KOMPAS.com-Kesejahteraan seorang atasan sangat berpengaruh pada hubungan dengan bawahannya. Pasalnya itu nantinya akan menentukan motivasi kerja, kinerja karyawan, dan daya saing perusahaan.
Dalam penelitian doktoralnya di University of Vaasa, Finlandia, Jussi Tanskanen menunjukkan bahwa pemimpin yang sudah kelelahan (burnout) tidak lagi punya energi untuk menjalin hubungan baik dengan karyawannya. Akibatnya, semangat kerja karyawan pun ikut anjlok.
Masalah ini terasa jauh lebih parah di lingkungan kerja saat ini yang sangat sibuk serta dalam sistem kerja jarak jauh (remote work).
Baca juga: AI di Kantor, Berpotensi Menumpulkan Kemampuan Berpikir Kritis Karyawan
Melansir Phys, Selasa (14/4/2026), dunia kerja yang semakin sibuk dan terus berubah memberikan tekanan berat bagi perusahaan.
Penelitian Jussi Tanskanen menunjukkan bahwa cara efektif bagi perusahaan untuk meningkatkan performa dan kebahagiaan karyawan adalah dengan menjaga kualitas hubungan antara atasan dan bawahan.
Salah satu caranya adalah dengan memperhatikan kesejahteraan mental para manajer itu sendiri. Hubungan yang baik antara atasan dan bawahan akan membuat karyawan lebih semangat bekerja, yang pada akhirnya memberikan dampak positif jangka panjang bagi perusahaan.
"Sederhananya, semangat kerja adalah perasaan senang saat mengerjakan tugas dan merasa pekerjaan itu justru memberi energi. Namun, penelitian ini mengungkap efek domino yang buruk. Ketika seorang atasan merasa kelelahan dan mulai bersikap sinis, hal itu langsung berdampak pada hubungannya dengan anak buah," jelas Tanskanen.
"Saat atasan tidak lagi punya energi untuk mengobrol dengan tulus atau menunjukkan rasa peduli, semangat kerja seluruh tim akan pudar. Rantai kelelahan ini pada akhirnya akan melemahkan performa seluruh perusahaan," terangnya lagi.
Penelitian ini menunjukkan bahwa hubungan baik antara atasan dan bawahan adalah aset yang sangat berharga bagi karyawan. Berkat hubungan yang baik, pekerjaan yang berat pun terasa lebih ringan dan penghargaan yang diterima terasa lebih berarti.
Baca juga: Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Sebaliknya, jika hubungan buruk, komunikasi hanya sebatas urusan formal saja. Hal ini bisa memicu rasa tidak adil dan membuat tim menjadi terpecah belah.
Tanskanen menegaskan bahwa perusahaan harus mendukung kesehatan mental para atasan dan memberi mereka wewenang yang cukup untuk memberikan penghargaan kepada anak buahnya.
"Atasan harus punya kemampuan untuk menghargai anak buahnya tidak hanya dengan uang, tapi juga dengan pujian dan kebebasan dalam bekerja. Jika seorang atasan hanya menjadi perantara yang cuma bisa menjalankan perintah tanpa wewenang sendiri, maka rasa percaya dalam tim akan rusak," tambahnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya