Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jepang Daur Ulang Limbah Popok Bekas Jadi Produk Baru

Kompas.com, 29 Maret 2026, 09:14 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber AFP, Phys.org

KOMPAS.com - Di Jepang, terdapat proyek percontohan daur ulang popok agar menjadi popok baru. Saat ini, proyek yang disebut pertama kalinya di dunia ini, menjalani pengujian metode untuk mengurangi konsumsi air dalam proses daur ulang.

Proyek ini diharapkan mengurangi penumpukan sampah di tempat pemrosesan akhir (TPA), sekaligus memenuhi kebutuhan popok dewasa untuk lanjut usia (lansia) yang meningkat.

Baca juga:

"Permintaan popok bayi sedang menurun. Namun, semakin banyak lansia yang menggunakan popok, dan belakangan ini, bahkan hewan peliharaan pun ikut menggunakannya," kata Presiden Unicharm, Takahisa Takahara, dilansir dari AFP via Phys.org, Sabtu (28/3/2026).

Proyek daur ulang popok di Jepang

Dijual 10 persen lebih mahal dibanding popok baru

Di Jepang, terdapat proyek percontohan daur ulang popok agar menjadi popok baru untuk mengurangi penumpukan sampah. Bagaimana caranya? Di Jepang, terdapat proyek percontohan daur ulang popok agar menjadi popok baru untuk mengurangi penumpukan sampah. Bagaimana caranya?

Adapun Unicharm merupakan perusahaan di balik inisiatif tersebut. Perusahaan produk kebersihan ini tengah menguji skema tersebut di Shibushi dan Osaki, yang mendaur ulang 80 persen sampah rumah tangga atau empat kali lipat rata-rata Jepang.

Sekitar 25 tahun lalu, Shibushi dan Osaki yang dihuni sekitar 40.000 orang, memutuskan untuk mengambil tindakan tersebut usai tempat pembuangan sampah komunal mereka diprediksi akan penuh pada 2004.

Namun, saat ini tempat pembuangan sampah komunitas tersebut diperkirakan masih akan tetap dibuka selama 40 tahun ke depan.

Popok mulai dimasukkan dalam program daur ulang pada 2024, dengan warga diharuskan menulis nama mereka pada kantong sampah yang telah ditentukan.

Sampah popok yang telah dikumpulkan kemudian diparut, dicuci, dan dipisahkan menjadi bubur kertas, plastik, serta polimer super-penyerap (SAP).

Proses daur ulang popok memanfaatkan perlakuan ozon khusus untuk sterilisasi, pemutihan, dan penghilangan bau.

Unicharm sudah mampu menggunakan bubur kertas, yang menjadi komponen utama dari sampah popok, untuk membuat produk baru.

Saat ini, produk daur ulang popok hanya dijual di beberapa toko lokal dengan harga sekitar 10 persen lebih tinggi daripada produk dengan bahan baku baru.

Pejabat eksekutif senior bisnis daur ulang Unicharm, Tsutomu Kido menargetkan akan mendaur ulang plastik dan polimer penyerap dari sampah popok untuk membuat produk baru pada tahun 2028.

Unicharm juga berencana bekerja sama dengan 20 kotamadya pada tahun 2035 untuk mendaur ulang popok mereka.

Baca juga:

Populasi di Jepang yang menua

Hampir 100.000 orang Jepang berusia di atas 100 tahun, yang menyebabkan permintaan popok dan produk terkait lainnya lebih banyak dari lansia dibandingkan bayi.

Menurut Asosiasi Industri Produk Kebersihan Jepang, Negeri Sakura itu memproduksi 9,6 miliar popok dewasa dan pembalut inkontinensia untuk lansia pada tahun 2024.

Pada tahun yang sama, Jepang hanya memproduksi delapan miliar popok untuk bayi.

Diperkirakan, negara tersebut akan membuang 2,6 juta ton popok kotor setiap tahunnya pada tahun 2030, meningkat dari sekitar 2,2 ton pada tahun 2020.

Berdasarkan data Institut Nasional untuk Studi Lingkungan, tingkat daur ulang sampah di Jepang kurang dari 20 persen, tergolong rendah bila dibandingkan dengan Jerman, Inggris, dan Amerika Serikat. 

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
Swasta
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
LSM/Figur
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
LSM/Figur
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
Pemerintah
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Swasta
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
LSM/Figur
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
Pemerintah
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Pemerintah
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
Pemerintah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
Pemerintah
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Swasta
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
Pemerintah
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
Pemerintah
Java Fresh Perluas Ekspor ke China, Perkuat Riset untuk Perpanjang Masa Simpan Buah
Java Fresh Perluas Ekspor ke China, Perkuat Riset untuk Perpanjang Masa Simpan Buah
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau