Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Krisis Iklim Lemahkan Keandalan EBT, Terlalu Panas untuk PLTS dan Terlalu Berangin bagi PLTB

Kompas.com, 21 April 2026, 21:36 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Euronews

Namun, ketika kecepatan angin terlalu kencang, jaringan listrik sering kali dibanjiri energi hijau melebihi kebutuhan sebenarnya.

Menurut perusahaan EBT di Inggris, Octopus Energy, kecepatan angin yang terlalu kencang bisa menciptakan kemacetan lalu lintas pada jaringan listrik dan menghambat penyalurannya ke konsumen.

“Turbin angin memiliki titik optimal. Ketika kecepatan angin melebihi sekitar 90 km/jam, turbin memasuki 'mode bertahan hidup' dan menghentikan putaran bilahnya untuk mencegah kegagalan struktural,” ucap Vergini.

Selama Badai Ciarán pada akhir tahun 2023, ladang angin lepas pantai berkapasitas tinggi di Inggris dan Prancis harus dimatikan, meski kondisi angin di atas kertas 'sempurna'.

Baca juga: Targetkan Bauran EBT 2026 Capai 21 Persen, Pemerintah Kebut PLTS 100 GW hingga BBN

Dampaknya, Inggris dan Prancis harus menghadapi ketergantungan secara mendadak pada PLTG untuk mengisi kekosongan itu. Merujuk pada proyeksi iklim, badai angin musim dingin akan sedikit meningkat dari segi jumlah dan intensitasnya, yang mengakibatkan banyak turbin di Eropa berisiko mengalami kerusakan.

Pasokan Tak Terprediksi

Suhu yang lebih hangat akibat krisis iklim juga berdampak pada pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Misalnya, selama musim dingin yang hangat dan kering, cadangan salju di Norwegia turun ke level terendah dalam dua dekade terakhir.

Imbasnya, menciptakan defisit sekitar 25 TWh, energi yang cukup untuk memasok listrik bagi sekitar 2,5 juta rumah selama setahun atau hampir seperlima dari total produksi tenaga air Norwegia tahun lalu.

“Tebalnya salju di Norwegia pada musim dingin lalu adalah contoh yang baik dari pergeseran yang lebih luas: pembangkit listrik tenaga air di Eropa menjadi semakin tidak stabil. Pada saat yang sama, pola curah hujan bergeser. Sebagian besar Eropa mungkin akan mengalami peningkatan total curah hujan, tetapi sebagian besar turun sebagai hujan, bukan salju," ujar Alex Truby dari Upstream Tech, sebuah model peramalan berbasis AI.

Baca juga: Belajar dari India, Indonesia Dinilai Perlu Target Ambisius EBT

Setiap kenaikan suhu udara sebesar 1 derajat Celcius, atmosfer dapat menampung sekitar tujuh persen lebih banyak uap air, yang menyebabkan curah hujan semakin deras dan intensif.

Salju menyimpan air sepanjang musim dingin dan melepaskannya secara bertahap selama musim semi dan musim panas, sehingga menyediakan pasokan air yang konsisten dan dapat diprediksi untuk menghasilkan listrik.

Dalam menghadapi krisis iklim, PLTA perlu beradaptasi dengan kondisi yang berubah. Di antaranya, melakukan prakiraan musiman dan jangka pendek dengan lebih baik, peningkatan kapasitas penyimpanan, serta perbaikan jaringan listrik, yang akan membantu memindahkan EBT antar wilayah untuk membantu mengurangi variabilitas.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Hari Laut Sedunia 2026: Pengingat agar Masyarakat Dunia Jaga Lautan
Hari Laut Sedunia 2026: Pengingat agar Masyarakat Dunia Jaga Lautan
Pemerintah
Banjir dan Air Limbah Tingkatkan Risiko Paparan Bakteri yang Resisten Antibiotik
Banjir dan Air Limbah Tingkatkan Risiko Paparan Bakteri yang Resisten Antibiotik
LSM/Figur
Tingkatkan Efisiensi Produksi, Industri Makanan Mulai Adopsi AI
Tingkatkan Efisiensi Produksi, Industri Makanan Mulai Adopsi AI
Swasta
Konsumsi Daging Global Naik 4 Kali Lipat, Apa Dampaknya Bagi Lingkungan?
Konsumsi Daging Global Naik 4 Kali Lipat, Apa Dampaknya Bagi Lingkungan?
LSM/Figur
IPB University Promosikan Potensi Agromaritim Indonesia di Korea Selatan
IPB University Promosikan Potensi Agromaritim Indonesia di Korea Selatan
Pemerintah
Menaikkan Pajak UMKM saat Terjadi Ketidakpastian Global Dinilai Kurang Tepat
Menaikkan Pajak UMKM saat Terjadi Ketidakpastian Global Dinilai Kurang Tepat
LSM/Figur
Studi Ungkap Hambatan Sulitnya Pensiunkan PLTU Batu Bara di Indonesia
Studi Ungkap Hambatan Sulitnya Pensiunkan PLTU Batu Bara di Indonesia
Pemerintah
Pakar IPB University Dorong Hilirisasi Industri Lobster Nasional
Pakar IPB University Dorong Hilirisasi Industri Lobster Nasional
Pemerintah
Kemenhut : Gap Pendanaan Konservasi Keanekaragaman Hayati Capai 74 Persen
Kemenhut : Gap Pendanaan Konservasi Keanekaragaman Hayati Capai 74 Persen
Pemerintah
Fitoplankton Bisa 'Kunci' Karbon di Lautan hingga Ribuan Tahun
Fitoplankton Bisa "Kunci" Karbon di Lautan hingga Ribuan Tahun
LSM/Figur
Kurangi Macet dan Polusi, Astra Ajak Karyawan Gunakan Transportasi Umum
Kurangi Macet dan Polusi, Astra Ajak Karyawan Gunakan Transportasi Umum
Swasta
KLH: Kawasan Rendah Emisi Bisa Jadi Daya Tarik Wisata, Andong dan Becak Ikonnya
KLH: Kawasan Rendah Emisi Bisa Jadi Daya Tarik Wisata, Andong dan Becak Ikonnya
Pemerintah
Kabar Baik untuk Bumi, Hutan Mangrove Dunia Mulai Pulih Kembali
Kabar Baik untuk Bumi, Hutan Mangrove Dunia Mulai Pulih Kembali
Pemerintah
Program 'SNI Goes to Campus' Dorong Kesadaran Mutu Pangan Nasional
Program "SNI Goes to Campus" Dorong Kesadaran Mutu Pangan Nasional
Swasta
Google Targetkan Pasok Air Bersih Lebih Besar dari Konsumsi Pusat Data
Google Targetkan Pasok Air Bersih Lebih Besar dari Konsumsi Pusat Data
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau