KOMPAS.com - Bakteri dalam kimchi membantu mengikat nanoplastik (plastik berukuran sangat kecil) di dalam usus dan membawanya keluar dari tubuh, menurut penelitian terbaru di jurnal Bioresource Technology.
Studi yang dilakukan oleh Dr. Se Hee Lee dan rekan-rekannya dari World Institute of Kimchi (WiKim) menemukan, bakteri kimchi mampu mengikat 57 persen dari partikel plastik yang ada di usus manusia.
Berbeda dengan bakteri lain yang ditemukan di alam bebas, mikroba dalam kimchi berasal dari makanan yang sudah dikonsumsi orang selama turun-temurun. Hal ini membuat pemanfaatannya jauh lebih praktis dan meyakinkan untuk diterapkan.
Temuan itu pun menunjukkan bahwa makanan fermentasi berpotensi menjadi cara alami untuk mengurangi jumlah plastik yang mengendap di dalam tubuh manusia, dilansir dari Earth.com, Selasa (31/3/2026).
Ilustrasi mikroplastik. Bakteri yang umum ditemukan dalam makanan fermentasi seperti kimchi, yaitu Leuconostoc mesenteroides, mengandalkan proses biosorpsi.
Biosorpsi adalah proses pengikatan pada permukaan sel yang menjebak polutan plastik sebelum mereka masuk lebih dalam ke jaringan tubuh.
Gugus kimia pada lapisan luar bakteri ini membantu plastik menempel erat sehingga ikatan tersebut tetap stabil dan tidak mudah lepas.
Bahkan, sebelum simulasi pencernaan dimulai, bakteri dari kimchi ini disebut sudah berhasil mengikat 87 persen partikel plastik, sedikit lebih unggul dibanding bakteri pembanding yang mencatat angka 85 persen.
Baca juga:
Ilustrasi kimchi korea.Kinerjanya tetap stabil meski suhu, tingkat keasaman, dan jumlah plastiknya berubah-ubah sehingga para ahli menilai temuan ini cukup kuat untuk mulai diuji coba pada hewan, tepatnya tikus bebas kuman.
Tim peneliti menguji bakteri tersebut tanpa gangguan dari bakteri lain.
Hasilnya, tikus jantan dan betina yang diberi bakteri kimchi mengeluarkan partikel nanoplastik melalui kotoran mereka dua kali lipat lebih banyak dibandingkan tikus yang tidak diberi bakteri tersebut.
Banyaknya partikel plastik yang keluar bersama kotoran menunjukkan, lebih banyak plastik yang berhasil "ditangkap" di dalam usus sebelum sempat masuk meresap ke dalam jaringan tubuh.
Meskipun data pada tikus ini belum membuktikan efek yang sama persis pada manusia, hasil ini menunjukkan bahwa konsep tersebut dapat bekerja pada makhluk hidup.
Ilustrasi gelas plastik.Sinar matahari, gesekan, panas, dan waktu terus menghancurkan sampah plastik besar menjadi butiran-butiran kecil, yang secara bertahap meningkatkan jumlah partikel plastik yang tertelan oleh manusia.
Usus menjadi bagian yang paling penting. Sebab, di bagian itulah partikel plastik ini bertemu dengan proses pencernaan, lendir, dan sel-sel penyusun dinding tubuh.
Mikroba yang dapat dimakan, seperti bakteri kimchi, terlihat sangat menjanjikan untuk digunakan di dalam usus karena mereka bisa mencegat polutan tepat di "pintu masuk" sebelum menyebar lebih luas ke seluruh tubuh.
Nanoplastik atau serpihan plastik yang ukurannya lebih kecil dari 0,001 milimeter terkadang bisa menembus pertahanan alami tubuh, yang mana membuat para peneliti khawatir plastik akan mengendap di dalam tubuh.
Hasil autopsi pada manusia menemukan konsentrasi plastik yang jauh lebih tinggi pada sampel otak dibandingkan pada sampel hati atau ginjal.
Tingginya kadar plastik di jaringan otak memang belum membuktikan adanya bahaya secara langsung sehingga masih banyak pertanyaan besar mengenai dosis, jangka waktu, dan risikonya.
Namun, ketidakpastian akan bahaya inilah yang justru membuat cara aman apa pun untuk menahan partikel plastik tetap berada di dalam usus sehingga bisa dibuang sangat layak untuk diperhatikan secara serius.
“Polusi plastik semakin diakui bukan hanya sebagai masalah lingkungan tetapi juga sebagai masalah kesehatan masyarakat. Temuan kami menunjukkan bahwa mikroorganisme yang berasal dari makanan fermentasi tradisional dapat mewakili pendekatan biologis baru untuk mengatasi tantangan yang muncul ini,” kata Lee.
Akan tetapi, peneliti mengingatkan, meski studi menjanjikan, tapi baru tahap awal dan bukan sebuah jawaban pasti untuk mengatasi paparan plastik.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya