studi tersebut sekaligus direktur Konsorsium Perlindungan Polimer dan Pangan Iowa State University, Keith Vorst.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
KLH Buka Pendaftaran Kalpataru 2026 untuk Pegiat Lingkungan, Cek Syaratnya
KLH Buka Pendaftaran Kalpataru 2026 untuk Pegiat Lingkungan, Cek Syaratnya
Pemerintah
GRI Perbarui Aturan Pelaporan Dampak Polusi bagi Perusahaan
GRI Perbarui Aturan Pelaporan Dampak Polusi bagi Perusahaan
LSM/Figur
Plastik Langka, Taiwan Fokus Stabilkan Pasokan dan Dorong Penggunaan kembali
Plastik Langka, Taiwan Fokus Stabilkan Pasokan dan Dorong Penggunaan kembali
Pemerintah
Warga Jakarta Bisa Donasi Pakaian Bekas untuk Didaur Ulang, Begini Caranya
Warga Jakarta Bisa Donasi Pakaian Bekas untuk Didaur Ulang, Begini Caranya
Swasta
Dampak Konflik AS-Israel Vs Iran, Industri Plastik Asia Terguncang
Dampak Konflik AS-Israel Vs Iran, Industri Plastik Asia Terguncang
Pemerintah
Pemerintah Percepat Strategi Mitigasi Kekeringan Hadapi El Nino
Pemerintah Percepat Strategi Mitigasi Kekeringan Hadapi El Nino
Pemerintah
Godzilla El Nino Picu Kekeringan, Banjir, dan Karhutla di Indonesia
Godzilla El Nino Picu Kekeringan, Banjir, dan Karhutla di Indonesia
Pemerintah
Mengenal 'Micromanagement', Gaya Kepemimpinan 'Tirani' yang Bisa Rusak Sistem Kerja Perusahaan
Mengenal "Micromanagement", Gaya Kepemimpinan "Tirani" yang Bisa Rusak Sistem Kerja Perusahaan
LSM/Figur
Titik Panas Karhutla Kalbar Melonjak di Tengah Ancaman Godzilla El Nino
Titik Panas Karhutla Kalbar Melonjak di Tengah Ancaman Godzilla El Nino
Pemerintah
Saat Pakaian Bekas Disulap Jadi Material Bangunan Peredam Suara...
Saat Pakaian Bekas Disulap Jadi Material Bangunan Peredam Suara...
Swasta
Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier
Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier
Pemerintah
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Pemerintah
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
Pemerintah
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau