NGAWI, KOMPAS.com - Novi, seorang ibu hamil dengan risiko kekurangan energi kronis (KEK) yang sangat membutuhkan asupan gizi tambahan, terutama makanan berprotein hewani tinggi.
Setiap pemeriksaan rutin selama masa awal kehamilan, lingkar lengan atas Novi di bawah 23,5 cm. Kini, pada usia kandungan 8 bulan, LiLA-nya sudah di atas 23,5 cm.
"Alhamdulillah, sekarang LiLA saya 23,7 cm. Jadi, setelah makan dari menu dari pos gizi dashat/PGD), juga mendapatkan kenaikan berat badan," ucapnya pada Kamis (16/4/2026), usai mengikuti serangkaian kegiatan kelas PGD, termasuk di dalamnya ada demo masak dan pengisian buku rapor peserta.
PGD terdiri dari kelas makan dan kelas edukasi. Kelas makan berlangsung selama 12 hari berturut-turut bagi anak di bawah 2 tahun yang berat badannya tidak mengalami kenaikan (baduta 2T/underweight) dan ibu hamil berisiko KEK.
Baca juga: Remaja Paham Stunting tapi Lebih Suka Seblak ketimbang Sayur-Buah
Untuk kelas edukasi berlangsung selama 11 minggu bagi seluruh sasaran, sembari melakukan monitoring yang dilanjutkan penimbangan berat badan sampai bulan ke-3 atau H-90.
Setidaknya, demo masak yang dilakukan dalam kegiatan PGD mengajarkan tujuh menu untuk pemberian makanan tambahan (PMT). Sup matahari dengan bahan ikan patin, wortel, kentang, daun kelor, tepung maizena, terigu, serta daging, hati, dan telur ayam ini menjadi menu favorit Novi.
Ia mengaku sudah pernah memasak sup matahari di rumahnya. Sebagai PMT, Novi juga sering mengonsumsi pisang, alpukat, serta olahan makanan dari bayam dan daun singkong.
Ibu dengan baduta, Risma bersyukur bisa mencicipi berbagai menu PMT selama mengikuti kegiatan PGD, khususnya makanan olahan ikan, telur, dan ayam. Setelah mengikuti PGD, Risma berat badan anak keduanya bertambah.
"Anaknya juga senang, banyak mainan dan teman. Jadi, doyan makan karena ada temannya," tutur Risma.
Ia jarang memasak ikan dan ayam di rumah, lebih sering telur sebagai protein hewani yang harganya relatif terjangkau. Ia bersyukur anaknya doyan menyantap sayuran dan buah-buahan yang terjangkau, seperti semangka, pepaya, serta alpukat.
Sup matahari dan kaki dino ayam adalah menu favorit anaknya. Menu PMT dalam demo masak yang tidak pernah dipraktikkan di rumah biasanya disebabkan proses pembuatannya membutuhkan jerih payah ekstra atau bahan-bahannya terlalu mahal. Misalnya, proses pembuatan sup matahari sebenarnya relatif mudah, tetapi bahannya banyak dan mahal. Risma menyiasatinya dengan memasak sup hanya memakai telur dan mengganti ikan patin menjadi lele.
Kegiatan pos gizi dashat di Kabupaten Ngawi pada Kamis (16/4/2026).Relawan PGD, Partini mengaku senang menyaksikan anak-anak lahap menyantap sup matahari yang dimasaknya. Yang paling berkesan ketika ada anak rewel karena kurang bersosialisasi dan setelah rutin mengikuti kegiatan PGD menjadi tentang, pemberani, ceria, serta enggak menangis saat dtimbang berat badannya.
"Mereka (anak-anak dan ibu hamil) suka sup matahari, ada kebanggaan tersendiri. Senang juga mendapat ilmu untuk keluarga atau cucu nanti, bisa membuat menu yang sudah saya praktikkan," ujar Partini.
Baca juga: Kemendukbangga: Program MBG Bantu Cegah Stunting pada Anak
Ia membenarkan bahwa untuk memasak menu sup matahari membutuhkan biaya cukup mahal. Namun, biaya memasak sup matahari bisa terjangkau atau sekitar Rp 10.000 jika bahan-bahannya berunsur protein hewani lebih murah, karena ketersediaannya untuk dibeli di lingkungan setempat.
Kades di salah satu desa di Kabupaten Ngawi, Andri Wika Cahyono mengatakan, pemerintahan desa saat ini sudah memanfaatkan lahan yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan sumber pangan.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya